Lihat ke Halaman Asli

Arnold Mamesah

TERVERIFIKASI

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Bencana Utang dan Intervensi

Diperbarui: 16 Februari 2016   21:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bencana Neraca

Neraca (Balance Sheet) merupakan sumber informasi yang menggambarkan posisi dan kesehatan keuangan korporasi; dalamnya mencakup kekayaan (assets), kewajiban dan ekuitas (liability & owner equity). Untuk memberikan pemahaman sederhana, ilustrasi berikut menggambarkan bencana neraca yang dialami korporasi.

Pada 2011 korporasi berinvestasi demi perluasan usaha dengan pendanaan melalui penerbitan surat utang jangka menengah 5 (lima) tahun (MTN : Medium Term Notes) sebesarnya USD 10 Juta pada 2011 dengan bunga (interest) 6%. Seandainya hingga 2015 korporasi hanya membayar bunga sebesar (5%-6%) per tahun, pada akhir 2015 atau awal 2016 nilai kewajiban utangnya dalam Rupiah menjadi lebih dari satu setengah kali. (Lihat Grafik-1 - sumber kurs tukar : Bank Indonesia - Calculator)

Peningkatan jumlah terjbadi akibat depresiasi nilai tukar Rupiah (IDR) terhadap Dolar Amerika (USD).

Sebagai gambaran, kondisi Neraca korporasi (dengan penyederhanaan) sebelum penerbitan MTN pada 2010, saat penerbitan MTN pada 2011 dan akhir 2015 diberikan pada Tabel-2. 

 


Catatan. Untuk penyederhanaan nilai MTN saat penerbitan USD 10 Juta setara IDR 90 Miliar dan pada 2015 setara IDR 140 Miliar dan penyusutan nilai peralatan ditiadakan.

Mengapa korporasi menerbitkan MTN dalam mata uang asing (USD) ? Alasannya karena suku bunga jauh lebih rendah (5-6%) dan prosesnya lebih sederhana dibandingkan dengan dana perbankan domestik yang suku bunganya dalam rentang 12-13%.

Dari neraca 2011, penggunaan dana dari MTN, sejumlah 50% untuk peralatan pabrik dan 50% lainnya untuk penambahan tanah dan bangunan. Sebagai tambahan, penggunaan dana MTN untuk peningkatan "asset" yang tidak langsung berkaitan dengan peningkatan produksi merupakan tindakan spekulasi; karena berharap "harga" meningkat pesat pada masa mendatang sehingga menambah nilai asset korporasi. (Speculative Bubble)

Misalkan 2011-2013 merupakan masa pembangunan, pada 2014 mulai berproduksi. Dalam 2014-2015, ternyata penjualan atau pendapatan dibawah target sejalan dengan kondisi makro perekonomian. Bahkan harga terpaksa harus dipangkas agar menarik yang berdampak pendapatan tidak sesuai target.

Saat 2016 surat utang tersebut jatuh tempo, korporasi harus menyediakan dana sebesar IDR 140 Miliar untuk menebus surat utang tersebut; suatu nilai yang (mungkin) tidak dapat dipenuhi. Sehingga harus melakukan tindakan misalnya dengan penerbitan surat utang baru sementara mengupayakan pengurangan (pembayaran) sejumlah utang yang kian membebani korporasi. Selain itu, korporasi akan mengurangi atau bahkan meniadakan investasi dan menghindari tambahan utang perbankan, melakukan penghematan dengan pengurangan tenaga kerja,  efisiensi biaya yang dapat berdampak pada pengurangan produksi dengan implikasi penurunan pendapatan serta keuntungan. Jika keadaan ini berlangsung pada sebagian besar dunia usaha maka akan terjadi spiral depresi dengan akibat tingkat pengangguran meningkat serta turunnya permintaan (demand) yang kembali akan menekan pendapatan.

Fenomena peningkatan beban kewajiban korporasi yang dilanjutkan dengan tindakan (1) mengurangi atau meniadakan investasi dan menghindari utang baru dari perbankan; (2) membayar (sebagian) utang; (3) melakukan pengetatan dalam kegiatan usaha dan jika mungkin (4) mengupayakan penghematan agar dapat ditabung untuk membayar utang, disebut sebagai Resesi Neraca (Balance Sheet Recession). Tanpa kegiatan investasi dapat dipastikan pertumbuhan korporasi pada masa mendatang rendah atau bahkan semakin menyusut sejalan dengan depresiasi peralatan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline