Lihat ke Halaman Asli

Bung Amas

Kolektor

Politik Tabur Tuai

Diperbarui: 7 Juli 2020   04:15

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Imbas dari kejahatan politisi, ilustrasi (Foto Kumparan.com)

Tidak selamanya politik itu kejam, tidak selamanya politik itu menyenangkan. Jalannya politik memang fluktuatif, selalu penuh dengan dinamika. Praktek politik aktual memang melahirkan karakter politisi yang pendendam. Politisi yang sering melabrak batas tradisi, hal yang dianggap tabu mereka menabraknya. Sering juga hal-hal yang dianggap begitu 'agung' dan 'suci' dalam aktivitas kemasyarakat mereka politisir menjadi modal politiknya. Relatif unik memang sepak terjangnya.

Seperti kita ketahui, hukum tabur tuai dalam politik sudah menjadi ketentuan Tuhan. Bahwa siapa yang menabur, dia yang akan menuai hasilnya. Hal penting ini sering kali diabaikan para politisi. Bagaimana pun hukum tabur tuai atau yang kita kenal dengan hukum karma memang selalu terjadi dalam hidup kita. Tak menunggu setelah berpindah ke alam akhirat, di dunia saja kita pasti menemukan karma sebagai teguran atau imbalan atas apa yang kita lakukan terhadap orang lain.

Para politisi berbondong-bondong melakukan tebar pesona, mencari perhatian publik. Tapi sering kali lupa, praktek pamer yang dilakukan itu kadang menginjak dan membohongi pihak lain. Contohnya saja, dana dari program pemerintah yang diprioritaskan kepada masyarakat dimanfaatkan atau direkayasa untuk kepentingan mereka. Selain itu, sesuatu yang bukan menjadi hak politisi, diambil alih untuk kepentingannya. Begitu juga seterusnya proses hegemoni yang dilakukan.

Politik tabur tuai mesti menjadi peringatan dan pelajaran bagi politisi. Ayo kita lihat ragam kejadian begitu banyak politisi terjatuh, diingkari, dihianati kawan juangnya. Menghajar kawan menebar fitnah, akhirnya keselamatan politiknya pun terhenti, ia membuat ranjau untuk dirinya sendiri. Politisi perusak kawannya, pada level berikut dihianati orang lain. Mereka yang menjahati orang lain, akan dijahati tentunya. Praktek tabur tuai dalam politik selalu hidup dan abadi, meski para aktor politiknya berganti.

Ada politisi yang membunuh karakter politisi lainnya, pada situasi yang lain dia dibunuh juga karakternya. Entah oleh siapa. Para preman kelas kakap saja yang biasa menghilangkan nyawa orang lain dengan pisau atau pistol (sajam), atau meninggal dengan cara-cara mengenaskan. Kebanyakan pembunuh, matinya juga dibunuh. Ketika dunia ini dipandang dengan perspektif kejam, ia juga akan mengakhiri hidupmu dengan kejam pula. Membinasakan masa depan orang, tentu mereka menuai hasilnya pula dibinasakan.

Kejadian-kejadian menyeramkan tentang 'pembunuhan' tersebut mesti mengilhami, menjadi pelajaran bagi politisi agar berfikir layaknya manusia berakal. Bagi manusia berakal kejahatan merupakan musuhnya, kebaian adalah kawannya. Bahkan kebaikan dijadikan sebagai jati dirinya, bagian dari nyawa hidupnya. Sehingga ia hidup penuh kasih sayang, orang-orang pun memandangnya dengan kasih sayang. Hukum tabur tuai begitu adanya, kita terbiasa santun pada orang lain, akan berbalik orang lain santu pada kita.

Politisi pun harus begitu. Berbuatlah untuk masyarakat, jangan pernah pamrih dan meminta dibalas. Jika kebaikan dan keagungan perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, menjadi bagian dari dirinya, maka Tuhan akan membuka jalan baginya untuk menjadi penyejuk bagi alam semesta. Lalu, orang-orang akan terinspirasi dari yang dilakukan, mereka mendoakannya dan meniru perbuatan baiknya itu.

Tidak sulit sebetulnya. Politisi berperilaku baik akan dikagumi, disanjung dan dihormati, kawan bahkan lawan politiknya. Ketika ia berteguh pada kemuliaan hati, politisi tersebut tentu menuai kebaikan-kebaikan yang datang dari seluruh penjuru kehidupan. Situasi yang sepadan juga akan dialami para politisi jahat, tidak menghormati hak-hak masyarakat. Mereka yang menjadi politisi ingkar janji, tentu akan diingkari masyarakat nantinya.

Tidak akan lari hukum tabur tuai dari perilaku kita sendiri. Untuk politisi yang berpura-pura menjadi pikun, akan menghadapi realitas yang sama. Ia akan mendapati masyarakat yang berpura-pura pikun akan pemberiannya. Maka sebelum hal itu datang, atau sebelum para politisi jauh terjerumus pada 'rimba kejahatan', mereka harus melakukan antisipasi dan berkontemplasi dengan insiden-insiden politik yang terjadi kemarin dan saat ini yang kita saksikan di media massa, bahkan terjadi disekitaran kita.

Jahatnya lagi bila politisi yang menjadi wakil rakyat atau top eksekutif lalu mengembangkan perilaku maling. Hak rakyat untuk memperoleh pembangunan mereka curi (korupsi), memperkaya diri dan melupakan mandat yang diberikan rakyat. Hukum tabur tuai tentu mengintai mereka. Balasannya seperti terjeratlah mereka dalam pusaran kasus korupsi. Mereka yang mencuri akan dicuri pula kenyamanannya, mereka menjadi tidak bahagia hidupnya.

Mereka yang menjadi politisi, memakan hak-hak masyarakat akan mudah diserang penyakit. Ada politisi yang kara raya, disaat tua akhirnya sakit-sakitan. Begitu juga pelajaran berharganya, politisi yang akhirnya menjadi 'purnawirawan', dengan husnul khatimah. Bukan dengan proses menyedihkan seperti mendapat penyakit stroke, cuci darah, dan penyakit menular lainnya, kemudian meninggal secara tersiksa. Politisi curang juga begitu, akan dicurangi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline