Lihat ke Halaman Asli

Agama Membuat Seni Tradisi Menjadi Janggal

Diperbarui: 11 Oktober 2017   20:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Penari Gandrung Banyuwangi. Dok. Yuni Artika.

Sebelum memiliki enam agama seperti  sekarang, dulu penduduk Nusantara punya tradisi dan kepercayaan yang sudah matang. Kepercayaan itu mereka wujudkan ke dalam sebuah menhir, arca, dan sejumlah lukisan gua. Berawal dari sebuah kepercayaan, unsur keindahan yang terbungkus dalam artikulasi seni ikut membuncah kemudian. Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang intinya tertuju pada penghormatan kepada pendahulu.

Meski belum mengenal tulisan namun mereka gemar mengungkapkan perasaannya ke dalam media gambar. Dalam konteks ini, gambar pada masa prasejarah merupakan data arkeologi yang sampai sekarang dapat dijumpai pada sejumlah situs gua di dunia. Keberadaannya memberikan bukti adanya kegiatan hidup manusia di dalam gua.

Berdasarkan penelitian para arkeolog, lukisan tangan di gua-gua prasejarah mempunyai beragam makna, seperti tanda kepemilikan, berkabung, dan penolak bala. Manusia purba dengan cara yang diyakininya telah memberi pemahaman kepada kita bahwa peradaban –yang di dalamnya terdapat seni dan budaya– akan tetap ada dan berkembang meski tanpa agama sekalipun.

Membatasi Imajinasi

Namun ketika agama-agama itu hadir, imaji seni dan budaya (kemudian disebut warisan) ikut terbatasi karena aturan-aturan yang sebagian mengeliminasi kepercayaan atau budaya asli. Barangkali memang benar  apa yang dikemukakan oleh pakar arkeologi bahwa warisan tidak hanya memiliki publik yang tunggal tetapi jamak. Masing-masing merasa punya kepentingan dan ingin mengambil manfaat dari warisan itu.

Hal ini tentu saja wajar, karena sebuah warisan memiliki nilai penting yang berbeda bagi setiap pihak. Ada yang menilai pentingnya suatu warisan dari segi ilmu pengetahuan (untuk pengkajian dan pengujian akademik), etnik (jatidiri dan latar kehidupan suatu masyarakat tertentu), estetik (bukti hasil seni yang adiluhung, maupun publik (kepentingan masyaakat secara umum) termasuk untuk pendidikan masyarakat, daya tarik wisata, serta keuntungan ekonomis dan politis-agamis.

Dari sekian kepentingan yang disebutkan di atas, ada dua hal yang menurut saya mengkhawatirkan yaitu untuk keuntungan ekonomis dan politis-agamis. Hal ini cukup beralasan jika kita mencermati kembali peristiwa sosial yang akhir-akhir ini terjadi. Anda pasti pernah menyaksikan, sebuah pertunjukan seni tradisi baik langsung maupun di televisi yang terkesan janggal. Sebab, para talent atau pemainnya diharuskan memakai manset untuk menutupi bagian tubuh mereka yang terbuka.

Sungguh sulit untuk dipungkiri, fenomena semacam ini menunjukkan bahwa warisan yang sudah ada dipaksa mengikuti aturan agama tertentu yang pragmatis. Selain itu euforia otonomi daerah telah memperparah keadaan. Setiap daerah merasa memiliki hak terhadap warisan tertentu melebihi siapapun. Karena itu, tidak jarang pemerintah daerah menerapkan kebijakan sendiri yang seringkali justru makin membatasi ruang gerak dan imaji seni tradisi, bahkan malah mengikis nilai-nilai warisan budaya sebagai pusaka bangsa.

Belajar dari Seorang Gandrung

Selain terkenal dengan surga pariwisatanya Banyuwangi juga memiliki warisan budaya yang memikat, salah satunya adalah tari Gandrung. Tari ini telah ditetapkan sebagai warisan budaya bukan benda oleh kemendikbud pada 2013 lalu. Untuk mempopulerkannya kembali di kalangan masyarakat Banyuwangi, maka dihelatlah sebuah festival bertajuk Gandrung Sewu.

Dilihat dari segi penampilan, seorang penari Gandrung memakai sejumlah atribut, di antaranya mahkota berhiaskan dua ekor ular berkepala kesatria, busana yang diadopsi dari “kemben”, sampur, dan jarik. Karena prototipe busana yang dipakai adalah mengadopsi “kemben” maka secara otomatis sebagian bagian tubuh penari akan terlihat. Faktor ini kemudian dijadikan alasan, seorang penari Gandrung harus memakai manset.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline