Lihat ke Halaman Asli

Christie Damayanti

TERVERIFIKASI

Just a survivor

Selamat Datang di Bakminya 'Wong Jowo'

Diperbarui: 25 Juni 2015   21:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

By Christie Damayanti

[caption id="attachment_157960" align="aligncenter" width="650" caption="Dokumentasi pribadi"][/caption]

Sekitar jam 9.00 malam, kami baru sampai di Yogyakarta. Perjalanan dari Jaarta sampai Yogyakarta, kami tempuh dalam waktu 13 jam dengan mengendarai mobil lewat jalur selatan dengan santai, pun selalu hujan, sejak jam makan siang. Tidak lebat tetapi selalu rintik2 ( shower ). "Not bad", begitu pikirku .....

Setelah sampai, sebelum masuk ke tempat kami bermalam di Wirotomo, kami bermaksud mencari malan alam. Dan sasaran wisata kuliner malam kami pertama adalah 'Bakmi Jawa', dimana merupakan salah satu kuliner hobi kami. Bakmi Jawa di Yogya ini, menurut banyak orang, termasuk papaku, merupakan binaan dari mendiang keluarga pak Harto. Aku ingat, jika beliau ke Yogya atau melakukan hajatan di Yogya, pun di Jakarta, hampr selalu memboyong Bakmi Jawa ini untuk satu pojok makanannya.

Resto nya tidak berubah, sejak pertama kali aku kesini, sewaktu aku masih kecil.. Menempati rumah desa tetapi agak luas, dengan konsep yang terbuka,  memberikan tempat yang lega dan luas bagi pelanggannya. Begitu masuk, kami disambut oleh pengamen2 yang cukup profesional, menggunakan gitar, biola dan ukulele, termasuk 'mike' untuk penyanyinya. Konsep mengamennya, dengan musik keroncong, tetapi lagu2nya lagu barat, seperti Besame Mucho, Hawaiian Wedding Song, Greenleaves atau My Way ...... sangat romantis .....

Pengamen2 profesional dengan menggunakan biola, gitar dan ukulele, menyanyikan lagu2 barat romantic dengan iringan keroncong .....

Aku sedikit membayangkan makan malam dengan seseorang .....

Bakmi Jawa sendiri ini, merupakan bakmi biasa, tetapi bumbunya memang enak. Dengan memesan 4 porsi bakmi godog ( bakmi rebus ) dan 2 porsi bakmi goreng serta masing2 minum teh manis, kami dimanjakan suara dan musik merdu dari pengamen2 tersebut. Aku mengamati suasana rumah tua yang dijadikan resto ini. Memang sudah tua, dan sedikit kurang terawat. Tetapi, jujur tempat seperti iniah yang kami - terutama aku - cari. Rumah tua sebagai resto seperti iniah yang merupakan khas Yogyaarta. Bangunan2 desa  dengan tiang2 'soko guru' merupakan konsep arsitektur Jawa.

Lantainya tidak dirawat dengan baik. Dengan pelapis lantai adalah 'ubin' yang sudah kehitaman, sebenarnya sangat disayangkan. Jika bangunan ini dirawat dengan baik, pasti akan lebih mengundang suasana yang 'nJawani', dan lebih banyak mengundang banyak turis2 kuliner seperti kami. Karena aku tahu, komunitas kuliner Jawa Jogja termasuk Bakmi Jawa ini, di Jakarta cukup banyak. Paling tidak, keluargaku sering mencari Bakmi Jawa di Jakarta. Yang paling mendekati seperti yang di Yogya adalah Bakmi Jawa di Jalan Bendungan Hilir, Jakarta.

Suasana sekeliling resto ini. Konsep resto dengan ruang makan yang luas membuat nyaman para pelanggan.

Di sebuah pojok resto ini, terdapat foto sepasang suami istri, mungkin merekaah yang 'menurunkan' resep 'Bakmi Jawa' seperti ini. 2 buah foto hitam putih agak besar, sangat kontras dengan dinding yang sudah berwarna putih suram. Beberapa foto lainnya, mungkin setelah berdirinya bisnis keluarga ini.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline