Mohon tunggu...
Alexius Mahargono Digdoprawiro
Alexius Mahargono Digdoprawiro Mohon Tunggu... Alumnus Pemerintahan FISIP UNDIP angkatan 1985. Aktifis Mapala dan fotografi. Peminat Literasi, perkara perkara politik, sosial dan seni

penggiat alam bebas, fotografer, pemerhati sosial politik, penulis lepas

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Survival of The Fittest

12 Mei 2020   16:09 Diperbarui: 12 Mei 2020   16:08 14 0 0 Mohon Tunggu...

Jika bicara tentang kapan berakhirnya pandemi, satu-satunya indikator adalah Zero. Zero kematian, zero pasien baru, zero kasus baru, dan satu-satunya cara hanyalah dengan tersedianya vaksin dan obat untuk seluruh warga negara dan dunia. Dan saat ini adalah sangat jauh dari mungkin. Sebab proses pembuatan vaksin bisa memakan waktu dua tahun bahkan lebih. 

Nah, jika segala upaya pembatasan yang dilakukan pemerintah untuk menghambat laju penyebaran virus ini harus dipertahankan hingga vaksin tersedia, saya kira pemerintah di belahan dunia manapun ga akan sanggup menanggung beban sosial dan ekonomi yang akan terjadi terhadap warga negaranya. Dengan kata lain, pemerintah (di mana pun) hanya dapat menahan lockdown, PSBB, Social Distancing dan sejenisnya untuk jangka waktu tertentu saja. 

Segala bentuk pembatasan akan berakhir perlahan secara bertahap. Pemerintah juga tidak akan menunjukkan keketatan seperti yang sudah-sudah, dengan berbagai pertimbangan panjang dan matang dari segala sisi. Karena apapun itu, peng-alam-an dua bulan lebih menjalani hidup dengan situasi yang serba tidak normal, pasti dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana menjalankan pola hidup sehat, menjaga kebugaran dan kebersihan, agar imunitas tubuh terjaga, terutama bagi orang yang peduli dengan kelangsungan hidupnya dan orang lain. Artinya yang ga peduli ada dong...? Ada... banyaaak...!

Peng-alam-an dua bulan lebih, paling tidak telah membuat kita mengetahui tentang apa itu Corona (COVID-19), penyebarannya, inkubasinya, menjaga jarak, mencuci tangan, dll. Artinya habit harus berubah. Yang ga mau berubah ada...? Ada... banyak...! Dan saya yakin mereka yang rajin menggunakan akal sehat, pasti akan memahami kemudian melakukan rutinitas dan habitus baru ini. 

Sebab jika harus selalu bergantung dan menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada pemerintah, maka dapat dipastikan pemerintah pasti mengalami kesulitan dalam melindungi setiap warga negaranya 24 jam penuh selama 365 hari. Artinya kita harus mengambil peran untuk melindungi diri kita sendiri, dengan mengkristalisasikan segala sesuatu yang terjadi selama ini. 

Merubah pola pikir menjadi sangat penting bahwa kehidupan, masa depan dan keluarga sepenuhnya ada di tangan kita. Maka setelah segala pembatasan secara bertahap dibuka, selalu berpikirlah bijak sebelum melangkahkan kaki. Kalian dapat pergi bekerja, berkantor, belanja, refresing, tetapi selalu taatlah dengan aturan dan protokol.  

Lantas apakah dengan demikian berarti corona sudah pergi? Tidak sama sekali, sebelum vaksin ditemkan. Corona dengan "congkaknya" masih tetap tinggal menetap di setiap jengkal udara dan langit negeri ini. Berarti mulai sekarang kita harus belajar untuk hidup dengan bijak dengannya,  dengan mengubah gaya hidup, dengan memperkuat kekebalan tubuh. 

Setidaknya sampai vaksin tersedia, dan diimunisasikan kepada seluruh warga negara. Dan paling tidak cara ini harus dijalani 8 hingga 12 bulan ke depan dengan disiplin. Hanya dengan cara itu lah kita bisa selamat. Sedangkan mereka yang tidak mau berubah, silahkan berkubang dengan masalah.

Survival of The Fittest, bukan dalam arti siapa yang kuat dialah yang menang. Tetapi siapa berakal sehat, peduli akan hidupnya dan hidup orang lain, dengan tetap mengindahkan protokol dan mau belajar dr peng-alam-an selama dua bulan lebih kemarin, dialah yang akan selamat. Mari berdamai!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x