Lihat ke Halaman Asli

Hasto Suprayogo

Hasto Suprayogo

Tak Semua Trend Social Media Mesti Diikuti

Diperbarui: 23 November 2021   17:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Sebuah akun social media berlambang burung biru mengunggah sebuah cuitan menarik. Menarik sekaligus menyedihkan. Di mana di sana, pemilik akun ini membagi cerita singkat penipuan yang dialami kawannya. Singkatnya, sang kawan ditelepon orang tak dikenal dan memintanya mengirimkan uang ke pelaku. 

Bagaimana bisa di korban mau melakukannya? Tak lain tak bukan karena pelaku penipuan menggunakan panggilan masa kecil sang korban yang hanya diketahui orang-orang terdekatnya. Sang korban baru sadar tertipu setelah ingat bahwa dia baru saja ikut sebuah challenge di salah satu platform social media bersimbol shutter kamera.

Di challenge tersebut, publik ditantang untuk membagi informasi nama panggilannya? Yes, dan si korban akhirnya bisa merangkai benang merah dari mana orang tak dikenal yang meneleponnya bisa tahu panggilan masa kecilnya.

Bodoh? Naif? Konyol? Mungkin sebagian besar kita akan berkomentar seperti itu. Serta mungkin sebagian besar kita akan dengan percaya diri menyebut tak akan berada di situasi macam itu. Mana mungkin, demikian bisa saja Anda berpikir sambil berdecak tak percaya.

Well, saya punya sebuah argumen mengapa penipuan tadi bisa terjadi dan apa underlying issue yang menyebabkan sang korban jatuh terperangkap.

Trend di social media macam di atas bekerja dengan asumsi bahwa sebagian besar kita--khususnya pengguna social media--punya tendensi untuk selalu mengikuti trend. Kecenderungan yang disebut FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan ketinggalan. Ketinggalan apa? Ya ketinggalan trend tadi? Takut disebut kurang update. Takut dianggap kurang gaul, dan semacamnya. Bahkan jika trend itu bisa dibilang ga berguna, konyol, bodoh atau bahkan absurd.

Nah, memanfaatkan tendensi sebagian kita macam ini, digunakanlah pendekatan social hacking. Yaitu metode untuk menghack atau masuk mengeksploitasi kelemahan tadi demi suatu kepentingan. Dalam kasus ini adalah kepentingan kejahatan penipuan. Social hacking bisa dipakai untuk kepentingan lain, bahkan pendekatan serupa banyak dipraktekkan di dunia marketing untuk menjual produk dan kampanye pemasaran lain.

Anyway, pelaku penipuan tadi bisa jadi bukan pihak yang menginisiasi challenge berbagi informasi pribadi pengguna social media. Tapi yang pasti, mereka cerdik memanfaatkan dan mengeksploitasi informasi yang dibagi sukarela--tanpa sadar bahaya--oleh korbannya.  Dan voila, ujungnya ada yang menangis hari ini karena kehilangan uang akibat bujuk rayu penipun yang simsalabim terdengar akrab memanggil nama kecil korban.

Apa moral lesson-nya?

Satu yang penting dan musti dipegang siapapun--khususnya pengguna social media--di manapun berada. Tak semua trend social media musti diikuti!

Ketika semua orang dalam circle pergaulan digital Anda mengikuti suatu challenge bukan berarti Anda musti ikutan. Ketika semua orang di circle Anda joged-joged tidak jelas di platform video pendek asal China tidak berarti Anda musti ikutan joged tidak jelas. Ketika semua orang pamer foto liburan di luar kota dan mentagging lokasi dan tanggal terkini bukan berarti Anda musti memamerkan hal serupa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline