Lihat ke Halaman Asli

Hasto Suprayogo

Hasto Suprayogo

Belajar Bahagia ala Dalai Lama

Diperbarui: 24 Januari 2019   21:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Buku Dalai Lama (HastoSuprayogo.com)

Saya menemukan buku bagus. Judulnya The Art of Happiness, a Handbook For Living. Karya bersama Dalai Lama dan Howard C. Cutler. Sesuai judulnya, buku ini mengupas seni meraih kebahagiaan dalam hidup, tentunya berdasar pandangan sang figur spiritual utama umat Buddha Tibet tersebut.

Menurut Dalai Lama, hal utama dan pertama yang musti dipegang adalah tujuan hidup. Apa tujuan hidup manusia selama di dunia. Dalai Lama menyebut kebahagiaan adalah tujuan hidup setiap manusia. Karenanya, segala daya upaya musti dicurahkan untuk mencapai kebahagiaan tadi.

Tapi apa itu bahagia?

Menurut sosok yang terlahir dengan nama Tenzin Gyatso ini, kebahagiaan adalah terbebaskannya manusia dari segala belenggu penderitaan. Tentunya ini sejalan dengan doktrin Buddhism soal pencerahan dan nirvana.

Nah, lebih lanjut, pria 83 tahun ini mewanti-wanti untuk membedakan antara kebahagiaan (happiness) dengan kesenangan/kenikmatan (pleasure). Di mana dia mengatakan kebahagiaan lebih bersifat kekal dan non fisikal, sementara kenikmatan seringnya temporal dan fisikal.

Jangan terjebak pada mengejar kesenangan fisik sesaat semata, macam makanan, minuman keras, drugs, seks dan semacamnya. Namun kejarlah kebahagiaan jangka panjang berupa ketenangan, kemanusiaan, solidaritas dan sejenisnya.

Kemudian Dalai Lama ke 14 ini memberi wejangan bagaimana cara mencapai kebahagiaan tadi. Kuncinya, menurut pemimpin agama yang terpaksa mengasingkan diri ke India sejak negerinya dikuasai China pada 1959 ini, adalah pengaturan dan latihan pikiran dan mental (mind).

Dia percaya satu-satunya alat untuk bahagia adalah pikiran kita, bukan barang yang kita punyai, jabatan yang kita miliki, orang lain yang kita cintai atau berbagai faktor eksternal lain. Adalah pikiran kita dan bagaimana kita mengkultivasinya untuk memaknai dunia dengan segala silang sengkarutnya yang menentukan kebahagiaan kita.

Untuk bisa mengatur dan melatih pikiran, Dalai Lama menawarkan metode sederhana. Kenali pikiran atau perasaan yang positif dan negatif. Positif di sini yang membangkitkan kebahagiaan, misalnya cinta kasih, kepedulian, kemurahan hati dan sejenisnya. Sebaliknya, negatif misalnya kemarahan, kebencian, kecemburuan dan sejenisnya.

Menurut peraih Nobel Perdamaian tahun 1989 ini, kita bisa menumbuhkan kebahagiaan dengan jalan menguatkan sebanyak mungkin kualitas positif pikiran tadi. Sebagaimana kita bisa juga melakukannya dengan menghindarkan bergejolaknya kualitas negatif pikiran.

Semakin banyak kita menumbuhkan pikiran dan tentunya bertindak positif, semakin positif pula pikiran kita. Ujungnya semakin besar pula tingkat kebahagiaan hidup yang kita rasakan. Bagi Dalai Lama, kebahagiaan ada di tangan kita sendiri. Bukan sesuatu yang datang dari luar apalagi dari entitas suprainsani.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline