Mohon tunggu...
Lukas Benevides
Lukas Benevides Mohon Tunggu... Pengajar Filsafat

Saya, Lukas Benevides, lahir di Mantane pada 1990. Saya menamatkan Sarjana Filsafat dan Teologi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Juni 2016. Pada Agustus 2017-Juni 2018 saya kembali mengambil Program Bakaloreat Teologi di Kampus yang sama. Sejak Januari 2019 saya mengajar di Pra-Novisiat Claret Kupang, NTT. Selain itu, saya aktif menulis di harian lokal seperti Pos Kupang, Victory News, dan Flores Pos

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Labeling" Orang NTT

28 September 2020   10:48 Diperbarui: 28 September 2020   10:55 142 6 1 Mohon Tunggu...

Bercerita tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah pekerjaan, kewajiban, dan atau hobi yang tak pernah berkesudahan, tetapi juga selalu menarik. Memukaunya tidak hanya karena potensi NTT memikat lirikan mata nasional dan internasional, tetapi juga cibiran merendahkan turut melantun di balik syair pujian.

Pesona NTT justru berkutub paradoks, hibrid, dan berkelas ekstrim, berada di ujung positif sekaligus negatif. Mulai dari lebih banyak batu daripada tanah dan air, lumbung kemiskinan, provinsi tertinggal, kontributor 'kebodohan' berskala nasional, kantong pemalas, penipu, masa bodoh, tidak tertib, gemar berkelahi massal, cermin kesetiaan, hitam manis, cantik alami, gudang penyanyi berbakat, kaya budaya, paling toleran, jujur, hingga surga yang lama menghilang. Masih terdapat banyak predikat yang bisa disematkan. Pendek kata NTT itu aduh 'pukul testa', juga aduh 'terperangah'. Kita memiliki 'wow-wow' histeris.

Hampir 6 tahun berkelana di tanah Jawa, bertemu sapa dengan teman-teman Jawa dan luar Jawa non-NTT, kesan dominan dan seolah 'khas' untuk kita NTT yang terlontar dari tutur kata dan laku mereka adalah kasar-keras kepala (kepala batu), tetapi jujur-transparan. Pelabelan ini bisa saja salah, tetapi bukan di sini letak pentingnya. Ketidakjelasan etiologi produksi predikat ini menihilkan diskursus mengenai kebenaran genealogis makna. Penelusuran genealogis pada akhrinya hanya menuai fiksi.

Yang menarik adalah cap tak bertuan di atas beresonansi di dalam ruang relasi makro dan mikro kita tanpa disensor. Bahkan tampan berkelas mahasiswa dan birokrat mengamini dan menelan label 'kasar-kepala batu dan jujur-transparan' dengan bangga. 

Ikut tawuran, berkelahi dengan keterampilan mengeroyok, berkendaraan tanpa mematuhi protokol lalu lintas apalagi protokol kesehatan, berkemah di balik jerusi besi Lapas, dan pembangkangan akrobatik lain, kita anggap adalah NTT. Maka tidak bermasalah dalam segala aspek bagi kita. Fondasi identitas kita malah semakin kokoh dibangun dengan anarkisme kecil-kecilan.

Sebaliknya kita juga mengiyakan sanjungan orang NTT itu jujur-transparan. Orang muda biasanya doyan dengan kualitas tempelan ini. Tidak lupa dan bahkan menjadi lirik andalan untuk memahat cinta di hati gadis dan pria non-NTT. 

Senyuman seram kita pun menyejukan hati orang luar karena diyakini isinya adalah hati yang tidak mendua, mentiga, dan silahkan menambahkan sendiri. Suara bernada tinggi dipandang nyanyian kebahagiaan. Wajah karang kita adalah cermin lelaki pekerja keras yang sepikir, sehati, seucap, dan setindak. Maka, aksi sengkarut apapun permisif saja.

Intrik beresiko

Sanjungan dan hujatan di atas tidak "totally" benar, tetapi bisa perlahan berevolusi menjadi "ideal types" amatiran yang menakar kiblat kita di dalam domain pendidikan, ekonomi, budaya, birokrasi, apalagi politik. Sosiolog Max Weber mengonsepsikan 'ideal types' sebagai konstruksi teoritis yang diabstraksikan dan dirangkum dari gema fenomena sosial tertentu yang berpretensi sebagai realitas sosial, tetapi bukan kebenaran korespondensi (1978).

Bahaya 'ideal types' adalah terlanjur diaminkan tanpa penelitian rigid berbasis konteks zaman yang selalu dinamis. Siapa yang bisa membuktikan salah karakter 'kasar-kepala batu dan jujur-transparan' orang NTT? Siapa juga yang mampu membuktikan benar atribut 'kasar-kepala batu dan jujur-transparan' orang NTT?

'Ideal types' adalah instrik beresiko. Seolah ia menguntungkan kita karena menyokong psikologi kita degan vitamin "self-esteem", melegitimasi gelagat kita entah khaos entah ordik, padahal skenario taktisnya menggiring kita ke jurang tragedi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x