Mohon tunggu...
Aminuddin Malewa
Aminuddin Malewa Mohon Tunggu... Freelancer - Mencoba jelajah budaya dan menelusuri narası

Penikmat narasi

Selanjutnya

Tutup

Book Artikel Utama

Hanua Sinjai dan Cermin Kelokalan Sejarah

20 Juli 2022   13:30 Diperbarui: 31 Juli 2022   00:01 858 16 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Buku-buku tua. (Photo: pixabay.com/jarmoluk)

Malam bersama Drs. Muhannis di pelosok selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Desa Ara Kecamatan Bontobahari, Bulukumba barangkali malam yang membawa banyak penyesalan. 

Sesal bukan karena waktu yang terbuang percuma, bukan karena person yang saya temui itu tidak menarik dan juga bukan karena materi perbincangan yang tidak bermanfaat.

Sama sekali bukan!

Sesal yang timbul justru karena terbatasnya waktu yang tersedia, tidak cukupnya kesempatan untuk berbincang dalam dan tidak memadainya persiapan untuk menangkap pesan berharga. 

Dan sesal terhadap bagaimana cara kita, atau sebagian dari kita, memandang sejarah beserta segala pernik-perniknya.

Drs. Muhannis, seorang pensiunan ASN, tepatnya Guru Bahasa Jerman memberi cermin bening untuk menggambarkan seperti apa negeri ini menghargai dirinya sendiri. 

Istilah Negeri dalam konteks ini bukan sebatas pengertian administrasi atau wilayah melainkan mencakup juga suasana yang melingkupi bentang alam, rentang masa beserta segenap tingkah penghuni di atasnya. 

Negeri yang saya maksud di sini lebih kepada sebentuk kesepahaman atau kesadaran, meski mungkin diam-diam, bahwa dalam rentang masa tertentu, pada bentang wilayah dengan batasan luas tertentu terdapat komunitas yang mendiaminya dan memberinya isi dan makna.

Dalam dimensi horizontal seturut masa mengalir, isi dan makna itu sebut saja sebagai sejarah sedangkan dalam dimensi vertikal, yang juga berwarna sejalan waktu, sebut saja isi dan makna itu sebagai kebudayaan.

Budayawan dan pendidik low profile itu di penghujung Ramadhan 1443 H tahun ini menghamparkan sebuah buku yang baru terbit, HANUA SINJAI, kepada khalayak yang mengaku gemar membaca. 

Hanya seorang penggemar sejatilah yang akan tertarik dengan buku setebal hampir 700 halaman, tanpa gambar atau ilustrasi berwarna dan juga tanpa text box berisi kutipan yang menarik mata sebagaimana buku-buku motivasi diri yang membanjiri pasaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan