Alvin Haidar
Alvin Haidar

Mahasiswa di salah satu universitas gajah di kota kembang. Sedang mencari jalan menuju surga-Nya. Mohon doakan

Selanjutnya

Tutup

Muda

Dilema "Kids Zaman Now"

15 November 2017   07:49 Diperbarui: 15 November 2017   08:25 653 1 0
Dilema "Kids Zaman Now"
Sumber: https://keepo.me/




Bagaimana teman-teman,  sempat viral meme yang menunjukkan seorang anak  yang terlihat bertengkar sambil berkata "lu yang bicarain gw di kosan (eh) perosotan kan?". Sepintas memang terlihat lucu bagaimana tingkah anak-anak zaman sekarang yang disebut 'millenial' bertingkah. Tulisan ini tidak bertujuan untuk menjudge tindakan sang anak dalam gambar tersebut namun melihat sudut pandang lain dari segi sebab dan akibat hal-hal berbau 'dasar kids zaman now' bermunculan.

Mungkin tidak sedikit dari kita yang pernah melihat berbagai lelucon atau guyonan khas 'kids zaman now' bahkan sebelum meme di atas viral. Tidak sedikit kaum pemuda yang menganggap diri mereka lebih 'bijak' banyak berkomen di setiap lini massa sambil mengeluarkan kata-kata khas 'dasar kids zaman now'-nya.  Muncul pertanyaan, lantas siapakah sebenarnya 'kids zaman now' tersebut?

Tidak ada definisi baku yang membahas berapakah  rentang umur anak-anak zaman now atau kapan mereka lahir. Satu hal yang pasti paradigma yang timbul ialah kids jaman now ialah para millenial yang terkontam oleh pengaruh gadget, tontonan, dan hal berbau micin lainnya yang membentuk sikap mereka. Sungguh miris bagaimana para pemuda 'bijak' berkomentar dan membuat meme-meme terkait seputar kelakuan anak zaman sekarang. Padahal sadar atau tidak sadar kita sendiri lah para pemuda 'bijak'  yang turut menyukseskan terciptanya generasi zaman now melalui berbagai komen negatif yang tersebar baik di dunia nyata maupun maya.

Arus informasi yang cepat  menciptakan presepsi umum masyarakat tentang bagaimana kelakuan anak-anak zaman sekarang berulah, malangnya hal ini tidak diikuti oleh verifikasi  kebenaran suatu kejadian 'kids zaman now' tersebut. Melalui sikap  tabayyun yang minim di masyarakat sungguh mudah untuk menggiring opini publik terkait suatu isu melalui rekayasa media, contoh: Untuk membuat citra buruk anak-anak dibuatlah rekayasa chatting atau dokumentasi tertentu yang diedit sedemikian rupa sehingg  berisi chattingan 'mamah-papah' yang seakan-akan itu benar telah dilakukan oleh mereka. Padahal tidak sedikit netizen  hanya sekedar iseng untuk suatu postingan yang viral dan menganggapnya lelucon semata.

Lantas kenapa ini penting diperhatikan? Kekhawatiran muncul karena di tengah arus informasi cepat pasti tidak sedikit para 'korban' atau anak-anak zaman sekarang melihat langsung realita ini melalui media sosial tentunya. Stigma negatif kidz zaman now dikhawatirkan justru mengganggu pengembangan karakter dan sifat anak-anak secara alami. Anak-anak yang melihat pandangan masyarakat tentang dirinya justru dalam looking glass selfjustru membuat suatu konklusi yang salah seputar dirinya.

Sukur-sukur jika anak tersebut dapat mensitesis respon masyarakat menuju arah perbaikan diri, namun jika yang terjadi sebaliknya bagaimana? Para korban cyber bullying 'kids zaman now' dapat mengambil kesimpulan yang salah atas diri mereka sehingga bukannya berkembang, mereka malah mengiyakan apa kata netizen dan mencap diri mereka demikian. Apakah peluang hal itu terjadi sangat mungkin? Apakah hanya lewat komen netizen dapat membuat justifikasi  yang salah atas diri sang anak? Sangat mungkin.

Pertama, kondisi millenial di mana hampir setiap dari usia mulai 5 tahun telah akrab dengan gawai itu sendiri bahkan dibanding interaksi dengan orang luar ,anak-anak cenderung asyik menghibur diri dengan gawainya. Kedua, cara pandang seorang anak atas bagaimana masyarakat melihatnya  membuat konklusi tersendiri bagi anak tersebut, namun sayang interaksi yang minimdengan masyarakat  atau kurangnya perhatian orang tua terhadap sang anak  dapat menyesatkan seorang anak atas kepribadiannya.

Merupakan pengingat juga bagi kita para netizen untuk tidak menyepelekan hal-hal berbau 'kids zaman now'. Sungguh dilema mengingat bahwa kita sendiri juga merupakan 'kids zaman now' itu sendiri. Masih bias siapakah sebenarnya yang sedang kita tertawakan. Bahasa sopannya, kita sendiri pula yang sedang menertawakan diri sendiri dalam perputaran dunia maya. Budaya apresiasi dan menghargai nampaknya masih menjadi PR besar bagi para peselancar dunia maya dalam menanggapi beberapa isu. Kenapa hal ini penting, karena mau tidak mau 'kids zaman now' lah yang kelak menjadi orang yang mencontoh kakak-kakaknya di kemudian hari. Jika kita sudah skeptis kepada mereka, kepada siapa lagi kita berharap?