Lihat ke Halaman Asli

Erlangga Danny

Seorang yang bermimpi jadi penulis

Kembali ke Al-Quran dan Hadits?

Diperbarui: 30 April 2022   08:45

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Baik, ini adalah tulisan pertama saya yang mungkin temanya agak berbeda dibandingkan dengan tulisan sebelumnya. Kalau sebelumnya, saya lebih cenderung ke tema sosial, kali ini saya akan menulis dengan tema agama. Jelas, agama Islam tentunya.

Istilah kembali ke Al Quran dan Hadits cukup menjadi perbincangan yang hangat di tengah masyarakat kita. Bahkan istilah ini cukup familier hingga ke media sosial. Sebelum kita bahas lebih lanjut, kita perlu mengetahui apa sih Al Quran itu? Apa sih Hadits itu?

Syekh Sholih Al-Utsaimin, seorang ulama masyhur dari tanah Arab dalam kitabnya Ushul fi Tafsiri menjelaskan dengan gamblang mengenai definisi Al-Quran sendiri. Al Quran berasal dari fi'il madhi (dalam bahasa Arab adalah kata kerja bentuk lampau), yakni قرأ berarti membaca. Kata قرآن  merupakan bentuk mashdar jama' dari قرعا.

Secara syar'i, menurut Syekh Sholih Al-Utsaimin, Al Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. melalui malaikat Jibril yang dibuka dengan Surat Al Fatihah dan ditutup dengan Surat An-Naas. Sebagaimana firman Allah ta'ala dalam Q.S. Al-Insan ayat 23 yang berbunyi:

إنًّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيْلَا

Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu (hai Muhammad) Al-Quran secara berangsur-angsur

Lalu, kita berlanjut menjelaskan pengertian Hadits. Para ulama menjelaskan bahwa hadits adalah apa yang disandarkan kepada nabi baik dari perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan) atau sifat penciptaan .(وصف خلقي) Hadits, Khabar, dan sunnah memiliki kesamaan makna. Hanya saja, khabar lebih bersifat umum dan datangnya bisa bukan dari nabi.

Dengan telah berakhirnya pencatatan hadits dan dilakukannya kodifikasi atas hadits-hadits nabi oleh para ulama hadits seperti Imam Al-Bukhori, Imam Muslim, Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, Imam An-Nasa'i dan lain sebagainya, maka selesailah periwayatan hadits itu. Tentu, ulama di zaman sekarang, jikalau mereka ingin mengambil dalil hadits yang shohih, haruslah merujuk kepada kitab-kitab hadits para ulama hadits terdahulu.

Bahkan para ulama sudah mengklasifikasikan daftar kitab hadits yang paling shohih hasil periwayatannya dan berhak jadi rujukan oleh para ulama. Semuanya itu termaktub dalam Kutubus Sittah (kitab-kitab enam). Walaupun ada juga tambahan hingga akhirnya menjadi Kutubu Tis'ah (kitab-kitab sembilan), yakni:

1. Shohih Bukhori

2. Shohih Muslim

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline