Ekonomi

Keterkaitan Hadist Ekonomi Pada Modal Dalam Jual Beli yang Tidak Diperbolehkan

12 Oktober 2018   01:19 Diperbarui: 12 Oktober 2018   01:44 303 1 0

KETERKAITAN HADIST EKONOMI PADA BAB MODAL DALAM JUAL BELI YANG TIDAK DIPERBOLEHKA

           Modal adalah literatul fiqih disebut "Ra'sul Mal" yang menunjukkan pada pengertian uang dan barang.(Rustam Effendi,2003:61)

Pengertian ini dapat dilihat juga dalam pembahasan pada bab as-salam,bab al-mudharabah,dan bab syirkah.Ahmad Ibrahim dalam bukunya "Al-Iqtisad As-siasi" mendefinisikan modal sebagai kekayaan yang menghasilkan suatu hasil produk menuju yang lain.

Definisi ini juga membawa pengertian luas yang mencakup semua aspek harta yang kemudian digunakan untuk terus memperoleh alat-alat produksi dan pembayaran gaji buruh atau sebuah proses produksi hal ini juga disebut modal.

Yang artinya:"Dari Amr bin syu'aib dari Bapaknya dari kakeknya ia berkata ,Rosulullah SAW bersanda:"Tidak halal menjual sesuatu yang tidak engkau miliki,dan tidak boleh ambil keuntungan pada sesuatu yang belum ada jaminan (kejelasan hukumnya)."(HR.Ibnu Majah)

            Hadist tersebut menjelaskan bahwasannya dalam jual beli kita tidak boleh memprogandakan atau mendagangkan sesuatu yang masih belum ada status kepemilikan kita,atau masih belum melakukan akad diantara kedua belah pihak sebagaimana yang telah disyaratkan dalam hukum jual beli dalam islam.seperti halnya seseorang menjual belikan hewan ternak dihutan liar atau lepas atau juga seperti halnya menjual belikan ikan dilaut lepas yang tidak mempunya status kepemilikan pribadi atau individu.maka jual beli seperti ini dihukumi tidak boleh atau haram.jual beli beli tersebut dalam fiqih muamalah disubut gharar.

           Apa itu  jual beli ghorar? Jual beli ghorar ada jual beli barang yang mengandung kesamaran dalam hal kepemilikan.(Rahmat syafi'i,2001:97).

            Hal ini juga dicantumkan dalam hadist rosulullah yang berbunyai:

Yang artinya:"Janganlah kamu membeli ikan didalam air karena jual beli seperti itu termasuk gharar.(menipu)".(HR.Ahmad  Sedangakan menurut Ibn Jazi Al-Maliki gharar yang dilarang itu ada 10 macam yaitu:

  1. Menjual belikan anak hewan yang masih didalam kandungan induknya
  2. Tidak diketahui harga maupun barangnya
  3. Tidak diketahui sifat maupun barangnya
  4. Tidak diketahui ukuran barang maupun harganya
  5. Tidak diketahui masa yang akan datang ,seperti,"saya jual akan kepadamu ,jika hindun datang.
  6. Menghargakan dua kali pada satu barang
  7. Menjual belikan barang yang diharapkan selamat
  8. Jual beli husha' seperti pembeli memegang tongkat,kemudian jika tongkat jatuh maka wajib membelinya.
  9. Jual beli munabadzah , yaitu jual beli dengan cara lempar melempari,seperti seseorang melempari bajunya kemudian yang lainpun menyusul melempari bujunya juga.maka dalam hal ini jadilah jual beli
  10. Jual beli mulasamah apabila seseorang mengusapa baju atau kain.maka orang tersebut wajib membeli baju atau kain tersebut.

Nah...sepuluh hal tersebutlah yang wajib kita hindari.agar kita mendapat keberkahan hidup.

           Namun masih banyak lagi hadist yang menjelaskan tentang jual beli yang seharusnya kita hindari.salah satunya hadist nabi yang berbunyi:

Yang artinya:"Janganlah kamu menjual barang yang tidak kamu miliki(HR.TIRMIdZI)

              Maksud dari hadist tersebut juga menjelaskan dilarangnya seseorang memprogandakan atau mendagangkan sesuatu yang masih belum mempunyai status hukum dengan jelas seperti barang temuan (luqathah)

               Apa itu luqhatah?luqhatah secara syara' adalah harta yang telah hilang dari pemiliknya karena jatuh atau lupa dan semacamnya. Dan ketika ada seseorang yang menemukannya baik sudah balig ataupun belum ,muslim ataupun bukan,fasik ataupun tidak,maka orang tersebut boleh mengambilnya ataupun membiarkannya.namun mengambilnya lebih utama dari pada membiarkannya jika yang menemukan tersebut dapat terpercaya dalam hal mengurusnya .maka dari itu seseorang yang mengambilnya wajib mengetahia apa itu ketentuan luqathat beserta syarat-syaratnya. 

            Jika ia ingin memiliki status kepemilikan tersebut maka ia wajib mengumumkannya selama satu tahun baik dipintu-pintu masjid saat orang-orang keluar dari habis shalat jamaah,dan juga seperti pasar  dan tempat keramain lainnya. Dan selama menunggu masa kepemilikan tersebut ia wajib membiayai keberlangsungan pengumuman itu. Dan jika sewaktu-waktu sipemilik barang tersebut datang dan ingin mengambilnya maka harus ada kesepakatan diantara dua belah pihak untuk menghindari adanya persengketan dan dengan catatan barang tersebut masih utuh seperti semula dengan begitu persoalan tersebut bisa dikatakan selesai. Dan seumpama ternyata barang tersebut rusak  dan dalam keadaan sudah berganti kepemilikan maka orang tersebut harus tetal menggantinya dengan barang yang sama atau bisa juga berupa uang sesuai harga barang temuan tersebut.

           Lalu apa kesinambungan hidist diatas dengan modal? Kesinambungan hadist tersebut sangatlah jelas melihat dari pengertian modal itu sendiri karena modal itu sendiri mempunyai uang atau pun barang sebagai alat dimana kita bisa melakukan transaksi jual beli maupun berbisnis.

            Nah...dari situ kita bisa menarik kesimpulan bahwasannya  kita  dapat mengetahui bahwa dilarangnya mencari modal yang dapat merugikan orang lain ataupun menggunakan modal dengan ketidak jelasan status hukum tersebut.karena hukum jual beli tersebut haram.sedangkan status haram itu sendiri apabila kita tetap melalukannya kita mendapatkan dosa dan .dan jika kita meninggalkannya kita mendapat kan pahala.nah dari pahala tersebutlah ketentraman maupun keberkahan hidup akan secara tidak langsung mengalir pada kehidupan kita.

              Nah dari semua penjalasan diatas dapat kita simpulkan bahwasannya tidak diperbolehkan atau haram melakukan transaksi yang tidak memiliki status kepemilikan harta.dan juga tidak bolehnya mengambil keuntungan yang malah akan merugikan orang lain.Dan disitu juga menjelaskan diperbolehkannya memiliki barang temuan sesuai ketentuan syariah islam.seperti mencapainya satu tahun.namun tidak adanya yang mengambil atau mengakui kepemilikan tersebur.

DAFTAR PUSTAKA

  • Effendi Rustam.2003.Produksi dalam islam.Yogyakarta.Magistra insania press
  • Syafi'i Rahmat.2001.fiqih muamalah.Bandung.Pustaka setia
  • Rozalinda.2017.Ekonomi islama teori dan aplikasinya pada aktivitas ekonomi.Depok.PT Raja Grafindo persada.