Lihat ke Halaman Asli

Arifin BeHa

TERVERIFIKASI

Wartawan senior tinggal di Surabaya

Memetik "Buah" Pilpres 2019

Diperbarui: 15 April 2019   07:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nur Rahmaan Hasyim memotret parcel Lebaran (DokPri)

Teman saya masih muda. Lulusan Strata 1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Airlangga Surabaya Rumah tinggalnya tak berjauhan dari kediaman saya.

Lulus kuliah bekerja di Bank Jawa Barat Cabang Jawa Timur. Lalu ia tinggalkan. Ikut tes PNS di Komisi Pemilihan Umum. Alhamdulillah lolos, dan ditempatkan di KPUD Kalimantan Utara. Sebuah wilayah perbatasan. Antara Negara Indonesia dengan Malaysia. Saya kira, pilihan ini sudah dipikirnya masak-masak. Sebuah pengabdian untuk Nusa dan Bangsa.

Dia sepantaran anak saya. Pada saat Sekolah Dasar pernah sakit. Orangtuanya menerima ikhlas cobaan itu. Sampai opname di Ruang Syaraf RSU Dr. Soetomo, Surabaya. Tangan dan kakinya sempat diikat. Lantaran bersikeras ingin pulang.

Ujian akhir SD sudah di ambang pintu. Keluarganya minta bantuan saya memotret, untuk keperluan administrasi sekolah. Kedua orangtua tak mungkin membawa anak kecil "pemberontak" ini ke studio foto. Sejak itu dia gemar kamera. Kemudian sama-sama hobi fotografi. Kami jadi dekat. Berkali-kalia tukar pendapat. Terkadang saya selingi candaan. Untuk memompa semangat. Agar dia termasuk insan yang kuat. 

Akhir tahun 2018. Malam hari, persis menjelang libur Hari Natal dia mengirim pesan WhatApps. Membahas macam-macam hal. Termasuk soal Pemilu. Pemilihan Presiden atau Pilpres. Dia 'orang dalam' KPU mestinya lebih tahu dari saya. Sebelum berakhir saya selipkan pesan. Pesan normatif. Tentang kebaikan.

Men..! -namanya Nur Rahmaan Hasyim, tapi saya biasa memanggil: Men). Situasi seperti sekarang perbanyaklah doa. Saya memberi istilah: "doa menyalip di terowongan".

Zaman sekarang. Terlebih jelang Pilpres banyak orang ribut. Gaduh atau kisruh. Tentu saja soal politik. Nah, disaat seperti itu, cepat-cepatlah kita berdoa. Untuk diri sendiri dan keluarga. Pada saat mereka kisruh ruang berdoa sedang kosong. Kita masuk. Menyalip di terowongan.

Dahulu, semasa kecil. Ada permainan. Dua anak saling berhadapan. Masing-masing telapak tangan dipertemukan, membentuk semacam terowongan. Anak-anak lainnya berbaris. Berjalan melewati dua tangan tadi. Seolah-olah menerobos terowongan. Mereka lantas bernyanyi riang. Begini syairnya:

Sapu tangan dikibaskan. 

Terbuat dari kain. 

Bagusnya bukan main. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline