Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Tipe Aliran Transfer Pemain dan Status Akhirnya

22 Maret 2021   11:42 Diperbarui: 22 Maret 2021   15:54 215 27 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tipe Aliran Transfer Pemain dan Status Akhirnya
Ilustrasi: Alip Yog Kunandar

Kalau diibaratkan, transfer pemain dalam dunia sepakbola itu seperti mengalirkan perahu kertas pada sebuah aliran sungai. Dimulai dari hulu dan berakhir di muara yang bertemu dengan laut.

Hulu adalah periode pembibitan kalau di zaman menjamurnya akademi sepakbola modern. Meski tak dipungkiri ada juga pemain yang lahir dari jalanan kemudian dibawa masuk ke dalam sebuah aliran sungai.

Hilirnya adalah akhir karir si pemain. Ada yang sampai di sebuah muara, berakhir di sebuah klub impiannya, menjadi legenda di sana dan dikenang oleh para penggemarnya, atau bahkan yang beruntung dibuatkan patung atau diabadikan dalam bentuk lain, misalnya namanya menjadi nama stadion, dan sebagainya.

Layaknya sebuah perahu kertas yang rentan, banyak juga yang karirnya tersendat-sendat. Entah itu karena memang permainannya yang biasa saja atau bahkan buruk. Ada juga yang karena bernasib sial, mengalir lancar dan cepat di awal, tapi akhirnya terkena nasib sial, harus mengakhiri karirnya karena tersangkut batu atau kayu di sungai. Misalnya saja mereka yang mengalami cedera parah sehingga karirnya terhambat atau bahkan yang harus mengakhiri karirnya lebih cepat di usia yang sebenarnya masih cukup muda.

Dengan menggunakan metafora sungai ini mari kita tengok beberapa jenis pemain dan perjalanan karirnya dari hulu hingga ke hilirnya, dan bagaimana status mereka di mata penggemarnya.

Untuk hulunya, kita lupakan soal akademi dan tahap pemain muda. Kita hitung saja dari kontrak professional pertamanya supaya lebih simpel. Sementara status, adalah sebutan umum yang dilekatkan oleh penggemar kepadanya, apakah itu legenda, bintang, diakui atau dianggap, dilupakan, atau bahkan yang paling kejam disebut sebagai pengkhianat. Tentu saja penilaiannya subyektif, karena sulit untuk membuat garis tegas diantara kategori 'status' ini.

Rujukan utamanya adalah para pemain yang sudah pensiun, meski dalam beberapa hal, beberapa pemain aktif juga akan disebut sebagai perbandingan.

1. Aliran Tunggal (One-Club Men)

Aliran tunggal di sini diumpamakan pemain yang memulai karir mudanya di satu klub, melaju bersama klub itu, dan berakhir juga di aliran sungai itu. Mungkin dalam perjalanannya bisa saja mereka 'dialihkan' sementara ke aliran sungai lain atau dipinjamkan untuk berbagai alasan. Selama statusnya pemain pinjaman, anggap saja ia tidak pernah meninggalkan klub.

Untuk pemain jenis ini, orang biasanya menyebutnya sebagai one-club men. Siapa saja? Banyak. AC Milan punya nama Paolo Maldini (1984-2009), bek legendaris yang serba Milan. Lahir di kota Milan, masuk akademi Milan, menjadi pemain muda Milan, dan memulai karir profesional hingga akhirnya pensiun juga di AC Milan. Tetangganya, AS Roma, punya Fransesco Totti (1992-2017). Totti memang sempat membela beberapa klub sebelum menjadi pro, tapi kontrak pro pertamanya di Roma dan berakhir di sana pula.

Di Inggris, Liverpool punya Jammie Carragher (1996-2013) yang bahkan punya julukan Mr. Liverpool. Manchester United punya Ryan Gigss (1990-2014) yang bukan kelahiran Manchester, dan bahkan sempat bergabung dengan 'Tetangga Berisik'-nya, Manchester City, tapi itu sebelum menjadi pemain pro.

