Lihat ke Halaman Asli

Aku dan Mapala Tursina

Diperbarui: 12 November 2022   23:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(doc. Prib/Oktavia N) 

...dari alam aku ada, aku ada untuk alam... 

Berawal dari obrolan singkat dengan kakak sepupu, tak sengaja menyinggung tentang Mapala. Waktu itu saya tidak tahu apa itu Mapala. Berhubung sepupu saya juga bukan anak Mapala, jadi saya tidak bisa bertanya banyak untuk mencari tahu. Tapi intinya, Mapala punya kegiatan "Kemah dan naik gunung".  

Saya sama sekali tidak tertarik untuk ikut Mapala, apalagi setelah melihat rambut gondrong dan kumis yang dibiarkan tumbuh panjang. Sampai akhirnya, Mapala Tursina menarik atensi saya kala pengenalan UKM (daring). Di tengah kebosanan saya memantau HP seharian demi menjalani acara PBAK, Mapala Tursina adalah UKM yang paling minim informasi. 

Jadi resume saya hanya berisi arti Mapala Tursina dan kapan terbentuknya UKM ini. Saat itu saya baru tahu arti Mapala adalah mahasiswa pencinta alam. Dalam hati saya langsung berpikir, "Pasti ada kegiatan memungut sampah".

Seiring berjalannya waktu, saya hampir melupakan semua UKM. Tapi karena saya cukup sering membuka media sosial instagram (dan wajib follow semua akun UKM) akhirnya banyak postingan yang muncul di beranda Instagram saya tentang pendaftaran UKM yang sudah ditutup.

Tapi saya tidak terlalu memikirkan itu. Sampai suatu ketika lewat instastory, Mapala membuka pertanyaan dan saya iseng bertanya tentang syarat menjadi Mapala. Hanya dua kata yang menjawab, tapi cukup mengusik ego saya sebagai manusia. 

Yakin dan Wani (berani!). Saya orang yang butuh waktu banyak untuk mengambil suatu keputusan, menimbang baik-buruk serta tanggung jawab yang akan saya ampu nantinya. 

Semua harus dipikir berkali-kali, hingga terkadang membuat saya melewatkan banyak kesempatan dan mundur karena tidak cukup yakin bisa bertanggungjawab atas konsekuensi yang nantinya terjadi. Atas dasar itu, akhirnya saya memantapkan hati mengikuti UKM Mapala Tursina.

Selama seminggu, saya menunda masuk grub peserta dan mencari tahu tentang Mapala lewat blog-blog di internet. Dan akhirnya karena sudah terlalu lama berpikir, saya memutuskan masuk grub. Lalu mengisi formulir, mengikuti wawancara lewat Zoom, dan melaksanakan TC. Awal TC, adalah hal cukup berat. Saya lari pada siang hari sekitar jam 12 siang (setelah kuliah online) dan jam 8 malam.

Berputar dari rumah ke jalan raya hingga tiba di kantor desa (tepatnya di perempatan, saya hampir ingin menyerah). 

Tapi karena saya sendirian dan jarak cukup jauh, saya tetap harus berjalan diselingi lari kecil untuk sampai ke rumah. Dan sampailah saya di rumah, dengan napas yang masih abnormal saya jadi teringat sebuah novel tentang pendakian berjudul "Sweet Edelweis". 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline