Lihat ke Halaman Asli

Alipir Budiman

hanya ingin menuliskannya

Tantangan Guru di Era Generasi Z

Diperbarui: 24 Agustus 2016   17:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Teori Generasi, terdapat 5 generasi yang lahir setelah Perang Dunia II, yaitu: (1) Baby Boomer, lahir tahun 1946 – 1964. Generasi ini memiliki banyak saudara, akibat dari banyaknya pasangan yang berani untuk memiliki banyak keturunan. Generasi ini dianggap adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. (2) Generasi X, lahir tahun 1965 – 1980. Generasi ini sudah mulai menggunakan komputer, video games, televisi, dan internet. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Jane Deverson, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua dan mulai mengenal musik punk. (3) Generasi Y, lahir tahun 1981 – 1994. Istilah generasi Y ini mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online. 

(4) Generasi Z, lahir tahun 1995 – 2010. Disebut juga i-Generation, generasi net atau generasi internet. Mereka sejak kecil sudah mengenal dan akrab dengan teknologi canggih. Semua yang ada pada generasi Y mereka punya, bahkan mereka sudah mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu, dan apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. (5) Generasi Alpha, generasi yang lahir sesudah tahun 2010 sampai sekarang.

Semua pelajar atau mahasiswa saat ini, termasuk dalam kategori Generasi Z. Mereka dilahirkan sudah dalam teknologi maju. Saat mereka bayi pun, sering diperdengarkan lagu-lagu atau lantunan ayat Al-Qur’an yang menggunakan HP sebagai media player-nya. Masa balitanya sudah diajak untuk belajar menelepon ayah atau ibunya yang sedang tidak berada di dekatnya. Saat mereka rewel, HP bisa membuat mereka diam dan bermain. Masa anak-anaknya sudah diajari mengeja dan membaca, menghapal surah-surah pendek dari Al-Qur’an, belajar main piano, menggebuk drum, atau bermain game. Semuanya dilakukan lewat gadget, baik itu HP maupun tablet.

Menginjak masa remaja, dalam pergaulan, generasi ini sudah dipenuhi dengan era digital yang unik, aneh, dan penuh tantangan. Berbagai peralatan super canggih, khususnya handphone yang semakin smart, komputer, internet, play station/PS, iPod, iPad, tablet, home theater, TV layar lebar, dan lain-lain sudah mereka nikmati. Maka tak heran, banyak yang mengatakan Generasi Z ini Generasi Internet.

Karena sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih, maka secara tidak langsung tentu akan berpengaruh terhadap pola pikir, kepribadian, dan gaya hidup mereka. Hal ini pun terlihat jelas saat mereka duduk di bangku sekolah atau mahasiswa, sehingga terkadang, sang guru/dosen, sering membandingkan dengan siswa sekarang dengan dirinya saat berada pada masa-masa sekolah dulu.

Karakteristik Generasi Z

Akhmad Sudrajat, pakar pendidikan, dalam sebuah tulisannya mengatakan, Generasi Internet memiliki karakteristik perilaku dan kepribadian yang berbeda dengan generasi sebelumnya, diantaranya adalah: Pertama, fasih teknologi. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya. 

Kedua, sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FB, twitter, atau melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Mereka juga cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan. Ketiga, multitasking. Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat.

Dampaknya Dalam Dunia Pendidikan

Kemajuan teknologi yang demikian pesat, akan berdampak juga pada proses pembelajaran di kelas. Gaya belajar generasi Z ini cenderung menunjukkan sikap malas pada saat diminta mencatat materi, atau pada saat guru menerangkan pelajaran. Contohnya pada saat saya mengajar pelajaran Matematika. Saat menerangkan langkah demi langkah untuk menemukan sebuah rumus, mereka cenderung kelihatan bosan, dan ingin cepat-cepat melihat hasil akhirnya saja. Bagi mereka, proses tidak menjadi hal yang penting, dan hanya melihat hasilnya. Padahal, dalam matematika, proses adalah langkah yang sangat penting untuk mendapatkan hasil. Langkah-langkah dalam memperoleh rumus, merupakan hal yang membosankan, bertele-tele, dan tidak praktis.

Menulis atau merangkum pelajaran bagi mereka juga sangat memberatkan. Mereka lebih suka mencari bahan di internet, bisa copy-paste dalam waktu singkat. Bahkan, sampai ada siswa yang tidak membaca isi tulisan dari tugas yang mereka buat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline