Alamsta Suarjuniarta
Alamsta Suarjuniarta

Seorang mahasiswa universitas Udayana Jurusan Manajemen Sumberdaya perairan. Mempunyai moto Hidup untuk meninggalkan jejak. Semakin banyak problematika dan caci makian termasuk hinaan. Membuat orang tersebut menjadi lebih kritis, terhadap kehidupan dan makin kuat untuk menantang gemerlap dunia "Aku tidak ingin menjadi pohon bambu Aku ingin menjadi pohon oak yang menantang angin" -Soe hok Gie-

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Balada Negeri Agraris

11 Februari 2018   07:20 Diperbarui: 12 Februari 2018   22:17 576 0 0

Kebutuhan primer manusia adalah, pangan (makanan) sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal). Kebutuhan primer berarti kebutuhan manusia yang pokok dan bersifat mendesak. Tanpa hal-hal tersebut, manusia akan mengalami kesulitan dalam bertahan hidup. Tanpa pangan, manusia bahkan mustahil untuk bertahan hidup. Pemenuhan pangan bagi manusia melalui proses yang dinamakan pertanian. Dengan pertanian, manusia dapat memproduksi pangan untuk memenuhi kebutuhannya secara berkelanjutan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa pangan adalah makanan yang merupakan harapan bagi setiap orang (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999: 723). Berdasarkan literatur diperoleh pula definisi pangan, pangan ialah bahan-bahan yang dimakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja dan penggantian jaringan tubuh yang rusak (Suhardjo,1996: 40).

Akhir-akhir ini banyak berita sontar memberitakan tentang kondisi pangan di Indonesia. Kebijakan impor beras yang paling di sorot oleh media. Apakah Indonesia defisit pangan atau laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. 

Mari kita simak teori dari Robert Malthus tentang laju pertumbuhan penduduk. Bunyi teori tersebut "Laju pertumbuhan penduduk itu seperti deret ukur, dan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung". Bila kita  menganalogikan laju pertumbuhan penduduk berkelipatan empat dan laju pertumbuhan pangan berkelipatan dua. Ini berarti laju pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dengan laju pertumbuhan pangan. Di masa mendatang jumlah penduduk membludak tidak seimbang lagi dengan pangan yang tersedia.

Bila kondisi itu terus di biarkan, dalam jangka panjang manusia akan mengalami krisis sumber daya  alam, dan manusia akan berebut untuk mendapatkan pangan, jika laju pertumbuhan penduduk tidak di tekan. Mungkin di masa mendatang emas, perak, berlian dan intan tidak berarti lagi karena manusia cuma butuh "makanan untuk bertahan hidup.

Terlepas dari teori Robert Malthus mari kita lihat  kondisi  geografis di negara kita Republik Indonesia. Luas daratan mencapai 1,937  juta km2  dan luas lautan mencapai 3,1 juta km2. Kenapa belum juga Indonesia bisa maju menjadi negara swasembada pangan ?."Swasembada pangan adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan bahan makanan sendiri tanpa perlu mendatangkan dari pihak luar". 

Bapak presiden pertama Sukarno pernah bilang "50 persen masalah negeri ini adalah pangan, kalau kita bisa menyelesaikannya maka kita sudah menyelesaikan masalah negeri ini", ungkapnya.  Ini membuktikan bahwa masalah pangan itu sangat lah penting untuk ke majuan negara. Jika negara ini masih berkutat dengan masalah pangan? Kapan pemerintah bisa menyentuh sektor lain demi ke majuan negara. Terus itu itu saja masalahnya kapan majunya?. Sedangkan negara lain berlomba lomba untuk mengungkap misteri angkasa, dengan mengirim pesawat ulang alik mereka, menuju angkasa. Kita  masih saja berkutat dengan masalah perut.

Indonesia sempat merasakan swambadaya pangan di masa orde baru. Melalui kebijakan Revolusi Hijau. Revolusi Hijau adalah revolusi biji bijian dari hasil penemuan penemuan ilmiah berupa benih unggul baru dari berbagai varietas  gandum, padi , jagung, yang membuat hasil panen komoditas tersebut meningkat di negara berkembang. Revolusi hijau di latar belakangi oleh pertumbuhan penduduk yang terus meningkat di negara berkembang. 

Hal ini membuat pemerintah berupaya untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah penduduk dengan meningkatkan hasil panen. Oleh karena itu yang di tempuh oleh pemerintah adalah melakukan Revolusi hijau di Indonesia. Kenapa sekarang tidak berlaku lagi namanya Revolusi hijau di Indonesia?. Kemana perginya sekarang? Apa mungkin telah sirna bersama tumbangnya rezim Orde baru?.

Kenapa sekarang  bisa di negara yang katanya agraris atau tongkat batu pun menjadi tanaman, sekarang ini bisa kekurangan beras. Ini memang kenyataan pahit di alami negara kita. Tanah pertanian yang luas, sekarang berkurang untuk di jadikan perumahan atau tempat wisata yang beralih pungsi menjadi hutan beton. 

Orang pintar membodohi orang bodoh. Kaum kapitalis memberi besaran nominal  uang agar bisa membeli lahan para petani. Uang yang di dapat para petani  lama kelamaan akan habis di telan waktu, cukup sampai dirinya, anaknya dan istrinya yang bisa menikmati hasil menjual lahan tanah pertain mereka. Lain ceritanya  jika para petani masih mempertahankan ladang mereka, ladang tersebut bisa di wariskan sampai ke tujuh turunan mereka. Dan kenapa para petani bisa menjual ladang mereka? karena berbagai faktor. Salah satu faktor adalah, Pertama kurang minatnya kaum muda atau milineal  yang beranggapan menjadi petani itu untuk orang yang miskin, mereka memilih menjadi pegawai kantoran atau pegawai bank, atau bekerja di sektor wisata yang lebih menjanjikan. Kedua kurangnya dukungan dari pemerintah untuk penyuluhan atau pembagian pupuk dan bibit. Baru harga pangan naik dikit pemerintah langsung mengambil kebijakan yaitu "IMPOR. Petani tidak berhak kah menjadi kaya?, apa yang duduk di kursi parlemen saja yang berhak kaya ?. Tidak pejabat atau rakyat miskin kota, semua butuh namanya "nasi" untuk menghilangkan rasa lapar. Ada satu mitos di kalangan masyaraat " Rasanya belum kenyang kalau belum makan nasi". Ketiga dan tentu faktor urbanisasi para penduduk desa ke kota demi mengubah nasib. Ladang pertanian di desa menjadi lahan kosong karena di tinggal para petani yang ber alih profesi lain. Akibatnya negara agraris tongkat kayu pun jadi tanaman, melakuakn kebujan impor beras dan impor lain lainnya dari negara tetangga, demi menekan kelangkaan di pasar. Sungguh mulia nasib mu kini wahai para petani. Engkau menjadi penonton dan  sekarang tersudut menahan nestapa.

Nama : Alamsta Hierarki

Asal : Pulau Dewata

Penulis adalah mahasiwa aktif Universitas Udaya, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Jurusan Manajemen Sumberdaya Peraian

Motto : Hidup untuk meninggalkan jejak

.