Mohon tunggu...
AKSPRO BEM FK UB
AKSPRO BEM FK UB Mohon Tunggu... Mahasiswa - Official Account Of Kementerian Aksi Kajian Strategi dan Propaganda BEM FK UB

Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia, Hidup Perempuan Yang Melawan!

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Mata Sang Kastrat - Monkeypox Mulai Menyebar, Akankah Menjadi Wabah Baru?

15 Agustus 2022   19:34 Diperbarui: 15 Agustus 2022   19:39 30 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyakit cacar monyet atau monkeypox sebagai darurat kesehatan global pada Sabtu, 23 Juli 2022. Monkeypox merupakan penyakit Zoonosis yang pertama kali ditemukan di Denmark pada tahun 1958 berupa cacar yang muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian. Monkeypox mulai menjangkiti manusia pertama kali pada 1970 di Republik Kongo dan telah menjadi endemik di Afrika Barat dan Tengah. 

Monkeypox di negara non-endemis untuk pertama kalinya dilaporkan pada 6 Mei 2022 di Inggris. Kemudian terjadi peningkatan kasus pada pertengahan libur musim panas di Eropa dan pada 27 Juli sudah ada 75 negara yang melaporkan dengan jumlah total 17.156 kasus. 

Monkeypox atau cacar monyet sendiri dapat bertransmisi dengan dengan dua cara, yakni transmisi hewan ke manusia dan transmisi manusia ke manusia. Cacar monyet menyebar ketika seseorang melakukan kontak dekat dengan orang lain, hewan atau bahan yang terinfeksi. 

Virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang rusak, saluran pernafasan atau melalui mata, hidung serta mulut. Penularan dari manusia ke manusia paling sering terjadi melalui tetesan pernapasan, meskipun biasanya membutuhkan kontak tatap muka yang lama. Sementara itu, penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan atau cakaran.

Juru bicara Kemenkes RI, Mohammad Syahril menjelaskan gejala umum yang dilaporkan mulai dari demam, lesi di kulit, lesi di mulut, papula periana, sulit makan serta batuk. Di Indonesia, Satgas Monkeypox Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan bahwa sejauh ini belum ada kasus terkonfirmasi infeksi cacar monyet (monkeypox) di Indonesia. 

Hasil uji laboratorium suspek di Jawa Tengah sudah dikonfirmasi negatif oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu. Hal tersebut juga telah disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. 

"Kemarin terindikasi satu (orang pasien suspek), tadi hasil PCR-nya negatif," kata Ganjar, saat berada di Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis (4/8/2022). Meski demikian, Ganjar mengingatkan kepada masyarakat agar tetap waspada dan menghimbau kepada setiap yang memiliki gejala mirip cacar monyet agar bisa segera periksa.

Golongan yang paling berisiko terinfeksi cacar monyet adalah mereka yang tinggal dengan atau memiliki kontak dekat (termasuk kontak seksual) dengan seseorang yang menderita cacar monyet, atau yang memiliki kontak rutin dengan hewan yang dapat terinfeksi. Petugas kesehatan harus mengikuti langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi untuk melindungi diri mereka sendiri saat merawat pasien cacar monyet. 

Bayi yang baru lahir, anak kecil, dan orang-orang dengan defisiensi imun mungkin berisiko mengalami gejala yang lebih serius dan dalam kasus yang jarang terjadi dapat menyebabkan kematian akibat cacar monyet. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menyatakan terdapat tiga upaya yang dilakukan Kementerian Kesehatan dalam mengendalikan penyakit cacar monyet yang berpotensi mewabah di dunia.

 Antara lain penegakan disiplin protokol kesehatan, pemanfaatan alat polymerase chain reaction (PCR), hingga pengadaan obat-obatan. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan