Humaniora

Peran Kertas dalam Menjaga Firman Tuhan

12 Januari 2018   19:48 Diperbarui: 12 Januari 2018   19:51 244 0 0
Peran Kertas dalam Menjaga Firman Tuhan
sumber foto: santri.net

Disiang yang cukup terik, setelah kegiatan pesantren selesai pada waktu itu, salah seorang teman satu pesantren mengembalikan buku novel pertama dari serial anak-anak mama karangan Tere liye. tentu sampul buku dan halaman-halama yang lusuh sudah tidak dikenali kapan saya pernah memiliki buku ini. 

Tapi ada satu petunjuk dalam lembar  pertama yang memastikan bahwa buku itu punya saya, yaitu ada tulisan nama saya lengkap bersama alamat saya. Lantas saya tertegun dan menyadari hal penting ternyata novel burlian merupakan buku pertama yang saya baca dalam kategori cerita fiksi berbentuk novel.

Tiba-tiba saya merasa beruntung, karena bentuk kenangan spesial itu berupa buku yang terhimpun dalam lembaran-lembaran kertas yang terbilang simpel dan tahan lama. Memang iya, karena hanya elemen air dan api yang mampu memusnahkan tulisan-tulisan dalam kertas secara masif. selain itu, hampir tidak ada yang dapat memusnahkan tulisan dalam kertas secara efektif kecuali serangga Rayap. 

Aku patut berterima kasih kepada kertas yang mampu menjaga tulisan itu tetap utuh setelah empat tahun hilang. Tampaknya, tidak hanya aku yang harus berterima kasih pada kertas. Bahkan sebagian agama-agama harus berterima kasih pada kertas.

Kita semua tahu, bahwa sebagian agama-agama memiliki kitab suci, kitab suci tersebut difungsikan sebagai pedoman hidup, rujukan pertama dalam hukum agama dan bahkan kitab suci adalah representasi dari eksistensi sebuah benuk komunikasi antara Tuhan dan Manusia. Lewat kitab suciNya Tuhan menyalurkan perintah dan laranaganNya, melalui perintah dan laraganNya, 

Tuhan menunjukkan sikap moral ideal yang dikehendaki olehnya, supaya manusia dapat menjalani kehidupan yang diinginkan Tuhan dari aspek ritual dan sosial. Tidak hanya itu, dalam kitab suci tertera juga janji dan ancaman, potret sebuah masa depan sebagai buah dari konsekuesi  segala perbuatan manusia. Disamping itu, isi dari kitab suci adalah kalam tuhan mengenai kehidupan sejarah dan tanda-tanda alam agar manusia mengambil sebuah pelajaran darinya.

Kitab suci, hampir semuanya pernah terbukukan dengan lembaran-lembaran kertas dalam bentuk buku. Juga semua kitab suci pernah mengalami masa-masa dimana kertas belum ditemukan. Jadi, alternatif pada masa-masa tersebut, kitab suci tertulis pada bongkahan-bongkahan batu, di pelepah-pelepah daun, potongan-potongan bambu, kepinagan-kepinagn logam dan lembaran-lembaran kulit hewan dan kulit kayu.

Betapa tidak efisiennya tulisan dalam bungkus tersebut, meskipun itu adalah satu-satunya agar kitab suci terpelihara dan berjalan terus secra estafet dari generasi ke generasi. Termasuk juga kitab suci al-quran dalam masa-masa turunnya, ditulis di pelepah Kurma, kulit-kulit yang sudah distrilkan dengan di samak dan bongkahan Batu dan Tulang. 

Ada cerita sejarah yang menyebutkan proses masuk islamnya salah satu tokoh muslim Umar bin Khatab dilatar belakangi ketika umar menemukan penggalan ayat suci al-Quran surat at-Taha ayat satu sampai enam yang tertulis di pelepah Kurma dirumah adik permpuannya.

Sejarah mulai berubah ketika kertas ditemukan pada tahun seratus lima masehi di Cina dan mulai menyebar luas di timur tengah yang bermula di Samarkand dan Baghdad beserta tersebarnya industri kertas yang bersumber di spanyol, dan sisilia. pada awalnya memang pembuatan kertas memerlukan biaya produksi yang besar, sehingga penemuan ini tidak begitu maksimal dan masih banyak sudut-sudut dunia yang belum mengenal kertas. 

Baru pada abad ke sembilan belas tepatnya tahun 1830 Charles Fenerty dan Friedrich Gottlob di tahun 1840 menemukan mesin yang dapat  membuat bubur kertas dari serat kayu, mesin ini membuat harga kertas semakin terjangkau dan dinikmati semua kalangTuh

Hasilnya hampir bisa dipastikan, semua kitab suci menggunakan kertas secara masal yang sebelunya secara terbatas. Melalui berbagai percetakan-percetkan yang mengalami evolusi dari tahun ke tahun hingga sekarang. Deretan kitb suci itu antara lain, al-Quran dalam agama Islam, kitab Bibel dalam aga Kristen, Sinagog, kitab suci Taurot dalam agama Yahudi dan kitab Weda dalam agama Hindu. kitab-kitab suci tersebut merasakan peran kertas untuk melestarikan dan menyebrkan kitab-kitab suci diatas sehingga terjangkau oleh pembaca-pembaca penganut agama masing-masing.

Disini kita bisa meliahat peran kertas dalam melestrikan agama-agama, melalui ajaran kitab sucinya, eksistensinya masih bisa dirasakan oleh penganut-penganutnya, memang tidak semua agama memiliki kitab suci, namun tidak bisa dipungkiri, jika agama yang memiliki kitab suci, lebih unggul dari agama (baca: kepercayaan) yang tidak memiliki pedoman baku yang tertuang  dalam bentuk kitab suci. Karena agama yang memiliki kitab suci akan lebih kompleks dan bisa bertahan lama, sebagai ilustrasi, Islam tidak akan sedetail itu dalam mengatur aturan-aturan moral dan ritual jika tidak ada al-Quran, dan Yahudi tidak akan bertahan sampai sekarang jika tidak ada kitab sucinya.

Jadi bisa disimpulkan bahwa eksistesi agama sangat tergantung oleh adanya kitab suci, sedangkan kitab suci sangat terbantu oleh adanya kertas dalam proses penggandaan dan terpeliharaya secara efektif dan efisien, selaras ungkapan bijak dan bron dalam  salah satu bukunya "waktu adalah sungai, dan buku adalah perahunya.banyak yang diluncurkan dalam sungai hanya untuk hancur dan hilang melampaui ingatan didalam pasir-pasirnya. Hanya sedikit, sedikit sekali yang bertahan terhadap ujian waktu dan tetap hidup di abad-abad berikutnya"

Sangat beralasan sekali jiaka sabda diatas dianggap benar secara ilmiah, karena bagaimanapun, ingatan manusia sering terkontaminasi oleh kepentingan dan gangguan eksternal dan internal lainnya. Bisa dipastikan jika firman Tuhan hanya di bungkus dalam ingatan sang nabi, lalu ingatan nabi tentang firman tuhan tersebut disalurkan kepada ingatan-ingatan murid-murid nabi. bisa dipastikan firman tuhan tidak akan bertahan sampai sekarang. toh jika bertahan sampai sekarang bisa dipastikan firman tuhan tidak akan utuh dan telah mengalami distorsi dimana-mana. 

Mengenai peran kertas terhadap eksistensi kitab suci, tidak berlebihan andai jika tuhan tidak menakdirkan penemuan kertas terlahir di muka bumi ini, penyebaran dan eksistensi kitab suci tidak akan semasif sekarang dan tidak seterjangkau sekrang. Memang, masih ada media-media lain sebelum kertas dilahirkan, namun jika masih dengan cara itu, ajaran agama hanya dikenal dan dibaca secara terbatas dan eksklusif.

Kini kita disambut dengan dunia internet, sejalan dengan itu, segala informasi dan bacaan telh tersedia dalam bentuk digital. Bill Gates pernah memprediksi di tahun 1990 bahwa sepuluh tahun lagi (2000) surat kabar cetak akan mati karena tergantikan oleh oleh surat kabar elektronik. Selang sepuluh tahun berselang, bill gates merevisi ramalannya menjdi lima puluh tahun lagi. kita sebenarnya sudah merasakan proses pergeseran keadaan yang akan berujung pada kebenaran ramalan tersebut. 

jika ini terjadi, saya rasa tidak hanya surat kabar cetak yang akan tergantikan oleh versi elektronik, namun juga kitab-kitab suci dengan bentuk lembaran kertas yang dianggap sakralpun akan beralih kepada versi digital.seperti sekarang sudah ada dalam versi aplikasi. Namun, tidak lupa kita menghargai peran kertas dalam menjaga firman Tuhan.