Lihat ke Halaman Asli

Apes, AHY Disalip Gibran, Diintip Raffi Ahmad dan Agnes Mo

Diperbarui: 14 Februari 2021   21:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Wartaekonomi.co.id


BEBERAPA waktu belakangan bisa disebut, Partai Demokrat bukan lagi partai politik yang kuat dan disegani. Bahkan tak berlebihan, partai berlambang mercy ini juga tidak memiliki taring untuk menggigit dan menjatuhkan lawan-lawan politiknya. 

Cukup banyak faktor yang mengakibatkan Partai Demokrat tak ubahnya partai medioker biasa. Di antaranya, terlalu euforia saat sedang berada di atas awan, hingga lupa turun ke bumi. Artinya, ketika mereka berkuasa langsung lupa daratan. Para petinggi partai begitu gampang terjebak dalam pusaran kasus-kasus korupsi, hingga mengantarkannya jadi pesakitan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Kemudian, Partai Demokrat semakin terpuruk saat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) lengser dari jabatannya sebagai presiden. Mereka terjun bebas, dari 20 persen lebih perolehan suara sah nasional pada pemilu 2009 menjadi tinggal 10 persen saja pada pemilu 2014. Lima tahun kemudian, lebih parah. Partai yang didirikan pada 9 September 2001 tersebut hanya meraih 7 persen lebih saja. Ini membuktikan, Partai Demokrat sudah kurang dipercaya masyarakat. 

Guna mengubah image negatif dan menjadikan Partai Demokrat lebih fresh dengan gaya kepemimpinan baru, diangkatlah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai ketua umum pada Maret 2020 lalu. Namun, sepertinya harapan itu belum bisa benar-benar terwujud. 

AHY yang diharapkan mampu menampilkan wajah partai yang berbeda, nyatanya masih setali tiga uang. Mantan tentara dengan pangkat terakhir mayor ini ternyata malah meniru gaya kepemimpinan ayahnya sendiri. SBY. Selalu bermain playing victim dan baperan. Bahkan, narasi-narasi yang mereka produksi akhir-akhir ini tak ubahnya gosip murahan. 

Sebut saja, menuduh KSP Moeldoko hendak mengambilalih posisi AHY di Partai Demokrat. Padahal, sebagaimana banyak beredar di media massa mainstream, ada beberapa kader partai yang konon kabarnya sudah tidak sejalan dengan tipikal kepemimpinannya. 

Jika benar, AHY memang benar-benar apes. Belum genap setahun mendapat warisan kursi ketua umum sudah digoyang dengan isu-isu tak sedap. Drama kudeta salah satu bukti bahwa ada yang salah dengan gaya kepemimpinannya. 

Nasib apes AHY tak berhenti di situ. Ambisinya maju Pilpres 2024 dengan menjadikan Pilgub DKI 2022 sebagai batu loncatan, terancam batal. Pasalnya, kemungkinan besar suksesi kepemimpinan di ibu kota tidak akan terlaksana pada tahun 2022, lantaran revisi undang-undang pemilu sepertinya batal digelar. Padahal, menjadi Gubernur DKI Jakarta, bagi AHY jelas sangat penting guna mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya

Jika sudah begitu, alih-alih mewujudkan mimpinya menjadi pimpinan daerah menuju pilpres 2024, AHY malah disalip oleh Gibran Rakabuming Raka. Putra sulung Presiden Jokowi itu sebenarnya belum lama terjun dalam dunia politik, tetapi sudah diganjar dengan jabatan sebagai Wali Kota Solo. Sementara, AHY saat maju Pilgub DKI 2017 berkakhir dengan kegagalan. 

Isu terakhir mungkin agak berlebihan. Gibran yang belum belum bertugas sebagai Wali Kota Solo sudah ramai dibicarakan bakal maju pada Pilgub DKI Jakarta. Entah itu tahun 2022 atau 2024. Bahkan, Gibran diprediksi mantan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono bakal menjadi calon lawan berat Anies Baswedan. 

Lepas benar tidaknya pendapat Arief Poyuono. Yang jelas, nama AHY lagi-lagi tidak termasuk dalam hitungan sebagai calon atau kandidat kuat dalam ajang Pilgub DKI. Apes memang. Kursi Ketua Umum Partai Demokrat tidak mampu menjadikannya sebagai tokoh yang disegani dan diperhitungkan. Untuk hal ini, lagi-lagi Gibran berada di atas angin. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline