Mohon tunggu...
Amirsyah Oke
Amirsyah Oke Mohon Tunggu... Hobi Nulis

Pemerhati Keuangan negara. Artikel saya adalah pemikiran & pendapat pribadi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Bahaya Hoaks terhadap Stabilitas Sistem Keuangan

29 Juni 2019   17:26 Diperbarui: 30 Juni 2019   07:35 0 2 2 Mohon Tunggu...
Bahaya Hoaks terhadap Stabilitas Sistem Keuangan
BI melakukan klarifikasi terkait hoaks pada Rupiah (Sumber: Kompas.com)

Di dekat kompleks rumah saya ada warung baso yang baru saja dibuka. Rasanya enak, porsi banyak dan harganya relatif murah membuat warung baso tersebut laris manis. Banyak yang mengantri untuk makan ataupun bungkus baso.

Saking larisnya, sang pemilik jadi memperluas warungnya. Agar pelanggan bisa cepat terlayani dan juga parkir kendaraan tidak menggangu tempat yang lain. Dari semula hanya mengontrak satu petak ruko, menjadi 2 petak.

Tiba-tiba berhembus kabar bahwa warung baso tersebut menggunakan daging tikus. Informasi yang tidak jelas asalnya tersebut menyebar dengan cepat. Akibatnya warung baso tersebut mendadak menjadi sepi pembeli. Bukan itu saja, pemilik warung baso harus menghadapi pemeriksaan pihak yang berwajib. Sudah dagangannya tidak laku, masih harus repot karena berpotensi tersangkut masalah hukum.

Untunglah hasil penyelidikan, termasuk hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan bahwa warung baso tersebut tidak menggunakan daging tikus. Informasi warung baso tersebut menggunakan daging tikus terbukti hoaks. Namun tetap saja sang pemilik warung telah nyata-nyata dirugikan.

Istri saya yang sejak awal tidak percaya berita hoaks tersebut berusaha membantu dengan mengadakan acara arisan di warung baso tersebut agar terlihat ramai dan menarik perhatian. Perlu waktu yang cukup lama untuk membuat warung baso tersebut ramai kembali. Sementara asal muasal berita hoaks tidak pernah diketahui sehingga tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Ini adalah contoh nyata bagaimana berita hoaks sangat berbahaya dan merugikan aktivitas ekonomi dan keuangan masyarakat. Dalam skala besar, hoaks juga sangat menggangu perekonomian suatu negara. Stabilitas ekonomi menjadi rentan hingga menggoyahkan stabilitas sistem keuangan. Jika tak cepat diatasi, maka berpotensi mengakibatkan krisis yang kerugiannya sangat besar bagi negara dan rakyat.   

Pada tahun 2017 ada tokoh masyarakat yang menyebarkan informasi bahwa dalam uang Rupiah terdapat logo palu arit atau logo PKI. Informasi tersebut hanya berdasarkan cocokologi saja berdasarkan persepsi setelah mengamati tanda air dalam pecahan uang kertas rupiah. Sontak informasi hoaks ini meruak ke berbagai lapisan masyarakat hingga cukup banyak yang percaya.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia bergerak cepat untuk mengklarifikasi hoaks tersebut. Informasi yang benar berikut pembuktiannya juga disebarkan kepada publik secara luas. Bahwa keseluruhan tahap pencetakan uang dilakukan dengan pengawasan ketat dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Gambar yang dikatakan sebagai palu-arit atau logo pki hanyalah logo Bank Indonesia (BI) yang merupakan salah satu fitur pengamanan uang agar tidak dipalsukan. Gambar yang sama sudah ada pada uang rupiah yang dicetak tahun 2000. Jadi sangat tidak beralasan jika tahun 2017 baru dipermasalahkan sebagai mirip palu arit.

Syukurlah informasi kontra hoaks dari Pemerintah dan BI cepat tersebar dan dipahami publik secara luas. Media-media arus utama masif memberitakannya untuk melawan hoaks yang terlanjur tersebar. Tak ketinggalan peran penting dari masyarakat anti hoaks, juga masyarakat yang tidak mudah percaya dengan informasi yang tidak jelas dan dari sumber yang tidak kredibel yang terus melawan informasi hoaks dan memberikan penjelasan kepada masyarakat secara langsung khususnya di media sosial.

Bayangkan jika sangat banyak masyarakat yang percaya informasi hoaks tersebut sehingga tidak mau menggunakan uang rupiah sebagai alat transaksi. Bisa jadi akan berbondong-bondong menukarnya dengan mata uang lainnya. Tentu saja hal ini menganggu nilai tukar rupiah sehingga mengganggu stabilitas sistem keuangan. Jika terus berlanjut, maka berpotensi menjadi krisis keuangan yang perlu upaya dan biaya ekstra untuk mengatasinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x