Kandidat Artikel Utama

Sebaiknya Jangan Moeldoko

9 Mei 2018   01:34 Diperbarui: 9 Mei 2018   11:32 3177 8 2
Sebaiknya Jangan Moeldoko
Tempo.co

Menjelang pendaftaran Capres-Cawapres untuk Pilpres 2019 yang jatuh pada bulan Agustus mendatang, terlihat semakin banyak tokoh-tokoh yang mulai bermunculan atau mungkin bahkan dimunculkan untuk dipasangkan dengan Presiden Jokowi.

Tidak hanya sekedar dipasangkan atau dijodoh-jodohkan, bahkan belakangan semakin banyak sejumlah kelompok yang mengatasnamakan relawan melakukan deklarasi dukungan kepada tokoh tertentu.

Setelah sebelumnya Relawan JOIN mendeklarasikan dukungannya kepada Ketum PKB Muhaimin Iskandar, kini ada yang baru lagi, yakni "JODOH' (Jokowi-Moeldoko).

Betul, bahwa fenomena semacam ini tentu sangat baik bagi perkembangan demokrasi kita. Namun, jika sosok yang dimunculkan adalah Jenderal Moeldoko, agaknya kurang tepat jika disandingkan dengan Presiden Jokowi untuk bertarung di Pilpres 2019 mendatang. Mengapa? Berikut ini alasannya;

Pertama, Jenderal Moeldoko sering tidak terkontrol ketika berbicara di depan media. Pernyataannya sering kontroversial. Ini penting. Sebab akan sangat berpengaruh bagi elektabilitas Jokowi.

Saya ingat betul ketika Moeldoko menjawab isu yang sempat viral soal jam tangan saat ia masih menjabat sebagai Panglima TNI era Presiden SBY dulu. Jam tangan yang sempat viral dikenakan Moeldoko kala itu tipe Richard Mille RM 011 Felipe Massa Flyback Chronograph "Black Kite", seharga lebih dari Rp 1 miliar.

Jam tangan mewah tersebut menjadi bahan perbincangan miring di dunia maya, dikaitkan dengan isu kesejahteraan prajurit TNI yang masih terbatas, dan gayung bersambut, dibahas pula oleh 'kelatahan' media mainstream.

Sang Jenderal yang bintangnya tengah bersinar terang kala itu pun kaget bukan kepalang, dan gugup saat menanggapi isu miring jam tangannya.

"Kayak gini kok orisinal," kata Moeldoko ketika ditanya apakah itu barang asli atau tiruan.

Moeldoko mengatakan, harga jual jam tangan asli di pasaran bisa mencapai lebih dari Rp 1 miliar. Namun, ia membelinya hanya dengan Rp 5 juta. Moeldoko mengaku membeli jam tersebut karena mengagumi inovasi yang terdapat di dalamnya. (Kompas.com)

Lengkap sudah! Isu miring jam mewah, plus pernyataan yang menurut saya sangat tidak terkontrol. Akibatnya, Moeldoko terus diolok-olok, di-bully di dunia maya tak terkecuali di media mainstream, dan dicap sebagai Jenderal KW alias palsu.

Siapa yang tepuk tangan? Tentu saja pihak-pihak yang ingin melihat Moeldoko yang bintangnya bersinar terang kala itu menjadi redup dan runtuh wibawanya.

Ini baru satu contoh soal pernyataan kontroversial Moeldoko ketika berkomentar di media.

Contoh lain adalah ketika ia mengomentari soal aturan jilbab bagi anggota TNI wanita. Simpel tapi langsung meledak. Apa kata dia? "Kalau mau pakai jilbab, tinggal pindah ke aceh."

Sontak saja pernyataan itu membuat rakyat gaduh dan memancing kemarahan publik, khususnya umat Islam.

Kedua, alasan yang didengungkan oleh kelompok masyarakat yang mengatasnamakan "JODOH", adalah karena Moeldoko memiliki latar belakang militer, sehingga ia diyakini mampu mengimbangi kekuatan Prabowo.

Akan tetapi, sosok cawapres yang seperti ini (latar belakang militer) tidak sesuai dengan kebutuhan mendesak yang saat ini dihadapi Jokowi. Jokowi butuh sosok pendamping yang paham dan mahir di bidang ekonomi.

Bukan apa-apa. Dalam dekade terakhir, kerja keras Jokowi selama hampir empat tahun, bangun infrastruktur di mana-mana, semuanya seolah tak dilihat dan tak dihitung hanya karena kurs Rupiah 'nyungsep' ke angka Rp 14 ribu lebih.

Terpuruknya nilai tukar rupiah ini terjadi saat Jokowi memiliki wakil presiden yang berlatar belakang ekonomi, dan Menteri Keuangan terbaik dunia. Apalagi jika wakilnya tidak mengerti ekonomi, bisa dibayangkan bagaimana ambruknya nilai tukar rupiah. Kemungkinan besar, sejarah 1998 akan terulang kembali.

Oleh sebab itu, Jokowi butuh sosok wakil yang paham betul soal ekonomi. Punya solusi membenahi nilai tukar rupiah dan perekonomian Indonesia. Bukan pendamping yang berlatar belakang militer atau bidang lainnya selain ekonomi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2