Aldy M. Aripin
Aldy M. Aripin karyawan swasta

Suami dari seorang istri, ayah dari dua orang anak dan eyang dari dua orang putu. Blog Pribadi : www.personfield.web.id

Selanjutnya

Tutup

Jakarta Pilihan

Inikah si Wanita Emas Calon Gubernur DKI?

29 Februari 2016   03:40 Diperbarui: 19 November 2017   14:32 5539 51 63
Inikah si Wanita Emas Calon Gubernur DKI?
Kader Partai Demokrat, Hasnaeni Moein (berkerudung biru) saat berada di kolong tol Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu (23/1/2016). | Kompas.com

Salah satu bakal calon Gubernur DKI Jakarta, Mischa Hasnaeni Moein yang konon kabarnya berjuluk wanita emas dan merupakan kader partai Demokrat, dengan keyakinan dan percaya diri yang luar biasa, mengatakan bahwa Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) bukanlah saingan berat dalam Pilkada DKI tahun depan.  Sebuah sikap yang sangat layak diapresiasi dan dihargai apalagi si Wanita Emas ini merasa bahwa untuk mengalahkan Ahok cukup dengan meyakinkan masyarakat Jakarta.  Kompas.com (28/2/2016)

Dengan tidak mengurangi segala rasa hormat saya kepada si Wanita Emas dan kaum perempuan, sebaiknya anda tidak usah bermimpi terlalu tinggi jika modal anda hanya sekedar menyalahkan petahana.  Saya bukan pendukung Ahok, saya bukan warga Jakarta.  Tapi melihat ambisi politik yang keblinger seperti ini, sepertinya si Wanita Emas hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Beberapa hal yang menjadi penghalang utama si Wanita Emas ini menduduki kursi DKI satu sudah bisa diprediksi dan diindikasi sejak sekarang.

1.  Terbiasa membagikan uang.

Kebiasaan membagikan uang bagi masyarakat bisa dikategorikan sebagai permainan politik uang, walaupun banyak indikasi calon kepala daerah lain ( diluar Jakarta) melakukan praktek yang sama, tapi tidak dilakukan terang-terangan seperti si Wanita Emas.  Walaupun dalih yang digunakan hanya bantuan, seharusnya tidak dibenarkan dan sebagai calon pemimpin yang baik tidak menyelesaikan masalah secara temporer, tetapi harus dengan program unggulan dan terstruktur dengan baik.

2.   Terbiasa menyalahkan.

Sepertinya tidak ada pemimpin yang benar dipenilaian si Wanita Emas, semua salah dan kurang benar.  Dalam penyelesaian masalah yang kompleks, sangat tidak mungkin untuk menyenangkan semua pihak, tentu ada pihak yang dirugikan dan ada pihak yang merasa diuntungkan.  Langkah terbaik dalam penyelesaian kasus seperti ini adalah dengan meminimalkan pihak yang merasa dirugikan.  Ahok, bukanlah Gubernur Jakarta yang paling baik (mungkin masih kalah dengan Ali Sadikin), tetapi cobalah dilihat, setelah Ali Sadikin usai menjadi gubernur Jakarta, adakah gubernur Jakarta yang lebih baik dari Ahok? Kalau dicari kekurangannya, semua pasti punya kekurangan, namun layaklah kiranya diperbandingkan manfaat yang diperoleh dengan kekurangan yang dipunyai oleh sang Pemimpin.

3.    Terbiasa mengentengkan masalah.

Permasalahan DKI Jakarta sangat kompleks, jika hanya diselesaikan dengan retorika seperti teorinya si Wanita Emas, tidak tertutup kemungkinan Jakarta mundur sepuluh bahkan dua puluh tahun kebelakang. Contohnya, dengan mengandalkan latar belakang sebagai pengusaha dengan begitu yakinnya masalah banjir Jakarta akan diselesaikan dalam satu tahun.

Tiga hal ini sudah cukup untuk melemparkan si Wanita Emas dari panggung DKI satu.  Anggapan si Wanita Emas, masyarakat Jakarta masih gampang diberi dan dibuai dengan janji-janji emas yang tidak akan ditepati setelah menjabat sebagai Gubernur DKI.

Dan saya tidak terlalu yakin, masyarakat Jakarta masih mau memilih calon yang sudah berkali-kali gagal menduduki kursi DKI Satu, walaupun saya tidak bisa menafikan bahwa masih ada warga DKI yang tertarik untuk memilih si Wanita Emas sebagai pemimpin mereka.

Tapi alangkah lebih baik jika si Wanita Emas tetap berkarya dan memberikan bantuan kepada masyarakat DKI dalam kapasitasnya sebagai pengusaha dan kader partai Demokrat.  Dengan langkah seperti ini saya yakin si Wanita Emas lebih berguna bagi masyarakat DKI dari pada mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI, karena kekalahan sudah pasti didapat.

Saya tidak ingin menghalangi haknya sebagai warga negara untuk dipilih dan memilih pemimpinnya, tapi sebagai calon pemimpin yang baik alangkah eloknya jika mengenal kapasitas diri.  Andai mengenal kapasitas diri saja tidak mampu, bagaimana mau memimpin Jakarta yang penuh dengan silang sengkarut masalah?