Mohon tunggu...
Aliva Rosdiana
Aliva Rosdiana Mohon Tunggu... Penulis - Ibu Rumah Tangga

Seorang ibu rumah tangga tulen yang juga beraktivitas mengajar dan mentranslate. Senang menulis, walau baru mengawali di Kompasiana. Kegiatan lainnya merajut (crocheting dan niat belajar knitting), memasak, dan bisnis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Guyonan Cerdas

30 Juli 2017   21:58 Diperbarui: 31 Juli 2017   11:28 2885 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Guyonan Cerdas
Gambar 1: Ultraman di pom bensin | https://twitter.com/kabarnas

"Guyonan" dalam bahasa Jawa yang artinya gurauan sering tak luput terselip dalam komunikasi verbal. Orang tidak melihat situasi entah formal dalam bisnis maupun pidato, informal pun apalagi jika sudah ngobrol bareng teman. Walaupun guyonan terjadi seolah-olah tanpa batasan, namun sesungguhnya guyonan sendiri ada batasannya. Saat keadaan yang bagaimanakah guyonan diselipkan, seseorang harus cerdas mengambil celahnya. Jangan sampai ingin memecah suasana (icebreaking) justru malah terkesan guyon di waktu yang salah. Yang akhirnya orang lain malah melihat aneh.

Masih fresh dalam ingatan Prabowo Subiyanto kerap melontarkan guyonan yang memuji nasi goreng pedagang keliling Cikeas kepada tuan rumah SusilO Bambang Yudhoyono (SBY) ketika Prabowo diundang ke rumahnya di Puri Cikeas, Bogor, Bandung, pada hari Rabu tanggal 27 Agustus 2017. Sontak lontaran Prabowo mengenai nasi goreng ini mengundang gelak penonton hingga topik ini seolah akhirnya menjadi trend yang memicu pembahasan mengenai pengesahan Undang-Undang (UU) Pemilu. Guyonan semacam ini menjadi icebreakingsebelum menginjak pada maksud kedua orang penting dalam masing-masing partai ini berniat untuk bertemu. Tentu saja Prabowo melontarkan guyonan nasi goreng itu untuk memberikan ruang keduanya bahwa keduanya memiliki hubungan yang akrab antar partai politik di luar penghargaan terhadap nasi goreng serta pujian kepada tuan rumah.

Guyonan yang terjadi antara kedua orang penting dalam partai Demokrat dan partai Gerindra ini merupakan basa basi yang kerap terjadi dalam masyarakat pada umumnya. Ketepatan waktu atau momen guyonan dipilih seseorang secara cerdas sehingga bagaimana guyonan semacam ini mendapat respon pendengar. Guyonan dalam media cetak pun kerap muncul. Seringkali penulis dan seniman memunculkannya dalam komik yang dikemas sedemikian rupa sehingga memancing pembaca untuk berkomentar. Serupa dengan komik, karikatur pun jadi pilihan dalam media cetak maupun media online. Biasanya karikatur dibuat untuk menyindir statement pemerintah atau pejabat pemerintahan yang dianggap trend dalam berita.

Dalam online pun ada istilah humor dengan sebutan “meme”. Istilah meme ini sudah menjadi jajaran istilah internet yang sering digunakan netizen untuk merespon suatu hal dengan gambar atau foto dan tulisan yang dianggap lucu. Menurut Wikipedia, istilah “meme” berarti ide, perilaku, dan gaya yang menjadi budaya dalam masyarakat. Meme internet atau cukup disebut ‘meme’ saja, pengeditan tulisannya tidak perlu menggunakan photoshop karena sudah dipastikan berat. Ada sistem tersendiri untuk meme yaitu meme generator yang memberikan layanan gratis bagi netizen untuk dunia permemean.

Di internet pun kerapkali ditemukan gambar seolah memancing netizen atau penerima pesan baik lewat grup facebook, WhatsApp, atau line media lain untuk membaca tulisan yang tertera dari awal sampai akhir. Nampak tulisan dengan gambar sebagai pendukungnya ingin menyampaikan informasi kepada pembaca agar membacanya sampai akhir. Yang kemudian ujung-ujungnya itu hanya guyonan.

Orang mungkin menganggap gambar ini lelucon. Bagi saya tidak jika gambar ini diposting di sosial media dengan gambar ultraman dan monster yang disembunyikan. Hal ini mungkin lelucon tapi lelucon yang salah penempatannya. Apa yang terjadi jika si pengumbar pesan memberikan info ngawur yang akhirnya timbul fitnah. Konteks dimana netizen ingin memposting gambar atau meme dengan maksud ingin menghibur harus cerdas menyikapinya. Jangan sampai alih-alih ingin memberikan lelucon malah justru memalukan dirinya. 

Di satu grup WhatsApp yang notabene anggotanya mayoritas pendidik, seorang pendidik (katakanlah masih baru dan masih muda) memposting gambar tidak senonoh. Sontak guyonannya bukan lagi mendapat respon namun tidak ada respon sama sekali. Toh apa yang perlu diingatkan kalau sudah jelas hal tersebut tak layak ditampilkan.

Guyonan berupa karikatur pun turut menyindir generasi muda yang mulai heboh dan senang dengan dunia online nya. Salah satunya facebook. Sindiran dalam karikatur pun tergambar sebagai berikut:

Gambar 2: Karikatur facebook seolah menyindir generasi sekarang yang lupa waktu karena asyik berfacebook ria || detutorial.com
Gambar 2: Karikatur facebook seolah menyindir generasi sekarang yang lupa waktu karena asyik berfacebook ria || detutorial.com
Tak luput pula meme menyindir netizen dengan instagramnya. Sindiran ini ditujukan kepada anak muda muslim yang lalai pergi ke masjid, sedangkan ngeposting di instagram atau facebook tidak.

gambar 3: generasi sekarang || kartun.co
gambar 3: generasi sekarang || kartun.co
Guyonan dianggap cerdas karena mengandung pragmatik baik berupa karikatur, tulisan meme, maupun komik. Guyonan mengandung pragmatik sehingga dibutuhkan kepekaan dalam menangkap maksud guyonan tersebut. Berikut contoh lelucon dalam komik.

Gambar 4: komik lelucon || provoke-online.com
Gambar 4: komik lelucon || provoke-online.com
Menciptakan lelucon itu tidak lah mudah. Seniman yang menciptakan baik berupa gambar maupun tulisan harus memiliki kompetensi linguistik dan seni yang mumpuni untuk bisa membaca situasi dan pikiran pembaca sehingga pesan yang disampaikan berhasil diterima. Seringkali komik, iklan, karikatur, menjadi bahan tulisan dalam skripsi mahasiswa untuk mengungkap makna tersirat yang layak untuk dianalisa.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x