Di Spanyol ada nama Carles Puyol (1996-2014) dari Barcelona. Rivalnya, Real Madrid tak punya contoh anyar, dalam sejarah klub itu hanya ada empat pemain yang menghabiskan seluruh karirnya di situ, yakni Jos Mara Zrraga (1951-62), Jos Antonio Camacho (1973-89), Miguel Porln 'Chendo' (1981-98) and Manuel Sanchis (1983-2001).

Dalam hal status, tak dipungkiri lagi, para pemain seperti ini sangat sah menjadi legenda sebuah klub karena kesetiaannya. Terlepas dari apakah ia pemain yang sangat luar biasa atau yang biasa-biasa saja.

2. Pindah Lajur

Ini adalah jenis pemain yang memulai karir dari satu klub, lalu pindah ke satu klub lainnya. Bisa saja mereka yang di klub awalnya tak bersinar tapi kemudian bersinar di klub barunya hingga pensiun. Atau sebaliknya, mereka yang bersinar di klub awalnya dan mengakhiri karir di satu klub lainnya.

Steven Gerrard dari Liverpool adalah contohnya. Ia nyaris menjadi one-club men seperti koleganya, Jammie Carragher. Sayangnya, di era Brendan Rodgers, ia hengkang dan mengakhiri karir di LA Galaxy. Begitupun dengan mantan kapten Chelsea, John Terry yang mengikat kontrak tahun 1998 dan mengakhirinya tahun 2017 sebelum masuk masa pensiun dengan bermain bersama Aston Villa yang saat itu masih bermain di Championship.

Xavier Hernndez Creusa tau Xavi adalah contoh di Barcelona, yang nyaris menjadi one-club men sebelum memutuskan masuk masa pensiun dengan bermain di klub Arab Saudi Al Sadd. Real Madrid punya Iker Casillas yang sangat ingin seperti itu. Sayangnya dibuang ke Porto di masa Jose Mourinho hingga pensiun. Begitupun dengan legenda Brasil, Pele. Ia nyaris menghabiskan karirnya di klub Santos, sebelum kepincut main di New York Cosmos (1975-1977) sebelum pensiun.

Pemain seperti ini bisa saja mendapatkan status legenda dari salah satu klub, baik yang awal maupun yang keduanya. Atau mungkin bisa juga dianggap legenda di kedua klub itu. John Terry dianggap legenda Chelsea, pun Steven Gerrard, meski 'tercoreng' oleh masa bakti di ujung karirnya.

Biasanya, fans masih 'mengampuni' mereka. Terry tak dianggap berkhianat ketika meninggalkan Chelsea, karena 'hanya' pindah ke Aston Villa yang saat itu bukan rival karena bermain di kasta bawahnya. Gerrard 'dimaklumi' karena pindahnya jauh, ke AS. Pun dengan Xavi dan Pele.

Tapi bisa juga dianggap sebagai pengkhianat di klub lama dan dianggap menjadi pahlawan atau bahkan legenda di klub berikutnya. Bayangkan saja Raheem Sterling yang dibesarkan Liverpool dan pindah ke Manchester City. Andai saja Sterling hingga pensiun di City, ia akan menjadi 'legenda' di sana, tapi selamanya akan dianggap pengkhianat oleh fans The Reds. Atau bayangkan saja jika Messi tiba-tiba pindah ke Real Madrid!

3. Aliran Bolak-Balik

Ini jenis pemain yang awalnya bermain di satu klub, moncer, lalu pindah ke klub lainnya sebelum akhirnya kembali ke klub asalnya dan pensiun di sana. Danniel Agger, pemain asal Denmark adalah contohnya. Memulai karir di klub Brondby (2004-2006), pindah dan bersinar di Liverpool (2006-2014) hingga menjabat wakil kapten, sebelum akhirnya memilih kembali ke Brondby dan pensiun di sana.

Pemain model ini biasanya dicintai oleh dua klub itu. Fans Brondby mungkin sedikit kecewa saat Agger hengkang, tapi tak melupakannya dan menyambut baik saat kepulangannya. Bisa disebut pemian ini cukup setia, bahkan ketika sudah pindah pun, ia masih mencintai klub lamanya. Ada kemungkinan, ia akan dianggap bintang atau bahkan legenda di kedua klub itu.

4. Aliran 3+

Ini adalah jenis pemain yang berpindah tiga kali atau lebih sepanjang karirnya, tapi tak pernah kembali ke klub sebelumnya. Hari-hari ini, ini adalah jenis pemain yang paling banyak kita temui. David Beckham salah satunya. Memulai karir pro di Manchester United, hengkang ke Real Madrid, pindah ke AS bersama LA Galaxy, dipinjamkan ke AC Milan, sebelum mengakhiri karirnya di PSG. Atau Michael Owen, dari Liverpool ke Real Madrid, ke Newcastle United, Manchester United, hingga gantung sepatu di Stoke City.

Ada juga Ronaldo Lus Nazrio de Lima alias Ronaldo Gundul, yang berkelana dari Cruzerio, PSV, Barcelona, Inter Milan, Real Madrid, AC Milan, dan gantung sepatu di Corinthians.

Banyak kemungkinan bagi pemain model ini. Ia bisa dianggap legenda di salah satu klub (atau lebih) dan dianggap pengkhianat oleh klub lainnya.

Sebut saja Michael Owen. Saat tengah bersinar di Liverpool, ia berkhianat dengan hengkang ke Madrid. Yang lebih menyakitkan lagi, ia kemudian sempat bergabung dengan seteru The Reds, Manchester United. Sehebat apapun ia di Liverpool, jangan harap ada yang menyebutnya legenda. Di MU atau Stoke, siapa yang mau menyebutnya legenda?

Zinedine Zidane pernah mengecewakan penggemar Juventus saat pindah ke Real Madrid. Tapi masih banyak fans Juve yang menganggapnya pahlawan meski sempat dikecewakan. Di Madrid, ia bahkan 'setengah legenda' karena bersinar dan mengakhiri karir di sana hingga sekarang menjadi pelatih. Christiano Ronaldo (jika tak kembali ke salah satu klub lamanya, Sporting, MU, atau Real Madrid), punya kans dikenang dimana-mana, meski juga mungkin meninggalkan kekecewaan dimana-mana.

Pemain lain, Rio Ferdinand, dianggap legenda di MU, meski mengawali dan mengakhiri karirnya di tempat lain dengan nyaris tak ada yang menyebutnya pengkhianat. Cerita indah mungkin dialami Javier Janetti, memulai karir di Talleres dan Banfield sebelum akhirnya bergabung dan menjadi legenda Inter Milan. Fans Talleres dan Banfield sakit hati? Kecewa mungkin tapi tahu diri, karena mereka klub kecil. Bahkan mungkin sekarang keduanya bangga, karena Zanetti pernah main di klub mereka meski saat masih culun.

Ada juga yang dianggap pengkhianat dimana-mana. Salah satunya ya Luis Figo yang mengecewakan fans Barcelona saat pindah ke Madrid, lalu juga mengecewakan Madrid saat pindah ke Inter Milan! Sebesar apapun sumbangan jasanya, fans Barca mungkin yang paling ogah menyebutnya legenda. Nama lain yang bisa disebut dalam kategori pengkhianat dimana-mana adalah Emmanuel Adebayor (setidaknya disebut pengkhianat di Arsenal, City, Spurs) atau juga Carlos Tevez (West Ham, MU, City).

5. Aliran 3+ Bolak-Balik

Ini adalah jenis pemain petualang, memulai karir dari satu klub, berkelana ke banyak tempat, hingga akhirnya kembali ke klub sebelumnya dan pensiun di salah satu klub lamanya.

Pemain pengelana model ini punya banyak kemungkinan. Ada pemain 'tanggung' dari klub tanggung yang punya kesempatan main di klub-klub lebih besar, sebelum diterima kembali klub lamanya. Misalnya saja Dirk Kuijt yang memulai karir dari Quick Boys, ke Utrecht, bersinar di Feyenoord sebelum diboyong dan bermain lumayan di Liverpool, hijah ke Fenerbahce, sebelum kembali ke Feyenoord dan berakhir di klub awalnya, Quick Boys. Kuijt beruntung karena nyaris tak pernah dimusuhi siapapun dan 'dianggap' oleh siapapun yang dibelanya.

Atau juga Diego Maradona. Memulai karir di Argentinos Juniors, mendapatkan nama besarnya di Boca Juniors, pindah ke Barcelona, Napoli, Sevilla, Newell's Old Boys, sebelum balik ke Boca dan pensiun. Maradona beruntung karena banyak yang mendewakannya, setidaknya Napoli dan Boca yang paling terlihat. Yang lainnya, bangga karena pernah disinggahi sang megabintang.

Ada juga Johan Cruyff yang berkelana dari Ajax ke Barcelona, LA Aztecs, Washington Diplomats, Levante, balik lagi ke Ajax, sebelum pensiun di Feyenoord. Setidaknya, penggemar Barcelona memasukkannya dalam daftar 'dikenang,' sementara Ajax malah menganggapnya legenda karena mengabadikan namanya sebagai nama stadion.

Fernando Torres masuk dalam kategori ini dan cukup unik. Sempat dibenci saat pindah dari Atletico Madrid dan menjadi bintang di Liverpool sebelum mengecewakan fans The Reds karena pindah ke Chelsea, hingga akhirnya dimaafkan oleh klub asalnya. Di kalangan penggemar Liverpool, juga terbagi, ada yang masih mengidolakannya, ada juga yang kecewa berat.

Masuk juga dalam kategori ini adalah Zlatan Ibrahimovic. Ia memang masih bermain, tapi CV-nya menunjukkan betapa banyaknya klub yang dibelanya; Malmo, Ajax, Juventus, Inter Milan, Barcelona, AC Milan, PSG, Manchester United, LA Galaxy, dan kembali ke AC Milan. Tak ada yang meragukan kehebatan Ibra.

Persoalannya adalah, penggemar klub mana yang akan mengenangnya sebagai legenda? Mungkin saja kalau ia bisa memberi trofi bagi Milan dan pensiun di sana. Kalau pindah lagi tanpa sumbangan, entahlah.

Di klub lain? Sudah berapa banyak penggemar klub yang dikecewakannya. Bahkan di klub awalnya, Malmo, ia sudah dianggap sebagai musuh gara-gara membeli lebih dari 20 persen saham klub Hammarby IF, musuh bebuyutan Malmo!

Memang banyak hal yang mempengaruhi seorang pemain, apakah ia menetap selamanya di satu klub, pindah ke klub lain, atau bahkan berpindah-pindah terus.

Bagi penggemar, pemain seperti Maldini adalah legenda sejati, bukan hanya karena prestasinya, tapi juga kesetiaannya. Bahkan para penggemar dan pemain klub lain juga menghormati para pemain seperti ini. Hanya saja, di masa sekarang, makin sulit mencari pemain sepertinya.

Ketika kesetiaan kepada klub tak diragukan, model pengelolaan klub berbasis bisnis seringkali membuat pemain senior yang setia pun terpaksa ditendang karena sudah dianggap tak mampu bersaing. Casillas misalnya. Gerrard pun nyaris seperti itu, tak terang-terangan ditendang, tapi mungkin ia sendiri yang merasa begitu, sehingga memilih hengkang.

Selain itu, ada juga faktor agen pemain yang saat ini tak bisa diabaikan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x