Mohon tunggu...
Ajeng Kania
Ajeng Kania Mohon Tunggu...

Guru di SD yang sedang asyik menemani bayi mungilnya

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Presiden SBY: Hari ini (PGRI/Guru) Akan Usul Apa?

2 Mei 2012   03:29 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:51 0 1 3 Mohon Tunggu...

Bersama Ketua Umum PB-PGRI, Bpk. Dr. H. Sulistiyo, M.Pd

Di kalangan anggota PGRI, masih dijumpai pertanyaan, apa saja kiprah telah dilakukan PGRI?  Denyut kiprah PGRI biasanya hanya terasa menjelang hari ulang tahun PGRI setiap bulan November, yaitu dengan adanya kegiatan lomba gerak jalan dan pentas seni. Apa saja yang telah dilakukan organisasi guru tersebut? Berkaitan momentum Pasca Konkernas IV/2012 di Bandung dan  Hardiknas, 2 Mei 2012, penulis mencoba berbagi dengan sejumlah catatan yang diperoleh saat diberi amanah meliput  acara tahunan orprof guru di Bandung. Semoga bermanfaat.

Pertanyaan di atas diakui oleh Ketua Umum PGRI, Bapak H. Sulistiyo. Dalam satu editorial Majalah “Suara Guru”, Ketua Umum organisasi guru tertua dan terbesar di tanah air itu mengungkapkan bahwa jasa-jasa PGRI belum diketahui secara luas oleh “stakeholder”-nya. Pengetahuan masyarakat masih terbatas dan hanya bergantung pada “kemurahan” berita melalui tayangan televisi dan surat kabar. Masyarakat dan guru tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang perubahan dan perjuangan yang telah dilakukan dewasa ini. Akibatnya perubahan “image” yang menjadi syarat memperoleh dukungan luas berjalan sangat lamban.

Pak Ketum PB-PGRI saat demo guru di Jakarta (sumber: penadeni)

Menurut Bapak H. Sulistiyo, pemberdayaan media internal seperti Website PGRI, Majalah “Suara Guru” di tingkat Pusat atau (Majalah “Suara Daerah” PGRI di level Jawa Barat dan website AGP PGRI Jabar misalnya-red), sangat penting. Untuk menggelorakan Konkernas IV, sebagai anggota Seksi Infokom Panitia Konkernas ini, penulis terpanggil untuk membuat dua postingan terkait informasi Konkernas IV di jejaring dunia maya berupa blog pribadi interaktif media warga Kompasiana (blog ajengkania) yaitu Ucapan Selamat Datang menjelang acara Pembukaan sebagai informasi awal berisi agenda Konkernas dan postingan acara Penutupan acara berisi informasi hasil konferensi yang mendapat sambutan positif publik. Reportase itu penawar rasa dahaga informasi bagi anggota PGRI khususnya dan khalayak umum di tengah minimnya akses informasi berkaitan Konkernas PGRI ini. Beberapa tayangan Konkernas di Majalah “Suara Daerah” ini dari berbagai tinjauan dapat memberi informasi secara paripurna bagi anggota PGRI yang tidak sempat mengikuti berlangsungnya kegiatan ini.

Soliditas, Solidaritas dan Kerja keras

Saat ditanya melalui SMS oleh Deni Kurniawan As’ari, seorang guru juga Pengurus Ketua ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) dikutip blognya http://penadeni.com tentang adanya beberapa tokoh dan pihak tertentu yang terkesan memojokkan posisi PGRI dan mengecilkan peran PGRI selama ini. Bapak H. Sulistiyo membalasnya dengan jawaban : “Banyak orang tak paham PGRI dan tak mengerti apa yang dilakukan PGRI, tetapi memberi penilaian terhadap PGRI. Insya Allah PGRI akan tetap eksis mewujudkan guru yang profesional, sejahtera, terlindungi dan bermartabat. PGRI sering difitnah berpolitik (praktis), karena PGRI memang mempunyai kekuatan politik dan bisa berstrategi politik dalam mewujudkan cita-citanya untuk kepentingan guru dan pendidikan. Banyak orang yang ingin PGRI lemah, guru lemah dipecah belah agar kalah dan pendidikan semakin terpuruk. PGRI sudah sangat biasa digembosi, tetapi insya Allah akan semakin disayangi para guru dan masyarakat“.

Ada sebagian pandangan bahwa terbitnya UU Guru dan Dosen No, 14 Tahun 2005 sebagai titik pangkal menata guru profesional dan bermartabat adalah proses "alamiah" sebagaimana mengelindingnya waktu atau merupakan “hadiah” pemerintah bagi kaum pendidik begitu saja. Padahal kalau melihat sejarahnya,  UUGD lahir melalui proses panjang, usulan, tekanan, dan upaya keras perjuangan PB-PGRI yang melintasi pasang-surut dengan pergantian lima kali pemerintahan dan lima presiden. Dengan UUGD, pembinaan profesi guru dan kesejahteraan didambakan menjadi lebih nicaya.

Sebelumnya, komunitas 2,7 juta guru hanya dipayungi oleh Peraturan Pemerintah (PP) yang secara konstitusi tidak cukup memadai memayungi profesi guru berperan strategis dan memiliki permasalahan kompleks. Implementasi UUGD perlu terus dikawal organisasi profesi agar berjalan dalam koridor sebagaimana mestinya.

Selain berjuang melahirkan produk UUGD, bentuk riil yang telah berhasil diperjuangkan Pengurus PGRI yaitu mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen (cukup alot beberapa kali diuji materi oleh MK), Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan secara bertahap, PP tentang Guru, Kesejahteraan Guru dan Peningkatan Profesi Guru, Perlindungan Profesi Guru, dan sebagainya. Semua itu merupakan investasi berharga dari PGRI untuk para guru di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x