Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Zulfadli

TERVERIFIKASI

Catatan Ringan

Pengalaman Menonton Panahan Asian Games

Diperbarui: 12 September 2018   06:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Berfoto bersama Riau Egha Agatha, pemanah Indonesia peraih medali perunggu Asian Games 2018 (dokumen pribadi)

Tanpa bermaksud menyampingkan cabang olahraga lain, panahan, tidak bisa dimungkiri, punya kenangan hebat dalam sejarah olahraga Indonesia.

Dari cabang olahraga panahan, kontingen Indonesia mendapatkan medali pertama (perak), dan mengibarkan bendera Merah-Putih di podium juara pada ajang Olimpiade Seoul 1988. Penantian panjang selama 36 tahun sejak keikutsertaan Indonesia di Olimpiade Helsinki 1952.

Peristiwa bersejarah bertempat di lapangan Hwarang, Seoul, pada tanggal 1 Oktober 1988, saat tiga Srikandi Indonesia, yaitu, Nurfitriyana Lantang, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani, di nomor beregu putri berhasil mengalahkan trio pemanah Amerika Serikat, dan memboyong medali perak ke Indonesia. Ketiganya disambut pahlawan karena telah mengharumkan Indonesia di tingkat elit dunia sebagai negara peraih medali di ajang tertinggi, Olimpiade.

Tujuh tahun usia saya saat itu, belum memahami benar prestasi luar biasa tersebut. Untuk bisa menembus ruang dan waktu merasakan atmosfer hampir tiga dekade silam, saya senang ketika sutradara Imam Brotoseno mengangkat perjuangan momen perak Seoul '88, ke layar lebar yang berjudul 3-Srikandi (2016).

Dari film biopik yang menggugah jiwa nasionalisme tersebut, ternyata saya baru mengetahui ada kisah tragis sekaligus mengharukan tentang Donald Pandiangan (1945-2008), pelatih yang mengantar kesuksesan tiga pemanah putri kita.

Donald, tak diragukan lagi merupakan pemanah putra terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, dia dijuluki Robin Hood dari Indonesia. Sebelum Seoul '88, Donald adalah atlet Indonesia yang paling terpukul saat pemerintah Indonesia memutuskan ikut memboikot Olimpiade Moskow 1980, sebagai bentuk solidaritas negara-negara muslim, karena Uni Soviet menginvasi Afghanistan beberapa saat menjelang Olimpiade.

Empat tahun sebelumnya di Olimpiade Montreal 1976, Donald bertanding namun dia gagal, dan di Moskow 1980-lah kesempatan terbaik untuk meraih medali pertama Olimpiade untuk Indonesia. Sayang, harapan itu terempas karena alasan politis.

Sangat manusiawi jika Donald murka, pergi jauh, menghilang dari panahan dan olahraga. Sampai pada saatnya dia berdamai dengan hatinya, bahwa dia masih punya harapan dan ambisi untuk mengangkat derajat bangsa Indonesia di ajang Olimpiade, dengan peran lain, sebagai pelatih. Inilah takdir si-Robin hood.

****

Dengan kisah epik Donald dan tiga dara anak asuhnya, menciptakan ikatan emosional dan menggugah rasa nasionalisme saya sebagai warga dan penggemar olahraga (panahan), maka venue Lapangan Panahan Senayan, GBK, menjadi daftar wajib disambangi ketika saya menyusun jadwal menonton Asian Games 2018. Terlebih lagi prestasi pemanah kita cukup baik, peluang meraih medali sangat besar.

Perlahan saya mulai ngefans sama Riau Ega Agatha, pemanah asal Blitar berusia 26 tahun ini adalah pemanah kelas dunia. Riau tampil mengejutkan di Olimpiade Rio 2016 saat mengalahkan pemanah nomor satu dunia asal Korea Selatan Kim Woo Jin, pada babak kedua perseorangan nomor rekurva tunggal putra. Meski langkahnya terhenti sebelum meraih medali pada debutnya di Olimpiade.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline