Lihat ke Halaman Asli

Nasib Guru Honorer dan Agupena NTT yang Apatis

Diperbarui: 16 Oktober 2019   09:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dok. pribadi

Oleh: Kopong Bunga Lamawuran

Baiklah catatan singkat ini diawali  sebuah ungkapan singkat dan sederhana: "Jika penulis hilang kepekaan, apalah arti seribu tetes tinta?"

Agak menyayat hati, bahkan menyedihkan, jika penulis-penulis yang kita miliki membangun kerajaannya di atas awan, jauh di atas sana, dan tertawa melihat petani-petani yang berdoa memohon tetes-tetes hujan.

Sesuai dengan judul catatan ini, apa yang tertulis pada dua kalimat pertama di atas, ditujukan kepada Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) NTT.

Bukannya mau cerewet, tapi persoalan nasib guru honorer ini mesti dikait-kaitkan dengan sepak terjang Agupena NTT, yang selama ini memiliki nama besar namun terkesan diam-diam saja menyangkut nasib guru honorer.

Di Kabupaten Flores Timur, seperti yang pernah saya dalam beberapa medium, terdapat guru-guru honorer yang digaji secara tidak manusiawi. Tanpa mau berbangga-bangga, di kabupaten ini juga terdapat sebuah perhimpunan, Agupena Flotim, yang sayapnya sudah melebar luas. (Bisa dicek di akun-akun medsos, silakan, Kawan!).

Tentang upah guru honorer sebesar Rp 300 ribu sebulan ini (ini kasus di Flotim, saudara-saudara sekalian), beberapa waktu lalu saya sempat membuat pernyataan kurang enak kepada Agupena Flotim, bahwa persoalan atau kondisi yang sangat tidak manusiawi ini boleh menjadi lahan perjuangannya juga.

Untuk itulah, himbauan demi himbauan kita perdengarkan kembali, bahwa Agupena (NTT) perlu mengambil peran secara nyata, baik melalui tulisan maupun organisasi untuk bersama-sama berjuang melawan ketidakadilan di pelupuk mata ini.

Maka sekali lagi, bukan bermaksud untuk cerewet, hal ini perlu dituliskan kembali. Tentu saja ada klaim-klaim tanpa dasar yang jelas mengatakan bahwa persoalan guru honorer bukan menjadi tupoksi dari Agupena NTT

Siapapun yang berpikiran jernih pada akhirnya tidak akan meribetkan soal ini dan menyalahkan Agupena NTT, jika Agupena NTT akan melanggar tupoksi untuk memperjuangkan nasib guru honorer. Percayalah, sebagian besar masyarakat NTT akan senang sekali jika Agupena NTT turut berjuang.

Dari sisi kemanusiaan, pengambilan tanggung jawab memperjuangkan nasib guru honorer ini merupakan sebuah kemuliaan. Alasannya sederhana: jika para guru tetap diupah secara tidak manusiawi, maka apapun cara yang kita lakukan, tidak akan bisa meningkatkan kualitas pendidikan kita, dan cukup penting juga, tidak akan bisa melahirkan guru-guru penulis sebagaimana dikehendaki Agupena NTT.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline