Mohon tunggu...
Aldentua S Ringo
Aldentua S Ringo Mohon Tunggu... Pengacara - Pembelajar Kehidupan

Penggiat baca tulis dan sosial. Penulis buku Pencerahan Tanpa Kegerahan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Paskah dan Semangat Rela Berkorban

5 April 2021   07:52 Diperbarui: 5 April 2021   07:55 210
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Paskah dan Semangat Rela Berkorban.

Perayaan Paskah 2021 masih di tengah kondisi Pandemi Covid 19. Keterbatasan mengikuti kebaktian di gereja dan hanya mengikuti kebaktian virtual daring menjadi warna tersendiri. Ditiadakannya pencarian telur Paskah bagi anak-anak Sekolah Minggu dan berbagai pembatasan dan keterbatasan telah membuat perayaan Paskah 2021 ini berbeda dengan perayaan sebelumnya. Ditambah lagi ancaman teroris dan bom bunuh diri.

Pembatasan kegiatan masyarakat mikro tentu membuat perayaan Paskah 2021 semakin dibatasi dan disederhanakan. Namun pembatasan tersebut bisa juga dimaknai sebagai satu keadaan yang mencerahkan dan menyadarkan kita bahwa Perayaan Paskah bukan hanya seremonialnya. Bagaimana kita mencari makna dan melakukan refleksi, merenungkan ulang perjalanan hidup dan tantangan iman di tengah kehidupan kita yang tidak normal.

Pencarian makna dengan refleksi  Perayaan Paskah 2021 akan meninggalkan kesan dan makna mendalam, walaupun acara ritual seremoninya hanya kita ikuti melalui acara virtual daring. Salah satu yang bisa kita ambil makna Paskah 2021 adalah semangat rela berkorban.

Yesus yang sudah disalibkan, dikuburkan dan bangkit pada hari ketiga datang bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia menanggung semua beban itu demi penyelamatan manusia umat berdosa agar terhindar dari hukuman dosa. Maut yang seharusnya menjadi upah dosa, digantikan dengan keselamatan yang dianugerahkan melalui Peristiwa Kayu Salib di Golgata.

Kita ditebus dengan darahnya. Menanggung dosa kita, darahnya tergerus mengalir dan  karena kesalahan kita, dia mengalami luka dan penuh duri. Apa makna yang kita bisa peroleh. Dia rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kita sebagai manusia berdosa.

Jika kita merasakan kebaikan dan keselamatan karena semangat rela berkorban dari DIA, apakah yang patut kita syukuri dan tiru? Tentu saja semangat rela berkorban tersebutlah yang patut kita syukuri dan tiru. Bagaimana caranya? Tentu sangat sederhana. Lakukan saja dalam kehidupan kita sehari-hari.

Membantu Keluarga.

Keluarga kita ada yang kesulitan karena pandemi Covid19? Ini saatnya bertindak.Berilah sesuatu yang dibutuhkannya. Bantulah sebatas apa yang bisa dibantu.

Menolong sesama jemaat.

Ada teman segerja yang kesulitan dalam berbagai hal? Ayo lakukan sesuatu. Jika kita tidak bisa sendiri, bisa membuat kerja sama dengan jemaat lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun