Gayahidup

Manifestasi Diri

27 Januari 2018   15:02 Diperbarui: 27 Januari 2018   15:34 621 0 0

Kisah tentang diri tidak bisa diejawantahkan sebegitu mudah dibandingkan dengan menceritakan orang lain. Menerjemahkan diri lebih sulit dibandingkan mengerti keadaan dan setiap kata yang dilontarkan oleh orang lain. 

Satu waktu pernahkan anda berpikir dan kemudian bertanya: "Sebenarnya siapa diri ini? mengapa diri ini ada? Pantaskah diri ini hidup dalam pola, ritme dan rantai kehidupan?"

Jika kemudian jawaban anda pernah mengalami perasaan seperti itu dan kemudian anda memikirkan serta pertanyaannya terus-terusan berkembang. Maka sebenarnya anda sedang mencari proses kesejatian dari kepalsuan yang ada. 

Kondisi dan peristiwa yang anda alami ini sangat sedikir orang mengalaminya. Hal ini berarti anda menitik beratkan serta mempersoalkan diri sendiri oleh karenanya anda akan lebih mudah dalam mengijakan kaki dibumi karena anda mengenali diri sendiri.

Di era third wave (Toffler), manusia sampai saat mati pun memilih jalan untuk tidak mengedepankan aspek pertanyaan mendasar pada dirinya. 

Hal yang paling mendasar serta memiliki arti penting bagi diri adalah proses untuk penyempurnaan lahiriah yakni sesuatu yang diinginkan, dicita-citakan, serta dikenal oleh seluruh peta sejarah dalam lingkungannya. Hal tersebut meliputi suatu eksistensi dan disebut sebagai identitas sosial, profesi dan hal lainnya yang menyangkut proses peng-eksistensian diri.

Proses pemenuhan tersebut bukan berarti buruk namun ada dua hal dalam kehiduapan yang memang perlu pemenuhan diantaranya adalah batiniah dan lahiriah. Kesejatian dan Keabadian terletak dalam kosmos pemikiran yang terletak dalam batiniah. 

Akan ada beribu kejadian dan momentum yang perlu ada untuk memenuhi proses batiniah. Ribuan bahkan juga ratusan aliran, sekte dan fundementalistik telah hadir dimuka bumi ini untuk mengekspresikan jawaban atas kegelisahan dan kegundahan batiniah manusia.

Dari sekian ribu aliran dan sekte tidak satu pun manusia kini bisa mengerti arti dari dirinya sebagai manusia, dan arti dari apa itu manusia. 

Optimalisasi matrealistik yang dilakukan oleh seluruh peradaban ilmu modern yang terjadi hari ini, mengakibatkan kematian dalam kehidupan, kehidupan dalam kematian. Artinya kita hidup pun sama artinya dengan kematian karena kematian identik dengan kegelapan.

Sekte hari ini lebih bisa mengenalkan dan memahamkan manusia tentang syariat yang secara tidak langsung lebih merujuk kepada benda dan peristiwa sosial. Bukan terhadap hakikat yang nun jauh disana keberadaanya. 

Kepentingannya adalah tentang eksistensi diri, bukan tentang diri yang mengerti jati diri. Semakin manusia kalut oleh peradaban yang mengedepankan proses lahiriah dalam kehidupan. Semakin banyak orang merasa bahwa dirinya butuh Tuhan dan mencari Tuhan diluar dirinya. Padahal, Tuhan telah lama menunggu di dalam dirinya.

Yang kita perlukan adalah penyeimbangan proses lahiriah bukan dengan cara destruktif, korupsi dan lain sebagainya dan juga proses batiniah yang dipenuhi melalui kesadaran hidup dengan landasan suatu sandaran dimana anda mengalami satu kondisi kebelumtahuan tentang apa yang akan ada tuju dimana pun dan kapan pun tujuan itu, itulah iman yang berpegang pada ketidaktahuan dan berujung pada kepercayaan mutlak, inna dinna indallahil islam.