Mohon tunggu...
Aisyah Supernova
Aisyah Supernova Mohon Tunggu... Konsultan - man purposes God disposes - ssu

Muslimah | Your Future Sociopreneur ! | Islamic Economic Science Bachelor | Islamic World, Innovation, Technology and Entrepreneurship Enthusiast | Sharing, Writing and Caring Addict | Because i want to see my God one day. It's my ultimate goal...!

Selanjutnya

Tutup

Diary

Apa yang di Jiwa, Itu yang Berharga

5 April 2022   21:48 Diperbarui: 5 April 2022   22:02 22 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Kita semua pasti pernah merasakan kepingin banget memiliki sesuatu. Seperti diriku yang pernah menginginkan beberapa hal, di antaranya adalah beberapa pajangan dan elektronik yang saat ini sudah ada di kamarku, Alhamdulillah.. Pengalaman yang kurasakan dan dari diriku sendiri, saat aku mendapatkan sesuatu yang aku inginkan, kesenangan-lah yang kurasakan. Kepuasan dan tentunya ada rasa norak juga. Barang yang baru kubeli itu kupandang-pandang, kulihat-lihat, kupegang dengan hati-hati. Setelahnya saat waktu berlalu, sebutlah beberapa hari kemudian, perasaan senang itu perlahan pudar dan seperti menjadi perlahan lupa akan kesenangan dari memiliki barang tersebut.

Dulu, saat belum mencari uang sendiri, aku senang sekali saat dibelikan tas yang kuinginkan. Aku merasa happy sekali saat menggunakannya. Kemudian, rasanya juga hanya berlangsung beberapa hari atau pekan saja kesenangan itu ada. Selanjutnya terasa biasa saja. Kejadian ini, terjadi berkali-kali. Saat aku menginginkan sesuatu, berdoa, berusaha untuk mendapatkannya, dan setelah dapat, euphoria sejenak lalu kemudian terasa biasa saja.

Lama-lama, aku sadar. Ternyata memang begitulah materi. Menarik karena kita jarang melihatnya dan begitu sudah dapat ternyata tidak semenakjubkan itu. Namun, aku beberapa waktu ini baru tau ada hal yang bisa menjadikanku melihat barang-barang yang kubeli walau sudah lama namun tetap membuat senang. Bagaimana caranya? Caranya dengan bersyukur. Menurutku, ini satu-satunya cara. 

Saat aku melihat headset yang dulu kuidam-idamkan, benda itu sekarang sudah kumiliki, dan kini juga sudah sekitar setahun lalu kubeli, aku berkata pada diriku, 'alhamdulillah, bersyukur banget punya headset ini.. banyak podcast dan video bermanfaat termasuk lagu-lagu yang kusuka bisa kudengar dari headset ini. Pekerjaanku juga banyak terbantu dengannya..'. dan voila, perasaan senang dan bersyukur perlahan menjalar dan hadir Kembali di jiwaku. 

Aku juga jadi mulai paham, mungkin inilah alasan kenapa banyak konglomerat yang tidak bahagia karena memiliki banyak sekali barang dan fasilitas mewah, mungkin karena mereka perlu memperbanyak syukur dan melihat lebih banyak orang yang kondisi ekonominya jauh di bawah mereka sehingga melembutlah jiwa mereka untuk lebih peduli pada sesama.

Jadi, yang terpenting bagiku sekarang adalah bukan memiliki berbagai hal yang kuinginkan. Namun memiliki apa yang kubutuhkan, kemudian senantiasa menyegarkan perasaan dan jiwaku untuk bersyukur saat memandang atau menggunakan barang / hal tersebut sehingga aku bisa tetap bersyukur dan bahagia. Serakah itu kan belum tentu karena tidak punya, tapi karena tiada syukur dan tidak puas rasa. Kelapangan dan kebahagiaan itu juga belum tentu karena banyak punya, tapi karena menjalani rasa syukur dan merasa cukup. 

Sedikit penjelasan, memiliki di sini, seperti yang kutulis sebelumnya, itu kepemilikan sementara dan semu, yang sejatinya semua hanya dipinjamkan sementara oleh Pencipta manusia. Jadi, apa yang dijiwa itu-lah (syukur) yang lebih berharga dari harta benda dunia.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan