Mohon tunggu...
Aldi Nur Fadilah
Aldi Nur Fadilah Mohon Tunggu... event and wedding organizer

Aouthor of book Pesan Untuk Semesta || Pegiat Sosial || Tourism Ambassador Of Pangandaran || Duta Baca Jawa Barat

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Hidup di Antara Orang yang Menyebalkan (Sebuah Filsafat)

8 April 2020   09:35 Diperbarui: 8 April 2020   09:42 129 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hidup di Antara Orang yang Menyebalkan (Sebuah Filsafat)
ilustrasi lektur.ID/konten

Menyebalkan adalah respon dari penyebabnya sebuah masalah

Apa yang terjadi pada diri kita apabila bangun tidur, ibu sudah marah-marah karena kita masih bermalas-malasan. Padahal kamu tahu bahwa hari ini adalah hari libur.

Kamu hanya meminta tubuhmh untuk sekedar beristirahat dari aktivitas yang selama seminggu membosankan dan terus berulang-ulang.


Apakah ibumu yang salah memarahimu karena malas. Apakah kamu yang berbuat salah, sedangkan niatmu adalah untuk istirahat.

Sekarang kita pahami, apa yang dimaksud ibu untuk membiarkan anaknya bermalasan itu sebuah hal yang menyebalkan. Tentunya respon kita akan begitu kesal dan teras terganggu dengan semua itu.

Namun perlu kita ketahui kesalahan dalam percakapan antara ibu dan anak ada pada kesalahan anak itu sendiri. Sebab kita merespon itu dengan perasaan tidak bersalah.

Mungkin kita juga pernah merasa begitu kesal dan menyebalkan saat kita pergi ke luar rumah. Merasa malas untuk pergi ke acara keramaian atau bertemu dengan orang banyak terasa mengeluarkan banyak tenaga.

Dalam diri kita berpikir bahwa mereka akan memberikan perilaku yang menyebalkan. Saat kita baru saja keluar ruamah bergegas untuk berangkat kerja atau sekolah.

Lalu diperjalanan ada aja orang yang melanggar aturan lalu lintas misalnya, menerobos lampu merah, belok secara tiba-tiba tanpa lampu sen. Pergi ke tempat umum seperti mall, hal yang menyebalkan ketika dalam antrtian toilet dan lift.

Dan pergi ke acara kelurga pun sekalian, kita menemui saja keluarga yang sering berkata tajam seperti silet dan usil yang tidak berkenan dalam hati.

Rasanya lebih baik tinggal dirumah saja  tidak melakukan apapun, menyendiri dan bersemedi. Daripada semua itu menjadi dosa meningan tidak bertemu mereka sama sekali. Hal itu bisa terjadi pada diri kita bahkan terbenak dalam pikiran secara terus-menerus.

Tapi perlu kita ketahui teman-teman semuanya yang budiman.

Kita adalah makhluk sosial yang tidak semestinya memiliki jarak pada makhluk lainnya. Toh kita membutuhkan mereka dan tanpa mereka kehidupan itu akan seperti apa.

Kebayangkan, kalo di dunia ini manusia hidup sendiri-sendiri membatasi kehidupannya. Mungkin sekolah, tempat kerja, komunitas dan organisasi takan pernah ada.

Lalu bagaimana kita bisa berinteraksi dengan makhluk yang lainnya. Kemampuan berbahasa dapat menjadi  kebutuhan berkomunikasi setiap manusia.

Kemudian seiring berjalannya waktu kita masuk pada era revolusi industri. Revolusi dan kemajuan teknologi sangat begitu cepat. Tidak ada pembatasan sosial, justru dengan kemajuan teknologi ini sosialisai kita semakin mudah.

Dengan berbagi selfie foto sana-sini, orang asing bisa menjadi teman penting, dan orang-orang sekitar kita yang justru menjadi terasingkan. 

Teknologi ini mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Sejak 2.000 tahun yang lalu, para Filsuf Stoa sudah menyadari nature manusia yang harus hidup sebagai makhluk sosial. Dalam Meditations, Marcus Aurelius berkata, "Semua manusia diciptakan untuk satu sama lain"

Ini semua menjadi bukti bahwa sudah sejak dulu manusia damai dengan makhluk lainnya. Mungkin dulu berburu dan berkebun menjadi salah satu komunikasi hidup sosial. Hingga tiba manusia berevolusi menjadi modern.

Namun, manusia juga adalah Homo Homini Nyebelin--manusia yang nyebelin manusia lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x