Mohon tunggu...
Amas Mahmud
Amas Mahmud Mohon Tunggu... Jurnalis - Pegiat Literasi

Melihat mendengar membaca menulis dan berbicara

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

SBY Lakukan Counter Attack, Sikap Jokowi dan Politik Game Over

28 September 2022   15:28 Diperbarui: 28 September 2022   16:53 542 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


PRESIDEN Jokowi masih kokoh mengatur kekuatan politik, hal itu tidak bisa disangkal. Termasuk dalam urusan mengutak-atik konstelasi Pilpres dan Pemilu 2024. Orkestasi kekuatan tersebut dapat didemonstrasikan Jokowi. Terbukti soliditas Kabinet masih terjaga. Lembaga DPR RI, satu frekuensi selaras dengan kepentingan Jokowi.

Sederhananya hasil Pilpres 2024 kelak tergantung pada Jokowi. Ketika orang nomor satu di Indonesia berambisi mempertahankan kekuatan, pasti dapat dilakukan. Bahkan untuk mencari ''stuntman'' dari dirinya agar tetap mengendalikan Indonesia di masa yang akan datang, dapat dilakukannya dengan mudah dan terorganisir.

Bagaimana tidak, kombinasi kekuatan politik masih dikendalikan pemerintahan Jokowi. Partai besar seperti PDI-P, Partai Gerindra, Golkar, NasDem, PKB, PPP, PAN, berada dalam rangkulan Jokowi. Hanya PKS yang mengambil sikap tegas oposisi secara politik. Ditambah Partai Demokrat.

Skema oposisi PKS dan Partai Demokrat terhadap pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin, tidak berakhir disitu. Dua parpol ini terpotret akan menggagas koalisi untuk Pilpres 2024. Berpotensi NasDem akan menjadi lokomotif koalisi yang menyambungkan kepentingan PKS dan Partai Demokrat.

Jika tiga parpol itu menyatu, maka pasangan Capres yang diusung adalah Anies-AHY. Struktur koalisi model ini tetap akan dieliminir kekuatannya melalui rivalitas politik. Lalu dimana kehebatan Jokowi?. Secara kasat mata, Jokowi punya beberapa punggawa. Diantaranya LBP dan Megawati.

Dengan posisinya sebagai Presiden Jokowi dapat mengendalikan instrumen kekuasaan. Komisi Pemberantasan Korupsi, TNI, Polri, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Mahkamah Konstitusi, hingga Penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu), nafasnya ada di genggaman Jokowi. Mau bersikap otoriter atau lunak, semua bisa dilakukan Jokowi.

Apa yang dicemaskan SBY dalam pidato politiknya, bahwa ada indikasi skenario dua pasang calon Presiden boleh saja benar. Apapun lebih dan kurangnya SBY, beliau merupakan Presiden Republik Indonesia 2 periode. Bukan orang baru di kancah politik. Artinya, SBY tengah melakukan gerakan counter attack.

Bukan sekedar membongkar design politik yang disiapkan pihak yang disebut oligarki. Lebih dari itu, SBY tengah membuat simulasi. Memukul belukar untuk melihat makhluk apa yang keluar di sela-sela belukar tersebut. Politik pra kondisi telah dilakukan. Ini pure adu strategi. Soal efek yang ditimbulkan, SBY telah mengantisipasi itu.

Sekencang apapun gelombang hantaman dari pihak oposan terhadap barisan politik Jokowi, kekuatan 95% memenangkan Pilpres 2024 masih berada di genggaman Jokowi. SBY mengerti betul bagaimana kemudahan seorang Presiden menjaga kekuatan, melakukan maintenance terhadap gerbong.

Berbagi tugas, gotong royong untuk menang. Bahkan untuk mematahkan kekuatan lawan. Itu sebabnya, sejak dini di tahun 2022 dipilih sebagai momentum tepat untuk dibunyikan alarm. Bahwa ada dugaan skenario hanya ada dua pasang Capres 2024 nanti. Dengan begitu, publik akan menjadi waspada.

Opini publik terbentuk. Lantas, kelompok oligarki akan dituduh tengah membangun konspirasi jahat. Memukul figur Capres tertentu secara politik, agar kekuatan oligarki tetap paten dan lestari dalam periode kekuasaan yang akan datang. Konsekuensinya, publik akan menciptakan jarak dengan kekuasaan. Guna mengamankan kepentingannya, maka Jokowi harus hati-hati dan bersikap mau berdamai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan