Mohon tunggu...
Achsinul Arfin
Achsinul Arfin Mohon Tunggu... Freelancer - Suka membaca dan menulis

Suka menulis, baca buku, review buku, serta semangat belajar dalam hal literasi

Selanjutnya

Tutup

Financial

Bertahan di Tengah Gempuran Keterbatasan

4 Desember 2022   23:29 Diperbarui: 4 Desember 2022   23:38 92
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Finansial. Sumber ilustrasi: PEXELS/Stevepb

Reflasi, sebuah kondisi yang disebutkan oleh Gubenur BI, Perry Warjiyo, menjadi populer ketika rapat dengan anggota Komisi XI DPR yang dilaksanakan pada Senin (21/11/22). Menurut pemaparannya, Reflasi adalah di mana negara tengah menghadapi resiko resesi, dan secara bersamaan tingkat inflasi juga tinggi.

Gonjang-ganjing ketika merebaknya Covid-19 memang tidak bisa dipungkiri, banyak usaha yang tiba-tiba menjadi gulung tikar karena serba pembatasan yang diterapkan, dan ketika kondisi ekonomi mulai stabil terjadi peperangan antara Rusia dan Ukraina sehingga mengakibatkan geologi politik menjadi semrawut.

Bahkan negara Eropa saat ini juga terkena imbas akibat peperangan kedua negara tersebut, apalagi di sana musim dingin yang semakin menghantui para penduduknya.

Di sisi lain negara-negara berkembang pun juga ikut terdampak akibat Geologi tersebut, misalnya, semakin mahalnya biaya barang impor sehingga mengakibatkan  dampak harga serba naik.

Di Indonesia sendiri pemerintahan berusaha menstabilkan ekonomi dengan berbagai cara, misalkan dengan cara penyaluran BLT kepada masyarakat kurang mampu supaya daya beli tetap terjaga dan tidak terjadi kelaparan. Di lain pihak, pemerintah pada akhirnya tidak bisa melakukannya secara terus menerus, sebab tidak akan bisa menopang biaya hidup rakyat selamanya, apalagi bantuan-bantuan tersebut menggunakan hutang dari luar negeri.

Cara lainnya yaitu adalah dengan cara mengurangi subsidi pada BBM dan dipergunakan untuk mensubsidi lainnya, sehingga dapat dialihkan kepada yang lainnya. Mau tidak mau di era Covid-19 ini langkah tersebut bisa menghemat anggaran biaya pemerintah.

Namun, yang menjadi lebih was-was lagi adalah belakangan  di berbagai media offline maupun online telah mengabarkan bahwa puluhan ribu  pekerja kehilangan mata pencaharian, terutama dari bidang fintech atau teknologi.

Bahkan salah satu platform yang menyediakan keterampilan untuk pelatihan pun juga mengurangi pegawainya. Bisa dibayangkan sendiri ketika banyak yang terdampak phk masal, maka perputaran uang pun menjadi semakin lambat.

Salah satu cara agar Indonesia kembali berdaya adalah dengan memaksimalkan potensi tanah air kita, seperti zaman kakek nenek moyang yang selalu bersahabat dengan alam dan bangga akan pekerjaannya mengelola bumi pertiwi.

Saat ini bukanlah masa industrialisasi yang semuanya harus bekerja di pabrik tampak keren, sehingga mengakibatkan orang-orang di desa berbondong-bondong untuk urbanisasi, mengadu nasib di kota, padahal di desa sendiri banyak sekali kegiatan yang bisa dikerjakan, sebut saja buruh tani, bisa jadi harga harian mereka sama juga seperti upah di pabrik industri daerah perkotaan.

Rasa bangga terhadap pekerjaan sebagai petani, nelayan, dan pekerjaan mengelola bumi pertiwi memang harus ditanamkan sejak dini, apabila dari kecil terdoktrin bahwa kehidupan di perkotaan lebih baik, hal tersebut seolah bertolak belakang, semua ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun