Lihat ke Halaman Asli

Aksara Sulastri

Freelance Writer Cerpenis

Memaknai Sebuah Nasihat

Diperbarui: 19 Mei 2022   04:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Diary. Sumber Ilustrasi dari Kompasiana

Catatan Diary Aksara, dalam memaknai sebuah nasihat bukan menjadikannya angin lalu.

Semenjak menikah saya selalu bertanya Kepada-Nya, "ujian-ujian apa saja yang akan saya lewati setelah ini? Setelah esok hari selepas terlepas dari mimpi."

Saya tahu saya bukanlah orang yang bisa dikatakan kategori orang sabar namun saya sedang belajar sabar dalam memperbaiki diri. Mungkin saya lebih banyak mengeluh tetapi saya malu saat orang mendengar keluhan ini.

Dalam sebuah ruangan di depan cermin saya berkaca. Saya masih seperti yang dulu, melewati masa muda dengan tubuh yang langsing. Meskipun telah melewati masa kehamilan yang membuat tubuh gempal dan kepercayaan diri semakin memudar.

Saat saya ingin mengulangi masa muda, sifat egois muncul ke permukaan dan dihantui kenyataan bahwa ada anak suami yang menjadi prioritas sekarang. Dalam hati berkata, engkau kini sudah berkeluarga. 

Membuka kembali nasihat-nasihatnya. Seperti jika akan melakukan perbuatan buruk atau maksiat ingat ada Allah yang melihat, dipikir dahulu sebelum bertindak. Seorang wanita yang sudah menikah setiap dosanya ditanggung oleh suami. 

Hal itu membuat saya lagi-lagi bercermin, bisakah saya melewatinya. Bisakah saya sabar menjalaninya sedangkan gejolak hati dan bisikan setan menginginkan saya akan kebebasan. Bebas melakukan apapun sesuai kehendak, tanpa aturan dan bisa menjalin hubungan dengan siapapun dalam sebuah pertemanan. Atau bekerja mengumpulkan uang sendiri untuk kesenangan pribadi. Membuat wajah terlihat cantik dan mengenakan pakaian yang membuat pusat perhatian.

Lagi-lagi sebuah teguran akan datang dengan nasihat-nasihatnya, ingat ada Allah yang melihat. Dipikir dahulu sebelum bertindak. Disitu saya akan menangis. 

Mengingat kembali doa ketika muda dulu, dalam sebuah sajadah usang meminta pada Allah Subhanawataala agar diberi jodoh yang bisa merubah saya menjadi wanita Solehah.

Kini saat Allah sudah mengabulkan segala doa, ada godaan yang membuat saya terjebak dalam suatu kegelisahan. Dimana rasa syukur itu hilang dan sepatutnya saya wajib untuk bersyukur.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline