Mohon tunggu...
Albar Rahman
Albar Rahman Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis, peneliti dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia

Sehari-hari menghabiskan waktu dengan buku-buku ditemani kopi seduhan sendiri. Menikmati akhir pekan dengan liga inggris, mengamati cineas dengan filem yang dikaryakan. Hal lainnya mencintai dunia sastra, filsafat dan beragam topik menarik dari politik hingga ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Film

Esensi Penyair dalam Film, "Istirahatlah Kata-Kata"

3 Oktober 2022   22:08 Diperbarui: 11 Oktober 2022   03:09 163 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Filem 'Istirahatlah Kata-Kata' merupakan filem yang menarik dalam dunia filem tanah air. Sang Sutradara Yosep Anggi Noen yang berlatar akedemik sarjana politik tak heran filem kali ini bernuansa perlawan politik. Dingkat dari kisah nyata seorang Widji Tukul, aktivis politk yang syairnya "ditakuti" rezim kala itu hingga ia hilang dan misteri hingga hari ini. 

Tentu filem ini bukan untuk dinikmati semua kalangan. Ketertarikan aktivis pada ruang politik dan rezim otoriter tentu ini bagai mata air untuk menghilngkan dahaga haus intelektual akan isu politik dalam catatan sejarah negri. 

Penonton akan dibawah pada alur sejarah yang sangat dekat dengan masyarakat sipil. Apalgi Widji Tukul harus lari dari kota ke kota dan berinteraksi dengan berbagai macam masyarakat dengan latar yang berbeda. Suasan kala itu di tahun 1996 hingga 1998 dimana puncaknya kejatuhan rezim orde baru. Ini memberikan gambaran kesejarahan yang sangat dekat. 

Tidak hanya aspek politiknya yang masih bisa lebih jauh diperdebatakan dari berbagai sudut bahkan nuansa kepentingan masing-masing. Saya tertarik pada aspek Widji Tukul sebagai penyair dan membawa esensi kuat bahwa pujangga harusnya berani bersuara. Dengan segala resikionya. 

Pada filem ini ditampilkan kisah rumah tangganya yang harus jadi korban intain dan mata-mata para intel bahkan buku-buku Widji Tukul banyak yang harus di sita. Kabar itu datang padanya saat sedang lari di sebuah kota berbeda tepatnya di Pontianak Kalimantan Barat tahun 1996 tepatnya . 

Widji Tukul yang menghabiskan banyak buku memanglah ia juga seorang penyair kuat. Dalam pelariannya ia tetap menuliskan dan melahirkan sajak-sajak peralawanannya. Ia memang bukan penyair ulung bahkan maestro yang dimiliki negri tidak seperti Taufik Ismail, Ainun Najib bahkan Gus Mus yang jadi idolanya. Setidaknya ia jadi tokoh yang menarik untuk diikaji dalam dinamika perpolitikan tanah air lewat perlawanan syair-syair yang ia ciptakan. 

Sahabat Widji Tukul, Tomo  memiliki kesan tersendiri saat manjumpai Tukul membaca puisi di Museum Gothe di Jakarta pada 1994. Tukul membaca puisi dengan idiom sederhana namun mampu dibawakannya dengan ekspresi yang begitu dalam. 

Kembali pada filem 'Istirahatlah Kata-Kata' Widji Tukul merespon dirinya sebagai buronan mengungkapkan, 

"Ternyata jadi buron itu jauh lebih menakutkan dari pada menghadapi sekompi kacang hijau bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi" ia berujar demikian karna pertanyaan untuknya kenapa ia harus jadi buronan hanya karena puisinya. 

Inilah sekelumit potret Tukul dalam filem yang ditangkap sebagai seorang buronan yang syairnya jadi api penyebabnya. Ia bersyair dan menjadi penyair tanpa takut dengan tirani sekalipun. Tulisnya, istrahatlah kata-kata membawa pesan kuat bahwa penyair juga memiliki masa akhirnya. Bukan karena tak mampu mencipta sajak lagi tapi tragedi bahkan takdir yang ada menuntutnya untuk beristrahat. 'Istrahatlah Kata-Kata' membawa esensi mendalam bagi penyairnya dan penyair yang mencintai nasib masyarakat kecil di manapun bahkan penyair masa depan nanti.  Untuknya teruslah berkarya!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan