Lihat ke Halaman Asli

Efa Butar butar

TERVERIFIKASI

Content Writer

G-Squad di Tengah Masyarakat Minim Gerak

Diperbarui: 7 Januari 2019   01:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto: DokPri

Berkaca dari kehidupan sehari-hari, berangkat ke kantor tepat pukul 07.00 dan pulang ke rumah pukul 17.00 WIB kadang lebih. Mengandalkan transportasi umum, Commuter line, memang, perjalanan menuju kantor dan sebaliknya bisa ditempuh masing-masing hanya 1 jam saja.

Waktu yang tergolong singkat, karena jika harus dibandingkan dengan menggunakan Transjakarta, meski memiliki jalurnya sendiri, kemacetan tetap tak dapat dihindari.

Masyarakat JaBoDeTaBek tentu sudah tak lagi asing dengan kehidupan ber -- KRL. Berdesakan, sesak, saling himpit, dan saling jaga barang bawaan serta diri masing-masing khususnya bagi penumpang wanita sudah menjadi makanan sehari-hari agar terhindar dari kemungkinan-kemungkinan penumpang pria yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hal yang memalukan.

Walau telah menjadi kebiasaan, kondisi ini sesungguhnya sangat menyita energi. Belum lagi setumpuk pekerjaan yang tak kunjung selesai dari kantor memengaruhi mood dan keinginan untuk bersosialisasi.

Ada banyak kekhawatiran yang perlu dijaga saat mood masih buruk namun tetap memaksakan diri untuk saling berkomunikasi dengan orang lain, seperti: Nada suara yang tak "santai", menerjemahkan setiap ucapan yang diterima sebagai ucapan negative, mendengarkan orang lain tidak sepenuhnya sehingga terkesan tidak menghargai, dan masih banyak hal tak baik akibat pengaruh mood yang tak baik pula dalam bersosialisasi.

Kalau sudah begini, rasanya me time dan jauh dari keramaian adalah solusi terbaik untuk tidak menyakiti hati siapapun dan diri bisa lebih tenang. Me time yang kerap dilakukanpun tak jarang adalah tidur seharian atau bermalas-malasan di rumah. Benar-benar jauh dari gangguan dan keributan sebelum weekend berakhir dan Senin kembali menyapa lalu rentetan aktivitas di atas kembali terulang.

Begitulah setiap minggu berlalu. Tidak ada aktivitas mencolok yang dapat dilakukan sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan diri sendiri. Bagaimana tidak? Bahkan untuk menuju kantor yang jaraknya terbilang dekat dari stasiun saja harus mengandalkan ojek online yang sudah sangat mudah untuk ditemukan, belum lagi harganya lumayan terjangkau ditambah pula dengan embel-embel
promo yang hadir setiap minggunya.

Seharian di kantor ya hanya fokus pada kerjaan, mata di layar komputer lalu kadang beralih ke HP. Hanya sesekali terlepas dari dua perangkat tersebut, yakni ketika bercengkerama dengan rekan kantor, ketika ke kamar kecil, atau saat mengambil air minum. Tidak ada sedikitpun gerakan yang membantu keluarnya keringat. Naik turun kantor? Tak perlu repot-repot, toh sudah ada lift kan?

Jadi, tidak heran jika mendengar kabar bahwa pekerja semacam ini tiba-tiba sakit ini, sakit itu meski sebelumnya terlihat sehat-sehat saja. Bagaimana mau mempertahankan kesehatan jika untuk olahraga saja tidak pernah ada waktu? Atau lebih tepatnya, tidak pernah mau memberi waktu?

Padahal, hasil penelitian FINRISK Studies menemukan bahwa orang yang hanya melakukan aktivitas ringan seperti duduk di depan meja, membaca buku, dan menonton televisi tanpa bergerak secara rutin berpeluang lebih besar untuk mengalami obesitas.

Dikutip dari laman Kemenkes, Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), mengajak masyarakat terutama generasi muda untuk tidak malas bergerak. "Kita harus bergerak untuk sehat!" ujarnya. Menteri kesehatan menyarankan setiap orang untuk berjalan setidaknya 30 menit setiap hari.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline