Mohon tunggu...
Alfi Pangest
Alfi Pangest Mohon Tunggu...

Pembelajar, pekerja sosial, penikmat buku, penggiat pendidikan, pecinta seni dan budaya, desain, serta sepakbola.

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Pilihan

Madrid dan Kapitalisme

26 Mei 2014   03:40 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:07 76 0 0 Mohon Tunggu...

"You know capitalism is this wonderful thing that motivates people, it causes wonderful inventions to be done."


Dalam sebuah wawancara, Bill Gates menyebutkan bahwa kapitalisme memiliki andil besar dalam menentukan berbagai pencapaian baru umat manusia. Sisi buruknya, kapitalisme memperlebar ketimpangan antara si kaya dan si miskin, menyebabkan banyak orang miskin semakin berpotensi terkena penyakit yang mendekatkan mereka pada kematian. Ini fakta yang kita sadari bersama bahwa sedari lama, para pemilik modal merupakan antitesis dari kaum yang berjuang keras dengan segala keterbatasan. Pagi ini kita kembali diingatkan kalimat Bill Gates ketika diwawancara oleh Bill Moyers tersebut manakala Real Madrid menahbiskan dirinya sebagai klub tersukses dengan merengkuh gelar Liga Champions kesepuluhnya.

Tiada yang lebih melegakan selain melepas dahaga yang teramat lawas dengan sebuah minuman berkelas yang tersaji dalam mewahnya gelas. Ini bukan sekedar tegukan pertama setelah selusin musim berlalu tanpa ada gelar paling prestisius di kompetisi Eropa di kabinet klub ibukota. Ini adalah jawaban dari usaha panjang setelah menggelontorkan nyaris satu milyar poundsterling, mendatangkan 62 pemain, dan mengorbankan 10 pelatih. Penantian yang nyaris berujung lara saat Diego Godin menceploskan bola di menit 36, dan jawara La Liga itu tampak hanya beberapa centimeter dari ujung piala sebelum Sergio Ramos menceploskan bola di masa injury time. Permainan berubah seketika itu, dan Los Merengues tampak lebih haus pasca gol dari sang wakil kapten memberi penanda bahwa harapan itu masih ada.

Mari kita melihat ke tribun dan sisi lapangan Estadio Da Luz, pada sosok Florentino Pérez dan Zinedine Zidane. Keduanya berada di Hampden Park saat trofi Liga Campions terakhir dibawa pulang oleh Fernando Hierro dkk di tahun 2002. Kita masih ingat tendangan kaki kiri spektakuler Zidane membawa Real Madrid memecundangi Bayer Leverkusen. Hari ini, dari bench Zidane menyaksikan kembali si kuping panjang diangkat oleh armada Los Blancos dalam kapasitasnya sebagai asisten Carlo Ancelotti. Pérez dan Zidane pasti paham betul, dua belas tahun merupakan periode yang lama untuk klub sekelas Madrid yang punya ambisis dan motivasi besar. Tanyakan pula ini kepada sang kapten Iker Casillas, yang meskipun di tahun 2002 lalu hanya menjadi penghangat bangku cadangan di partai final, pastinya menginginkan sekali trofi yang satu ini dibawa pulang ke Santiago Bernabeu. Dahaga ini terasa patut dirayakan karena Madrid mendapatinya setelah melalui musim mengesankan dengan membabat wakil-wakil terbaik Jerman di fase 16 besar, 8 besar, dan 4 besar; mencetak 40 gol sampai fase final, mengandaskan juara bertahan dengan agregat lima gol tanpa balas di semifinal, dan tentu saja menghajar juara La Liga sekaligus rival sekota di final. Sebuah hasil yang mereka dapat dengan gaya, bukan sekedar strategi parkir bus atau permainan pragmatis belaka.

Publik kota Madrid akhir pekan lalu disuguhi pesta perayaan fans Atletico. 200 ribu orang memadati pusat kota, mengelu-elukan para pemain dan jajaran pelatih yang membawa klub tersebut menjadi yang terbaik di tanah Spanyol setelah sekian lama. Kapten Los Rojiblancos Gabi didapuk untuk menyematkan scarf Atletico ke patung Neptuno yang telah berusia lebih dari 250 tahun. Sebuah perayaan yang seolah menebalkan semangat bagi fans Los Colchoneros yang lebih sering melihat pusat kota Madrid ramai oleh iring-iringan Madridista yang menuju air mancur Cibeles, tempat di mana pesta perayaan Copa Del Rey digelar bulan lalu dan tempat yang sama untuk menggelar perayaan La Decima nantinya.

Motivasi bisa membuat seseorang atau sekelompok orang berbuat sesuatu melebihi batas kemampuan dirinya. Itulah mengapa kita bisa melihat Denmark menyingkirkan Jerman lalu juara Eropa di tahun 1992, Zambia mengalahkan Pantai Gading dan menjadi jawara di edisi teranyar Piala Afrika, Steaua Bucharest mengandaskan Barcelona di final Piala Eropa 1986, Yunani mengangkat trofi Euro 2004 setelah mengangkangi tuan rumah Portugal, atau FC Porto di Liga Champions di tahun yang sama. Kita banyak belajar dari Atletico dan Diego Simeone yang membuktikan bahwa cukup menghabiskan kurang dari 80 juta Euro untuk 22 pemain, dibandingkan rival sekota yang bermewah-mewah menggelontorkan lebih dari 190 juta euro hanya untuk Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale saja. Hari ini cerita manis Atletico di musim ini terhenti. Mungkin penyebabnya Atletico tidak cukup haus untuk menang hari ini, toh mereka sudah meraih gelar La Liga musim ini. Mungkin sampai di sinilah batas keajaiban Atletico itu terjadi.

Apa yang terjadi andai Sergio Ramos gagal menjaringkan bola ke gawang Thibaut Courtois di injury time? Dalam kacamata bisnis, hal tersebut akan menyebabkan pukulan telak bagi kaum pemodal. Kita sudah menyaksikan bagaimana ruang ganti Madrid pernah disesaki bintang-bintang lapangan hijau mulai dari David Beckham, Wesley Sneijder, Arjen Robben, hingga Kaka. Mereka adalah pemain yang sukses mengangkat trofi liga Champions bersama klub lain sebelum atau setelah di Madrid, tapi tidak ketika berseragam Madrid. Satu milyar poundsterling dan tiga rekor transfer termahal dalam sepuluh tahun terakhir, ialah fakta bagi sebuah harga untuk trofi kesepuluh yang diidamkan sejak lama. Pagi ini, hanya dua pemain Madrid di lapangan yang pernah mengangkat trofi ini sebelumnya, Iker Casillas dan Cristiano Ronaldo. Xabi Alonso yang memenanginya bersama Liverpool, hanya duduk di kursi penonton karena akumulasi kartu. Sungguh akan menjadi pertanda buruk bagi klub-klub berkantong tebal, andai gol Ramos dan tiga gol Madrid lainnya tidak terjadi. Tapi selalu ada pengorbanan bagi sebuah hasil yang memuaskan, dan Madrid membuktikannya. Mungkin memang segitulah harga sebuah La Decima. Mahal memang. Tidak semua yang mahal akan berbuah hasil manis, tapi sebuah hasil manis pasti didapat dari harga perjuangan yang mahal. Dan sungguh, setelah ini kita akan lebih kerap melihat, bagaimana para pemilik modal di dunia sepakbola akan meniru cara Real Madrid mencetak prestasi.

Florentino Pérez tersenyum, menikmati musim yang mengesankan dengan trofi Liga Champion dan persembahan persentase kemenangan 80,36% oleh Carlo Ancelotti, terbaik sepanjang sejarah pelatih Madrid. Para pemain dan fans boleh larut dalam bahagia usai mendapatkan hasil perjuangan yang lama dan berharga. Dan di Barat sana Bill Gates pun melakukan hal yang serupa, berinvestasi dengan hal-hal besar kemudian menuai hasil yang besar pula. Bill & Melinda Gates Foundation adalah salah satu yayasan dengan dana abadi terbesar di dunia, sebuah inisiatif besar yang ternyata memberikan return value dalam bisnis yang besar pula bagi Bill Gates dan kolega. Bagi beberapa orang hal ini terlihat seakan tidak ada korelasi langsungnya, tapi eksistensi Microsoft di dunia IT tidak bisa dipungkiri terdapat peran besar Gates yang doyan beramal dan berinvestasi melalui yayasannya. Semakin banyak mengeluarkan uang (baca: investasi) untuk memberi, semakin banyak kita akan menerima.

Madrid dan Microsoft mungkin bermain di ranah yang berbeda, tetapi pola dasar bisnisnya sama, investasi yang besar disertai motivasi yang kuat akan berbuah hasil yang memuaskan. Florentino Pérez dan Bill Gates telah membuktikannya, para pemilik modal masih menguasai dunia. Selamat, Real Madrid!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x