Lihat ke Halaman Asli

Eko Nurhuda

TERVERIFIKASI

Pekerja Serabutan

Seperempat Abad yang Disia-siakan Pengurus PSSI

Diperbarui: 10 Januari 2023   17:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

FOTO: AP/Nguyen Manh Quan via cnnindonesia.com

ADA satu cuitan lucu di Twitter yang membuat saya ngakak tadi malam. Lumayanlah sebagai penghiburan usai menyaksikan kekalahan timnas Indonesia dari tuan rumah Vietnam di partai kedua semifinal Piala AFF 2022.

Saya lupa-lupa ingat, tetapi kurang-lebih begini kalimat si empunya cuitan: Ya Tuhan, tolonglah kasih kesempatan liat timnas jadi juara. Dari SMP sampai sekarang punya anak 2, Piala AFF saja enggak pernah menang.

Sayangnya saya tidak men-screenshot cuitan tersebut. Saya sudah lama tidak main Twitter, punya akun pun kena gembok sejak kapan tahun entah karena alasan apa. Jadi, saya tidak bisa memberi love maupun me-retweet, padahal sangat ingin.

Bukan apa-apa, saya merasa senasib dengan si pembuat cuitan tersebut. Jika dia dari SMP, maka saya baru mulai mengikuti kiprah timnas Indonesia semenjak masuk SMA Negeri 1 Muara Bulian pada tahun 1997.

Orang tua saya tinggal di Sungai Bahar. Tempat ini hanya kira-kira 30 kilometer dari Muara Bulian. Namun buruknya sarana jalan plus minimnya jasa angkutan yang menghubungkan kedua tempat, membuat saya tidak mungkin ulang-alik setiap hari.

Maka saya musti mencari tempat kos di Muara Bulian. Karena merantau ke ibukota Kabupaten Batang Hari itu jugalah saya jadi bisa menikmati listrik dan tentunya menonton siaran televisi, serta membeli koran dan majalah.

Final SEA Games 1997

Minat saya pada sepak bola dimulai sejak saat ini. Ketularan teman-teman sekelas juga teman satu kos yang hobi baca Tabloid BOLA dan selalu membahas tentang pertandingan Serie A setiap hari Senin. Mulanya hanya ikut mendengarkan, lama-lama jadi tertarik.

Bertepatan dengan saat saya masuk SMA, Indonesia sedang jadi tuan rumah SEA Games 1997. Partai timnas pertama yang saya saksikan adalah final cabang sepak bola turnamen ini. Tepatnya laga Indonesia vs Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

18 Oktober 1997 tanggalnya. Saya ingat betul, ketika itu Indonesia bermain imbang 1-1 dengan Thailand. Skor seri berlanjut hingga babak tambahan habis dimainkan. Penentuan juara lantas dilanjutkan dengan adu penalti.

Di sinilah keseruan sesungguhnya. Entah memang bermental kerupuk atau memang kualitas para pemain kita yang kurang, Indonesia kalah adu penalti. Thailand keluar sebagai juara.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline