Mohon tunggu...
Tenggang2 Lopi
Tenggang2 Lopi Mohon Tunggu... perahu keseimbangan

lahir di desa Samaran. mungkin salah satu tanda bahwa harus berjalan dalam samar, atau samar jika sedang berjalan. entahlah. . . .

Selanjutnya

Tutup

Diary

Nggendong Barokah

23 Juli 2021   05:09 Diperbarui: 23 Juli 2021   05:24 37 5 0 Mohon Tunggu...

Setiap gelap dikandung oleh cahaya. Setiap masalah akan ada solusinya. Begitu juga setiap duka pasti ada kegembiraan yang menyelimutinya. Posisi hati dan kesadaran kalau bisa tidak berpijak pada setiap bentuk ekspresi kehidupan melainkan kita bersandar pada Yang Maha Pemilik ekpresi dan eksitensi. Sehingga setiap apapun yang kita alami dan hadapi tidak mengubah dan mengeruhkan pikiran dan hati kita untuk terlarut dan kotor di dalamnya.

Sebab Allah memberikan pikiran dan akal untuk merumuskan dan mengolah gelap, duka dan masalah menjadi cahaya, kegembiraan dan solusi keseimbangan hidup yang memang harus dilalui—tanpa atau tidak bisa dihindari hadirnya.

Maka tidak ada jalan lain selain menghadapinya dengan sepenuh hati dan berpijak pada tanah keyakinan dan kesadaran bahwa semua ini sudah menjadi tugas kita sebagai manusia dan makhluk Tuhan yang selalu berusaha sempurna.

Perjuangan hidup manusia menuju kesempurnaan. Menyerah sebelum bertanding itu anak dari ibu yang namanya kemunafikan—meskipun berat untuk menolak menyerah, apalagi hanya dengan kata-kata semata.

Maka tidak ada jalan lain untuk menguatkan langkah dan meneguhkan keyakinan kita untuk tetap seimbang melangkah menuju kesempurnaan hidup sesuai maksud Tuhan—yaitu dengan gondelan jubahe Kanjeng Nabi.

Kanjeng Nabi kekasih Allah yang kelahiran dan asal-usulnya berasal dari cinta Allah—yang wajar jika Allah dan para malaikat bersholawat kepadanya.

Semasa hidupnya Kanjeng Nabi memilih menjadi nabi yang abdi, bukan nabi yang raja. Setiap penderitaan hidup dari tidur beralaskan daun kurma, makan hanya tiga biji kurma, dilempar batu dan ‘kotoran’ ketika berjuang memperkenalkan Islam, dll—dilaluinya sebagai contoh bahwa kemuliaan punya ongkos yang bernama ‘perjuangan’ dan ‘penderitaan’ hidup. Sebab beliau nggendong syafaat yang salah satu keberkahannya kita butuhkan dalam menjalani hidup.

Syafaat yang beliau gendong akan melimpah menjadi anak barokah bagi kita yang sungguh-sungguh menjalani hidup yang diajarkannya, juga kesungguhan cinta kita yang dibalas oleh Allah menjadi barokah hidup.

Barokah atau berkah hidup ini yang datangnya dari arah yang tidak kita sangka sebelumnya. Hadirnya mengagetkan kita karena mungkin saja kita tidak siap menerima atau software diri kita belum kuat menampung barokah hidup yang diberikan Tuhan. Mungkin pada posisi yang seperti ini yang membuat orang mudah ngersulo dan sambat—meskipun ngersulo dan sambat itu manusiawi dan wajar(untuk tujuan supaya plong hati dan pikiran untuk menemukan solusi). Tetapi sambat tak diperbolehkan jika malah merusak mental, kejernihan berpikir dan keluasan hati sehingga tidak seimbang kuda-kuda hidupnya.

Lain halnya bagi manusia yang setiap waktunya membaca dan punya dasar jiwa terus belajar kepada apa dan siapa saja—akan dituntun oleh Allah nggendong barokah. Jadi setiap hadirnya mengandung barokah. Setiap gerak dan arah perjuangannya mengandung barokah. Otomatis barokah itu dapat dirasakan bagi siapa atau apa saja yang ada di sekitar kita.

Kita menjadi ambassador barokah dari ibu syafaat dan akar cahaya terpuji, Nur Muhammad. Jadi laku prihatin, perjuangan hidup tiada henti, cinta kita kepada Allah, Kanjeng Nabi, ibu, bapak dan segala makhluk Tuhan merupakan cara Allah melatih kita menjadi Pasukan Penebar Barokah. Sampai pada titik di mana Allah mempercayakan kita untuk menjadi perantara Allah menyelamatkan dan mengamankan kehidupan setiap manusia yang ditemui dan alam semesta. Allahumma shalli ‘ala Muhammad.

Surabaya, 23 Juli 2021

VIDEO PILIHAN