Lihat ke Halaman Asli

Sebuah Refleksi tentang Penelitian Interpretative Phenomenological Analysis

Diperbarui: 18 Mei 2021   16:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sebelumnya, ada dua pertanyaan. Pertama, dalam sebuah wawancara, seorang ibu yang anaknya masuk penjara karena tawuran mengatakan "Emm.. waktu itu jantung saya serasa berhenti saat mendengarnya." Apa yang sebenarnya dirasakan oleh ibu itu? Marah? Sedih? Terkejut?

Kedua, peneliti fenomenologis selalu diminta untuk epoche (objektif), namun sejauh mana batasan epoche tersebut? Apakah mempertanyakan "Ah masa sih ibu itu merasa sampai segitunya?" termasuk tidak epoche? Atau jangan sampai situ dulu, deh, memangnya bagaimana sih cara/langkah biar bisa epoche?

Dua pertanyaan tersebut seingat saya belum pernah diajarkan sampai dengan menjalankan penelitian di lapangan. Padahal, sebelumnya saya sudah mengikuti mata kuliah "Metodologi Penelitian Kualitatif" dan "Seminar Proposal".

Dua Sisi Penelitian Interpretative Phenomenological Analysis

Interpretative Phenomenological Analysis atau disingkat IPA merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian kualitatif yang kerap digunakan di dunia psikologi. Sejarahnya dipengaruhi filsafat post-positivisme, dimana asumsi dasarnya adalah bukti empiris tidak selalu sejalan dengan teori. Ini menjelaskan kenapa dalam pendekatan IPA tidak meneliti variabel, karena masih bisa bervariasi (vari able), melainkan sesuatu yang pasti/sudah terjadi (pengalaman, pemaknaan, dll).

Dua "raksasa" fenomenologi yang memengaruhi pendekatan penelitian ini adalah Husserl dengan transendental-nya dan Heidegger dengan Eksistensial-nya. Bedanya dimana? Seingat saya, kalau transendental itu lebih kepada esensi suatu pengalaman, sementara eksistensial lebih menekankan pada ke-ada-an di dunia.

Sesuai namanya, fenomenologi memfokuskan diri pada fenomena yang dialami seseorang. Paradigma berpikir dalam pendekatan fenomenologi sendiri adalah pengalaman membentuk individu dan individu tersebut turut menciptakan pengalamannya juga. Oleh karena itu, dalam penelitian fenomenologi tidak ada pengalaman yang benar atau salah.

Meski demikian, juntaian pengalaman yang sangat banyak tersebut kemudian akan dipadatkan untuk diambil "intisari"-nya. Dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pendekatan yang memungkinkan adanya dual-interpretation, dimana seorang peneliti menginterpretasikan interpretasi seseorang atas pengalamannya sendiri.

Menjawab pertanyaan yang diajukan sebelumnya, frasa "jantung saya serasa berhenti" yang keluar dari mulut seorang ibu untuk menggambarkan responsnya ketika mendengar anaknya masuk penjara merupakan interpretasi dari pengalamannya sendiri. Di sini intuisi seorang peneliti IPA dibutuhkan untuk mengetahui apa yang sebenarnya ibu itu rasakan ketika mendengar kabar tersebut.

Andaikan peneliti mengatakan bahwa itu merupakan ekspresi dari perasaan terkejut, karena "jantung berhenti" biasanya karena kejutan, apakah interpretasi peneliti atas perasaan ibu tersebut pasti 100% benar? Belum tentu juga. 

Pekerjaan peneliti IPA itu seperti peneliti sejarah. Ada peneliti sejarah yang mengatakan Pangeran Diponegoro berperang karena melawan kolonialisme, tapi ada juga yang mengatakan ia marah karena sebagai pangeran, ia harus mempertahankan kekuasaannya. Ini, boleh dibilang, adalah salah satu kelemahan pendekatan IPA.

Meski demikian, kelebihan pendekatan IPA adalah kita bisa mendapat gambaran yang benar-benar luas serta holistik. Walaupun IPA mencari pola kesamaan pengalaman, namun keunikan setiap individu bisa ditangkap dengan baik. Tidak ada yang namanya margin of error, karena sejak awal memang tidak dibuatkan margin-nya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline