Aisyah Supernova
Aisyah Supernova

Muslimah | Your Future Sociopreneur ! | Islamic Economic Science Bachelor | Islamic World, Innovation, Technology and Entrepreneurship Enthusiast | Sharing, Writing and Caring Addict | Because i want to see my God one day. It's my ultimate goal...!

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Bank BC* Pemeras

1 Januari 2018   17:18 Diperbarui: 1 Januari 2018   17:24 373 3 0
Bank BC* Pemeras
fb-img-1514784743866-5a4a0a70dd0fa87c652738c4.jpg

*Mohon koreksi saya jika saya ada salah kaprah

Saya bukan termasuk orang yang mengumbar amarah atau masalah pribadi di sosmed. Sesulit apapun kondisi saya. Paling hanya beberapa quotes untuk memotivasi saya dan itu pun tidak akan secara gamblang atau jelas menggambarkan kondisi saya.

Siang ini, saya ke ATM dekat salah satu stasiun di Tangerang Selatan. Saya mau ambil cash dari ATM BNI Syariah saya. Namun karena tidak ada ATM BNI, jadilah saya pakai ATM BC*. Awalnya saya mau ambil sejumlah uang namun ternyata tidak bisa. Akhirnya saya harus mengeluarkan kartu saya. Saya pikir awalnya sodara saya belum trasnfer, sehingga nominalnya kurang. Akhirnya kartu ATM saya pun saya keluarkan. Kemudian saya coba ke ATM mandiri di sebelahnya. Saya memiliki dua ATM bank BNI Syariah. Karena saya puas dengan pelayanannya yang tanpa potongan walau 100 perak kalau pakai akad wadhiah. Saya cek, ternyata bukan di sana (ATM BNI Syariah kedua) sodara saya transfernya.

Loh, berarti di ATM pertama tadi. Mobile banking saya belum diaktifkan lagi setelah otomatis terblokir karena saya bertukar simcard. Saya tidak tau hal ini dapat membuat sistem pengamanan bank BNI Syariah untuk langsung memblokir mobile banking.

Jadilah, saya masukan yang kedua kalinya ATM BNI Syariah saya yang pertama ke mesin ATM BC*. Saya cek saldonya. Ternyata benar berkurang 12.000 rupiah sehingga saya tidak bisa mengambil sejumlah uang yang saya butuhkan. Namun, inilah saat paling membuat saya kesal dan marah. Kenapa? Karena mereka tidak memiliki menu 'kembali ke menu utama' saat mengecek saldo. Hanya ada menu 'selesai'. Bagus. Saya langsung tarik kartu dan cek ke ATM M**diri sebelah. Kalian tau, di ATM M**diri setelah pengecekan saldo, masih ada menu kembali ke menu utama. Bagus.. Bagus..

Uang saya memang hanya terpotong sekitar 12 ribu oleh BC*. Tapi ini membuat saya begitu marah. Saya masih ingat begitu awal kuliah, saldo saya sampai terpotong 30 ribu dalam satu bulan karena saya dibuatkan ATM BC* oleh ayah saya untuk membeli netbook. Saya memang pernah ambil tunai dari ATM bank lain, namun seingat saya tidak sampai dipotong sebesar itu seharusnya. Saya marah dan muak karena ini bukan hanya terjadi pada saya ! Dan bukan pada satu ATM saja ! Berapa ratus ribu jumlah ATM mereka se-Indonesia? Kalian tau, gedung perbankan paling mewah di kisaran bunderan HI itu BC* ! Teman saya bersama suaminya saat akan makan malam di restoran puncak (rooftop) gedung Bank BC* yang mewah itu, tidak diperbolehkan karena MEMAKAI HIJAB. Padahal ia jelas bawa uang. ia juga sudah berbusana elegan.

Akhirnya saat di stasiun, saya langsung patahkan ATM BC* saya. ATM termurah yang disubsidi oleh pemerintah (namun tidak mereka ekspos dalam pilihan layanan mereka). TERPAKSA karena perusahaan tempat saya bekerja beberapa bulan lalu mensyaratkannya. Sayang saya tidak sedang bawa pisau lipat yang suka saya bawa untuk jaga-jaga, kalau tidak sudah saya belah empat !!

Sudah saya malas berbasa-basi berlembut diri dengan perusahaan-perusahaan pemeras rakyat apalagi riba pula..! Sudah puluhan orang bercerita kepada saya tentang keburukan yang mereka dapatkan dari perbankan Ribawi.  Datang untuk menabung seperti raja, datang untuk meminjam diperlakukan seperti narapidana!

Biarlah walau masih belum banyak pendukungnya, Bank Syariah yang masih berusaha untuk murni syariah saya terus pakai. Saya rasa seharusnya semua mereka yang terzalimi oleh riba dan perbankan suppliernya bisa berterus terang dan sharing tentang pengalaman buruk mereka. Agar semakin banyak orang tercerahkan tentang rusaknya dan busuknya sistem 'ribawi' itu. Kalau perbankan dan segala instansi yang mencoba untuk menerapkan sistem Islam yang mensejahterakan itu tidak kita dukung, maka jangan mimpi ada perbankan yang murni syariah apalagi bank sentral Syariah (BI Syariah) karena penopangnya saja tidak kita dukung..

Semoga semakin banyak masyarakat Muslim Indonesia yang kembali kepada aturan tuhanNya dan segala perangkat pendukungnya. Semampu yang kita bisa.


Tanah Abang - Bogor,

1 Januari 2018