Lihat ke Halaman Asli

Christie Damayanti

TERVERIFIKASI

Just a survivor

Menulis Merupakan 'Pelarian'ku: Ternyata Membuka Kesempatan untuk Mengejar Mimpi-Mimpiku

Diperbarui: 23 Juni 2015   23:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumen Valentino

By Christie Damayanti

[caption id="" align="aligncenter" width="565" caption="Dokumen Valentino"][/caption]

Semua manusia diberi talentanya masing2, aku sangat percaya itu. Tuhan adalah Maha Kasih dan Maha Segala2nya. Masing2 manusia harus mencari apa yang dimilikinya, apa talentanya dan bagaimana mengembangkan talenta tersebut untuk kehidupannya. Dan lebih jauh lagi, bagaimana talentanya tersebut bisa untuk melayani dan memuliakan Nama Tuhan .....

Untuk mencari talenta pun ternyata gampang2 susah. Mungkin jika seseorang memang merasakan keinginannya yang mendalam tentang sebuah pekerjaan, bisa jadi itulah talentanya. Atau kebalikannya. Belum tentu, maksudku. Seperti aku yang dari dulu ingin menjadi seorang arsitek, ternyata sekarang aku merasakan sebuah sensasi yang luar biasa dalam bekerja sebagai seorang arsitek. Keinginanku meluap2 ketika aku mendesain atau membangun sebuah bangunan untuk masyarakat. Dan hasilnya mempunyai nilai lebih, bukan hanya karena desainnya yang indah saja, melainkan kenyamanan dan keinginan masyarakat untuk senang berada di bangunan tersebut.

Dan aku merasa talentaku benar2 ada di dunia arsitektur serta dunia konstruksi, sehingga sudah 20 tahun lebih aku malang melintang di dunia ini dengan nyaman dan bahagia!

Tidak terpikir padaku ketika aku terserang stroke. Aku yang sebelumnya memang terus berada di dunia arsitek dan konstruksi, pada kenyataannya fisikku tidak mampu lagi untuk berada disana, dengan kelumpuhan 1/2 tubuh kananku. Sehingga aku 'terpuruk' ditengah2 mimpiku untuk terus bisa menjadi seorang arsitek di dunia konstruksi.

Tetapi ternyata, Tuhan memberikan aku sebuah talenta lain, yang 180 derajat berbeda dari talentaku sebagai seorang arsitek. Aku mulai menekuni sebagai seorang penulis amatir. Bukan untuk mencari penghidupan tetapi mulainya hanya dari sebuah 'pelarian' karena tidak mampu bergerak lebih, dari hanya duduk untuk membaca dan menulis.

'Pelarian' itu menjadi sebuah terapi untuk otakku. Benar2 terapi otak, ketika aku mrnyadari bahwa aku lebih bisa menulis dibanding berbicara karena syaraf2 bicaraku masih terkena dampak serangan strokeku, dibanding dengan syaraf2 menulis.

Dan dari terapi menulis, menjadikan sebuah hobi dimana jika tidak menulis 1 artikel saja, maka semangatku akan hilang .....

Kekuatan menulis sudah sejak lama aku rasakan.

Lihat tulisanku 3 Tahun di Kompasiana, Apa yang Aku Dapat? Pertanyaan Bodoh!

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline