Alfan Hilmi
Alfan Hilmi pelajar/mahasiswa

...

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Nenek 73 Tahun Ikut Konvoi Persija dan Nonton Bola Sejak di Lapangan Ikada

20 Februari 2018   11:04 Diperbarui: 21 Februari 2018   16:38 1244 2 0
Nenek 73 Tahun Ikut Konvoi Persija dan Nonton Bola Sejak di Lapangan Ikada
Dokumentasi pribadi



Seorang nenek berusia 73 tahun ikut konvoi menuju Balai Kota DKI Jakarta bersama puluhan ribu suporter Persija yang sebagian besar muda, Ahad 18 Februari 2018 sore. Hajah Rahmah biasa ia dipanggil. Rahmah sengaja berangkat dari rumahnya di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat untuk merayakan kemenangan Persija dalam laga Final Piala Presiden 2018.

Sepanjang konvoi Rahmah duduk di atas kursi roda yang didorong anaknya, Silvi, 48 tahun. Nenek dengan 10 orang anak itu mengalami pengapuran sendi lutut sehingga tidak bisa berjalan. Namun teriakan dan yel-yel dari para the Jakmania, panggilan suporter Persija, membuatnya selalu tersenyum sumringah.

Sekilas tampilan Rahmah seperti ibu-ibu pada umumnya. Ia mengenakan abaya hitam dengan kerudung berwarna cokelat. Namun yang membuat unik, Rahmah mengalungkan syal bertuliskan "Persija Jakarta" di lehernya. Selama konvoi ia tidak henti-hentinya memberikan "salam jempol telunjuk" khas Jakmania kepada suporter Persija yang lain.

Menyaksikan Persija bertanding di stadion biasa bagi Rahmah. Ia bahkan sudah menyaksikan Persija berlaga ketika Gelora Bung Karno belum selesai dibangun di era Orde Lama.

"Dahulu waktu mainnya di Ikada (sekarang Lapangan Banteng) saya sering nonton Persija," kata Rahmah saat ditemui penulis ketika rombongan the Jak mania tiba di Balai Kota DKI Jakarta pukul 16.00.

Rahmah mengaku sudah menjadi suporter Persija sejak tahun 60-an, yakni saat ia masih gadis. Ia mengatakan sebelum menikah dan punya anak, dirinya sudah keranjingan sepak bola.

Masih membekas di benak Rahmah pertandingan antara Persija dengan klub Uni Soviet, Zenit Leningrad pada 31 Desember 1959. Saat itu ia masih bau kencur, umurnya baru 15 tahun.

Persija memang sempat mengundang Zenit ke Jakarta untuk berlatih tanding 59 tahun silam. Namun sayang, klub dengan julukan Macan Kemayoran tersebut harus menerima kehebatan Zenit dan kalah 3--1 di kandang sendiri.

"Saya ingat stiker Persija zaman dulu, Abdul Kadir. Kalau sekarang Bepe (Bambang Pamungkas)," kata Rahmah sambil terkekeh.

Abdul Kadir yang terkenal dengan juluk Si Kancil adalah salah seorang pemain Timnas Indonesia di akhir 60-an. Ia pernah membawa Indonesia menjuarai Piala Raja 1968, Merdeka Games 1969 dan Pesta Sukan Singapura 1972.

Rahmah mengatakan, suaminya yang telah wafat beberapa tahun lalu juga gila bola. Anak-anaknya yang berjumlah 10 orang juga mendukung aktivitas Rahmah yang di luar kebiasaan ibu-ibu pada umumnya.

Hanya saja, kakaknya terkadang heran dengan kebiasaan Rahmah yang masih gemar bola di usia senja. Ia mengatakan di antara ayah, ibu dan kakaknya, hanya dirinya yang gemar sepak bola.

"Pernah kakak saya nanya sehabis arisan, 'kamu mau ke mana?' terus saya jawab 'nonton bola,'. Dia sambil tertawa bilang 'gila kamu,'" ujar Rahmah menirukan perkataan kakaknya.

Metro Tempo.co
Metro Tempo.co

Persija Jakarta berhasil menjuarai Piala Presiden 2018 setelah mengalahkan Bali United 3--0 pada pertandingan final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu malam, 17 Februari. Rahmah bahkan berniat untuk hadir ke GBK dan menyaksikan klub kesayangannya tersebut bertanding kemarin malam.

Namun ia mendapatkan kabar bahwa suasana di GBK rusuh sehingga ia mengurungkan niatnya untuk hadir. Sebagai penggantinya, Rahma menyaksikan laga final kemarin di teve.

Menurutnya kehadirannya di acara konvoi the Jakmania dari Senayan ke Balai Kota sore itu menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia mengaku bangga klub kesayangannya sejak remaja itu bisa juara. "Kalau enggak juara saya enggak akan datang ke sini (Balai Kota)," kata dia.

Menantu Rahma, Roni berusia 35 tahun mengatakan dirinya sedikit khawatir saat Rahmah memutuskan untuk ikut konvoi bersama the Jak ke Balai Kota. Hal ini mengingat kondisi Rahmah yang sudah tua dan tidak bisa berjalan.

"Sempet khawatir tetapi karena sudah kemauannya mau diapakan lagi," kata Roni tertawa.