Lihat ke Halaman Asli

Dina Ahsanta Puri

Your story teller

Kemaluan sebagai Media Renungan

Diperbarui: 21 Maret 2023   20:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Book. Sumber ilustrasi: Freepik

Identitas Buku:

 

Judul              : Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas

Pengarang      : Eka Kurniawan

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Halaman         : 243

Cetakan          : November 2014

ISBN               : 978-602-03-0393-2

Sunyi, gelap, sendiri  bukanlah petaka. Kesunyian, kegelapan dan kesendirian akan "membutakan", "menulikan", "mengasingkan" seseorang pada ruang yang tak terjamah. Jangankan kedatangan manusia lain. Suara dari mulutmu yang kerap beromong kosong pun tak mampu  didengar. Kiranya begitu, sunyi yang diajarkan oleh burung Ajo Kawir. "Hidup dalam kesunyian. Tanpa kekerasan, tanpa kebencian. Aku berhenti berkelahi untuk apa pun, aku mendengar apa yang diajarkan Si Burung."(hlm.123)

"Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati," kata Iwan Angsa perihal Ajo Kawir. (hlm. 1).  Kalimat tersebut menjadi pembuka rangkaian kisah kekerasan demi kekerasan yang melibatkan Ajo Kawir dan Si Tokek, anak Iwan Angsa, sejak masa kanak-kanak hingga mereka dewasa. Termasuk kekerasan psikologis yang mengakibatkan "trauma kemaluan" Ajo Kawir hingga tak bisa ereksi.

Kehidupan Ajo Kawir dan Si Tokek di desa, mengeksplorasi kehidupan batin manusia Indonesia di penghujung tahun 90-an. Kegiatan di surau atau langgar, sekolah, komik api neraka hingga cerita silat dan stensilan yang sampai ke desa-desa dan dibaca oleh anak-anak muda pula anak kecil pada masa itu. Tak ketinggalan, cerita tentang preman-preman yang ditemukan mati  misterius.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline