Lihat ke Halaman Asli

Amir Mahmud

Blogger Lepas

Karena Selalu Berpikir Positif, Kualitas Hidupku Jadi Lebih Baik

Diperbarui: 16 Agustus 2018   00:44

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Positif Thinking/dokpri

"Mir, katanya calon jodohmu itu dari kalangan xxx ya ? awas nanti dia pemalas"

Sebuah SMS yang datang secara tiba tiba dari Kakak saya yang membuat saya trauma berat selama beberapa minggu. Pasalnya, saya ini memiliki trauma dengan orang yang memiliki sifat malas. Jadi, dulu saya pernah hidup dengan orang dengan kebiasaan tersebut. Sedangkan saya sendiri bisa di bilang anak yang sangat rajin. Maaf bukan lagi pamer, tapi banyak orang bilang ke saya begitu. Dan saya ini sangat benci sekali dengan sifat pemalas, bukan dengan orangnya yang malas, tapi sifatnya karena membuat saya trauma.

Karena saya harus berhadapan dengan sifat pemalas, saya banyak sekali berkorban. Korban perasaan, korban pikiran, korban waktu, tenaga, biaya, dan banyak lagi yang lainya. Yang paling menyakitkan adalah korban perasaan yang membuat hati saya sangat sakit, sampai sampai saya harus minta bantuan seorang Kyai untuk di dem demi (di berikan solusi) karena saking sakitnya. Yang akhirnya saya di kasih air doa, dan Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Bukan hanya itu, saya juga pernah sakit sakitan karena harus berhadapan dengan sifat pemalas, sebulan sampai 3 kali hiks hiks.

Karena kakak saya bilang begitu, saya yang dulu suka menganalisa masa depan, sering berpikiran negative bahwa apa yang di katakanya itu benar.

"bagaimana jika jodoh saya nanti orang pemalas, apa saya harus menderita lagi seperti dulu?"

"bagaimana jika jodoh saya nanti orang pemalas, apa saya harus menderita lagi seperti dulu?"

Dan seterusnya...

Seperti itulah yang ada di pikiran saya, dan membuat saya jadi sangat tersiksa. Padahal saya tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan.

Permasalahan 2

Dulu, saya pernah kalang kabut karena ketakutan kalau kalau rumah saya akan dijual oleh orang yang tidak bertanggung jawab karena saat itu keluarga saya sedang tertimpa masalah. Saya sampai nangis karena saking takutnya kalau sampai rumah saya benar akan dijual. 

"Bagaimana keluargaku nanti. Bagaiamana saudaraku yang di perantauan sana kalau lagi pulang kampung tapi tau taunya rumahnya dijual" Pikir saya dalam hati yang selalu negatif

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline