Mohon tunggu...
Dewi Ailam
Dewi Ailam Mohon Tunggu... Seorang pengagum dunia seputar Al-Qur'an, lulusan Ushuluddin asal Jatim. Salam Literasi!

لاحول ولا قوة الا بالله

Selanjutnya

Tutup

Viral Pilihan

Menyoal "Suara Suami adalah Suara Tuhan"

11 April 2021   01:06 Diperbarui: 12 April 2021   18:15 171 7 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyoal "Suara Suami adalah Suara Tuhan"
Ilustrasi: Pixabay

Menyoal suara tuhan, sebenarnya terserah anggapan kalian saja, yang terpenting adalah sebelum keagamaan terdapat kemanusiaan. Sederhananya, jika dari kacamata manusia (negara) sudah keliru apalagi agama.

Beberapa hari ke belakang beberapa media menyoal mengenai perkara “suara suami adalah suara tuhan”, kalimat yang terlontar dari seorang famous yang kalian tau sendiri siapa. Dengan redaksi lengkapnya begini, “Kalau udah berkeluarga, aku udah kepala keluarga, kamu jangan kayak kita pas masih tunangan. Izin suami, suara suami adalah suara dari Tuhan. Jadi kalau aku nggak izinin ini ini, kamu harus nurut, gabisa kayak sebelumnya.”

Nah sampai sini mungkin betul ya bahwa laki-laki dalam ranah rumah tangga adalah kepalanya. Dan bahwa istri harus memegang izin suami untuk melakukan ini-itu. Tapi bukan berarti tidak berlaku pada suami juga nih, suami juga harus minta pendapat istri dalam mempertimbangkan layaknya presiden yang mendengarkan keluhan rakyat, atau rektor yang mendengar keluhan mahasiswa. Ketika presiden dan rektor berfatwa ada kemungkinan tidak didengar rakyat dan mahasiswanya, begitu juga sebaliknya. Tapi, ada indikasi kehilangan keharmonisan deh. Naudzubillah

Kemudian, lanjut kepada kalimat setelahnya yang menjadi kritik hingga kecaman orang banyak berikut:

Karena istilahnya hidup kamu udah diserahkan ke laki-laki yang bertanggung jawab atas kamu. Gabisa ada perdebatan soal-soal kayak gini kayak gitu, kayak kita pas jadi tunangan.”

Betul juga bahwa laki-laki bertanggung-jawab atas perempuan dalam pemenuhan sandang, pangan dan papannya. Yang melingkupi hidupnya. Logisnya, selama istri masih menikmati pemenuhan hak tersebut, istri berkewajiban memenuhi kebutuhan seksual suaminya (asalkan tanpa paksaan).

Tapi sampai situ saja, selanjutnya yaitu tanggapan dari Komnas Perempuan yang prihatin dan kecewa sebab pernyataan patriarkis dan menjadikan pernikahan menjadi media untuk melanggengkan bentuk-bentuk ketidak-adilan gender. Begini tuturnya, “Perempuan yang berstatus istri jadi kehilangan hak untuk ikut menentukan dan memutuskan rumah tangga seperti apa yang akan dibangun. Seperti keinginan memiliki 15 anak, sudahkah hal ini disepakati istri? Perempuan tidak bisa diposisikan sebagai ‘pabrik anak’ saja. Tapi juga memiliki hak untuk menentukan.”

Kemudian persoalan suara suami adalah suara tuhan. Nah, tuhan darimana? Ini benar-benar tidak bisa disamakan dengan Tuhan yang kita sembah tentunya. Sebenarnya, dibawa santai saja. Selama suami masih memuliakan istrinya layaknya Sayyidina Ali kepada Sayyidati Fatimah dan selama istri ikhlas patuh dan tidak keberatan (tanpa paksaan) layaknya Sayyidati Hajar kepada Sayyidina Ibrahim maka semuanya akan baik-baik saja. 

Hal ini sebenarnya merupakan salah satu bukti bahwa sosial-budaya dipengaruhi oleh teks keagamaan  yang membentuk persepsi seseorang. Dari berbagai macam literatur islam bernuansa fiqh pun terdapat fatwa-fatwa ulama’ yang dominan pada suami, memposisikan kuasa penuh atasnya, menjadikannya superior. Tetapi, sebenarnya telah diimbangi juga dengan persyaratan-persyaratan yang disepakati ahli fuqaha’. Tinggal bagaimana pembaca budiman menjadikannya bijak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x