Lihat ke Halaman Asli

Stasiun Semut, Bangunan Bersejarah Peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda yang Kini Ditutup

Diperbarui: 27 Agustus 2022   18:36

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tampak bangunan Stasiun Semut lama yang sudah direnovasi (sumber: jawapos.com)

Seperti yang kita ketahui, Surabaya menjadi salaj satu kota di Indonesia yang sarat akan nilai-nilai sejarah, kepahlawanan, bangunan, dan tentunya transportasi. Salah satunya Stasiun Surabaya Kota, atau lebih dikenal dengan sebutan Stasiun Semut.

Stasiun Semut menjadi stasiun paling ujung yang terletak dekat Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dahulu, Surabaya Utara merupakan kawasan rawa-rawa dan perairan. Pemberian nama "semut" dikarenakan letak stasiun yang berada diperkampungan semut.

Sejarah Stasiun Semut
Stasiun Surabaya Kota merupakan stasiun tertua di Jawa Timur. Dibangun pada tahun 1870 bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Malang, Pasuruan sampai Surabaya dibawah naungan Staatspsspoorwegen Osterlijnen (SS). Gedung Stasiun Surabaya Kota sendiri diresmikan 16 Mei 1878 oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Stasiun Semut tempo dulu (sumber: uc.ac.id)

Kala itu Pemerintah Belanda menggunakan kereta api untuk mengangkut hasil bumi yang berasal dari daerah-daerah di Jawa Timur, yang mana akan dibawa ke negara Belanda di Eropa menggunakan kapal laut yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak.

Pada tahun 1899, bangunan stasiun lama dialihfungsikan dengan bangunan yang baru, dikarenakan makin menumpuknya kereta pengangkut hasil bumi dan penumpang yang ingin naik. Dimana saat itu didominasi oleh orang-orang kaya, baik dari Belanda ataupun penduduk lokal.

Mulanya Stasiun Surabaya Kota ini digunakan untuk menyimpan rangkaian kereta dan hasil bumi, namun pada tahun 1900-an, mulailah dioperasikan kereta api penumpang, yaitu Eendaagsche Express, tujuan Surabaya-Jakarta, yang diresmikan pada 1 November 1929.

Layaknya Stasiun Gubeng saat ini, Stasiun Surabaya Kota dahulunya dikhususkan untuk kereta-kereta ekspres atau bisa dikatakan kereta eksekutif.

Indische Empire
Stasiun Semut ini memiliki gaya bangunan Indische Empire atau gaya bangunan khas Belanda, yang menurut perkiraaan mulai berkembang di Indonesia pada abad 19 dan 20. Ciri khas dari bangunan semacam ini adalah banyak bagian bangunan yang terbuka membentuk pola-pola tertentu dengan didominasi warna putih.

Pewarnaan putih pada bangunan orang-orang Belanda dimaksudkan agar dalam rumah tetap terasa dingin, yang mana kita ketahui bahwa warna putih dapat memantulkan sinar matahari, sehingga panasnya tidak menumbus hingga kedalam rumah, sehingga bangunan-bangunan bergaya seperti ini memberikan rasa sejuk bagi siapapun yang ada didalamnya.

Bangunan khas Belanda pun dikenal akan kekokohannya, hal ini disebabkan penggunaan bahan-bahan yang terbaik yang didatangkan langsung dari Belanda, kemudian dikombinasikan lagi dengan hasil bumi di Nusantara oleh para ahli bangunan Belanda.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline