Akhmad Mukhlis
Akhmad Mukhlis Belajar psikologi sambil menikmati sepakbola

4ic meng-Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Bola

Kemenangan Kroasia, Nyinyirnya Pundit dan Semangat Perang

12 Juli 2018   15:29 Diperbarui: 12 Juli 2018   15:31 449 1 1
Kemenangan Kroasia, Nyinyirnya Pundit dan Semangat Perang
Kondisi alun-alun Ban Jelacic, gambar diadopsi dari gettyimages

Setelah lebih dari 60 menit hening, pusat kota Zagreb meledak kembali. Gol penyama kedudukan dari Ivan Perisic membuat ratusan ribu manusia yang memunggungi patung perunggu bangsawan pemberontak Ban Jelacic yang menjulurkan pedang di atas kudanya berteriak histeris diiringi flare, terompet dan lainnya. Malam itu, alun-alun ibukota Zagreb terlihat seperti taplak meja raksasa, kotak merah putih.

12 Juli 2018 merupakan sejarah baru bagi negara kecil pecahan Yugoslavia ini. Berpenduduk 4 juta jiwa, mereka menjadi negara ke-13 yang menjadi finalis gelaran Piala Dunia. Beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, masyarakat Kroasia sepertinya memang telah bersiap menyambut sejarah baru mereka. Dihadapan patung pahlawan mereka, Ban Jelacic, ratusan ribu manusia menirukan lirik sebuah band lokal yang mendidihkan suasana. "We're going for the win, no surrender" begitu salah satu lirik yang mereka teriakkan, seperti dikutip Guardian (12/7/18).

Pekikan tersebut seolah terdengar jelas dikuping seluruh punggawa vatreni di Moskow. Mereka seolah terbakar dan terus terbakar. Meskipun tertinggal pada menit ke-5 oleh gol indah Kieran Trippier, Luca Modric dan kolega terus menerus berjuang untuk membongkar pertahanan lawan. Berkali-kali usaha mereka gagal, berkali-kali juga mereka hampir kecolongan oleh serangan balik Tim Tiga Singa, namun berkali-kali juga mereka mencoba lagi dan lagi. Sampai akhirnya seperti yang kita lihat, fokus dan koordinasi anak asuh Gareth Southgate mulai rapuh. Puncaknya adalah lengahnya John Stone mengantisipasi bola mudah pada menit 19 babak tambahan waktu yang dimanfaatkan dengan baik oleh satu-satunya penyerang murni Kroasia, Mario Mandzukic. Pada akhir laga, mereka meneriakkan "Nogomet dolazi doma", yang merupakan plesetan footbal's coming home milik suporter Inggris.

Perang dan diremehkan

Meskipun banyak komentator memuji setinggi langit transformasi timnas Inggris di bawah kendali Southgate sebelum laga, nyatanya Kroasia memenangkan pertandingan. "Kami menunjukkan lagi bahwa kami tidak lelah - kami mendominasi permainan secara mental dan fisik" begitu seloroh kapten sekaligus metronom tim Kroasia, Luca Modric. Perkataan yang dilontarkan sesaat selepas pertandingan tersebut dimaksudkan Modric untuk membungkam para komentator dan kritikus (terutama jurnalis Inggris Raya) yang dianggapnya telah meremehkan kemampuan Kroasia.

Lewat ITV, Modric melanjutkan "Orang-orang berbicara, wartawan, pundit dari televisi...mereka meremehkan Kroasia malam ini dan itu adalah kesalahan besar. Kami mengambil semua kata-kata mereka dan kami berkata dalam diri: oke, hari ini kita akan melihat siapa yang akan lelah." Kekesalan Modric terhadap publik Inggris terlihat digunakan dengan tepat oleh tim pelatih yang dikepalai Zlatko Dalic. Terbukti dengan luapan tenaga kuda yang mereka perlihatkan sepanjang laga. Meskipun telah melewati 3 kali babak tambahan waktu, para pemain Kroasia terlihat lebih bertenaga dibandingkan pemain Inggris.

Bagi masyarakat Kroasia, kemenangan ini adalah salah satu buah yang mereka dapatkan dari tempaan teror dan perang saat Kroasia melepaskan diri dari tirani Yugoslavia. "Kami memiliki hati dan kami bangga telah ditempa dalam perang," kata Marian Kirin, seorang insinyur telekomunikasi berusia 39 tahun, yang ayahnya meninggal dalam konflik yang menyusul runtuhnya Yugoslavia pada 1990-an dalam The Telegraph. Bahkan menurut mereka, para pemain memang berangkat ke Rusia untuk berperang, menuntut balas. Kakek Luca Modric adalah korban kekejaman milisi Serbia, begitu juga apa yang telah dirasakan Mandzukic kala harus menjadi imigran di Jerman dalam usia yang masih sangat muda.

Rupanya perang dan perkataan nyinyir pundit telah membakar semangat dan menyatukan masyarakat Kroasia, mereka menyalurkan spirit untuk kesebelas pemain terus bertempur dalam lapangan hijau. Sambil mengungkapkan kegembiraannya pada sesi konferensi pers, pelatih Zlatco Dalic mengirimkan kalimat sindiran untuk sepakbola Inggris, "Bayangkan jika sepakbola Kroasia memiliki uang Inggris". Tak terduga seorang pelatih yang terkenal sederhana mampu menghujamkan kritik pedas kepada Inggris. Hal tersebut tidak lain karena komentar publik Inggis yang mereka anggap sangat meremehkan mereka. Sampai-sampai Modric secara langsung mengucapkan kalimat "Mereka (Inggris) harus lebih rendah hati dan menghormati lawan mereka lebih banyak."

Selamat Kroasia, semoga Juara Baru lahir tahun ini!