Lihat ke Halaman Asli

Albertus Agung

Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng

Jaringan Saraf Tiruan Dengan Menggunakan Metode Perceptron Mendiagnosa Helminthasis Pada Hewan Kelinci

Diperbarui: 19 Maret 2023   02:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Kelinci adalah hewan mamalia dari famili Leporidae, yang dapat ditemukan dibanyak bagian bumi. Dahulu, hewan ini adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga kedaratam Eropa. Pada perkembangannya, tahun 1912, kelinci diklasifikasikan dalam ordo Lagomorpha.

Ordo ini dibedakan menjadi dua famili,yakni Ochtonidea jenis pika yang pandai bersiul dan Leporidea termasuk didalamnya jenis kelinci dan terwelu. Asal kata kelinci berasal dari bahasa Belanda, yaitu Konijntje yang berarti anak kelinci. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Nusantara mulai mengenali kelinci saat masa kolonia, padahal di Pulau Sumatra ada satu jenis spsies asli kelinci Sumatra Nesolagus

Netsheri yang baru ditemukan pada tahun. Pada penelitian ini jaringan saraf tiruan dengan mengguanakan metode perceptron utnuk mengenali objek tentang helminthiasis pada kelinci. Helminthiasis hidup di dalam saluran usus, di mana enzim pencernaan dapat

melarutkan kulit telur dan melepaskan cacing. Cacing mulai berkembang biak dengan menghasilkan telur lebih banyak lagi dan akhirnya menetas. Cacing memiliki struktur multiselular dengan sistem organ. Pada penelitian ini perceptron merupakan perceptron dilatih dengan mengguanakan sekumpulan pola yang diberi kepadanya secara berulang-ulang selama latihan. Setiap pola yang diberikan merupakan pasangan pola masukan dan pola yang di inginkan sebagai target. Perceptron melakukan penjumlahan terhadap tiap-tiap masukannya dan mengguanakan fungsi ambang untuk menghitung keluarnya. Keluaran ini kemudian dibandingkan dengan hasil yang di inginkan, perbedaan yang di hasilkan dari perbandingan ini digunakan untuk merubah bobot-bobot dalam jaringan. Demikian dilakukan berulangulang sampai dihasilkan keluaran yang sesuai dengan hasil yang di inginkan

1. PENDAHULUAN

Kelinci adalah hewan mamalia dari famili Leporidae, yang dapat ditemukan dibanyak bagian bumi. Dahulu, hewan ini adalah hewan liar yang hidup di Afrika hingga kedaratam Eropa. Pada perkembangannya, tahun 1912, kelinci diklasifikasikan dalam ordo Lagomorpha. Ordo ini dibedakan menjadi dua famili,yakni Ochtonidea (jenis pika yang pandai bersiul) dan Leporidea (termasuk didalamnya jenis kelinci dan terwelu). Asal kata kelinci berasal dari bahasa Belanda, yaitu Konijntjeyang berarti (anak kelinci). Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Nusantara mulai mengenali kelinci saat masa kolonia, padahal di Pulau Sumatra ada satu jenis spsies asli kelinci Sumatra (Nesolagus Netsheri) yang baru ditemukan pada tahun 1972.Saat ini indonesia membudidayakan ternak kelinci, ada yang digunakan untuk kegiatan usaha bisnis dan ada yang

digunakan untuk sekedar kegiatan sampingan. Baik untuk kegiatan usaha (bisnis) ataupun kegiatan sampingan sebaliknya peternak kelinci dalam pengolahannya juga harus memperhatikan dari segi modal, kebersihan lingkungan dan pola makan kelinci harus diperhatikan pula agar menghasilkan bibit ternak yang unggul dan mengantongi keuntungan bagi para ternak. Secara kasat mata, memeng tidak semua ternak kelinci yang menderita penyakit cacingan disebabkan karena adanya cacing kecil yang hidup di usus belakang kelinci, ukurannya sekitar 2,5 cm. Biasanya cacing masuk ke tubuh kelinci karna terbawa

makan atau ada telur cacing di pakan kelinci. Gejala penyakit cacingan diantanya, kelinci tamak kurus,pucat, napsu makanya kurang dan begitu lemah. Kelinci suka menggaruk bulu disekitar lubang duburnya. Cara mengobatinya dengan memberi kelinci obat cacing secara teratur bersikan kandangnya dan pastikan makan dan minum kelinci harus bersih hindari dari telur cacing.

2. LANDASAN TEORI

2.1 Jaringan Saraf Tiruan

Jaringan saraf tiruan adalah paradigma pengolahan informasi yang terinpirasi oleh sistem saraf secara biologis, seperti proses informasi pada otak manusia. Elemen kunci dari paradigma ini adalah struktur dari sistem pengolahan informasi yang terdiri dari sejumlah besar elemen pemerosesan yang saling berhubungan (neuron), bekerja serentak untuk menyelesaikan masalah tertentu. Cara kerja JST seperti cara kerja manusia, yaitu belajar melalui contoh. Sebuah JST dikonfigurasikan untuk aplikasi tertentu, seperti pengenalan pola atau klasifikasi data, melalui proses pembelajaran. Belajar dalam sisten biologis melibatkan penyesuain terhadap koneksi synaptic yang ada neuron. Hal ini berlaku juga untuk JST[1]. Jaringan saraf tiruan merupakan salah satu representasi buatan dari otak manusia yang selalu mencoba untuk mensimulasikan proses pembelajaran pada otak manusia tersebut. Jaringan saraf tiruan adalah sistem pemerosesan informasi yang mempunyai karakteristik kinerja tertentu seperti jaringan neural biologis.Otak tiruan ini dapat berfikir seperti manusia, dan juga sepandai manusia dalam menyimpulkan sesuatu dari potongan-potongan informasi yang diterima. Komputer diusakan agar bisa berfikir sama seperti manusia. Caranya dengan melakukan peniruan terhadap aktivasi-aktivasi yang terjadi di dalam sebuah jaringan saraf biologis. Jaringan saraf tiruan telah dikembangkan sebagai generalisasi model matematik[2].Informasi terjadi pada elemen-elemen pemerosesan (neuron-neuron), dari kognisi manusia atau biologis neural, yang berbasis asumsi sebagai berikut:

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline