Mohon tunggu...
Alam Semesta
Alam Semesta Mohon Tunggu... Instructional Designer

Pengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di Zhejiang Yuexiu University of Foreign Languages, China. Gemar membaca, menulis, dan makan-makan.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Saya Guru tapi Saya Benci Ujian

25 Juni 2019   10:21 Diperbarui: 25 Juni 2019   11:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
Saya Guru tapi Saya Benci Ujian
Source: Pexels.com

Hidup ini penuh dengan ujian dan cobaan. Ujian dan cobaan yang tidak mudah untuk dihadapi. Mulai dari ujian untuk berdamai dengan diri sendiri sampai berdamai dengan kehidupan ini.

 Ujian itu ditambah lagi jika kita sekolah. Ujian yang satu ini bahkan sengaja dibuat. Tidak seperti ujian kehidupan yang datang tanpa kita duga.

Mengapa harus ada ujian? Apa guna dari ujian tersebut? Apakah benar ujian ini bisa membuat yang diuji semakin kuat? Apakah benar ujian ini bisa membuat yang diuji mau belajar? Apakah ujian ini bisa mengukur keberhasilan seseorang?

Saya tidak pernah puas dengan jawaban yang ada untuk semua pertanyaan tersebut. Saya merasa jawaban yang ada hanya mencoba membuat sistem ujian itu tetap ada. 

Supaya yang membuat sistem ujian tetap ada kerjaan. Supaya ujian tersebut tetap dapat menjadi bisnis yang bisa dijual. Supaya ujian tersebut menjadi tolak ukur untuk membuat stratifikasi.

Apakah tidak bisa pendidikan dan proses belajar dibuat tanpa stratifikasi? Apakah bisa tidak ada ujian lagi di sekolah? Apakah bisa ujian diganti dengan sistem lain? Apakah boleh kriteria keberhasilan tidak diukur dengan ujian?

Source: Pexels.com
Source: Pexels.com

Jawabannya tentu saja bisa, tetapi siapa yang mau repot untuk mengubah sistem yang sudah ada. Bukankah dengan dibiarkan begitu saja akan lebih mudah. 

Selama bisnis ujian dan berbagai tes masih mendatangkan keuntungan berupa uang, mengapa harus diubah. Jadi jawabannya bukan tidak bisa pendidikan tanpa ujian, tetapi banyak yang memperoleh keuntungan dari adanya sistem ujian dan manfaatnya tentu saja bukan bagi yang diuji.

Setiap semester saya melihat mahasiswa begitu tersiksa di masa-masa ujian. Berusaha mengingat semua informasi dari buku. Perpustakaan dan kampus terasa sepi. Suasana diliputi dengan ketegangan. Wajah-wajah itu menuju ruang ujian penuh kecemasan. Inilah wajah dan suasana ujian.

Begitu ujian selesai, ketegangan itupun usai. Wajah-wajah dan tawa ceria mulai terlihat lagi. Berbondong-bondong keceriaan itu diikuti dengan makan bersama di luar kampus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2